Posted by: Snowie on: September 9, 2009
Di sini tinggal dimana? penjaga toko itu bertanya padaku.
Di daerah Pariaman selatan.
Tinggal sama siapa? Kos?
Bukan. saya tinggal sama orang tua.
Lho, jadi orang asli sini?
Iya… ^-^;;
…
***
Anda tau pembaca, kenapa ada dialog seperti itu? Ditambah lagi, dialog serupa terjadi tidak hanya sekali tapi hampir terjadi di setiap kali saya berinteraksi dengan masyarakat minang,– terutama tempat saya tinggal sekarang— sampai saat ini. Gak ada diantara mereka yang mengira kalo saya ini asli orang minang untuk pertama kalinya. Dan kalopun saya ngaku sebagai orang minang asli, mereka gak mau percaya begitu saja. Pikiran mereka seolah-olah mengatakan kalo saya ini cuma ngaku-ngaku aja.
Anda mau tahu apa penyebabnya? Gak lain dan tidak bukan itu semua dikarenakan logat dan bahasa yang saya gunakan. Iya. saya memang menggunakan bahasa Indonesia setiap kali berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan saya yang notabene-nya mayoritas masih asli orang minang. Baik ketika saya menemani bunda belanja di pasar atau toko, waktu saya nyervise motor ke bengkel, waktu beli tiket travel atau tempat-tempat umum lainnya yang memungkinkan untuk adanya komunikasi interperson.
Pernah suatu ketika, waktu nyervis motor, sang teknisi komentar, “kenapa gak mulai dari sekarang aja ngomong bahasa Minangnya? Saya mau kok jadi teman ngobrolnya.” Mendengar itu, saya basa-basi mengiyakan. Ya gak mungkinlah, secara gitu loh, saya nyervis motor kesana paling sering 3 bulan sekali.
Saya juga udah usaha minta agar teman-teman setempat kerja untuk ngajak saya ngomong pake bahasa minang. Tapi hasilnya? mereka yang kalah tangguh. Mungkin karena setiap kali mereka ngomong pake bahasa Minang, saya responnya tetep bahasa Indonesia, lama-lama malah mereka yang akhirnya kebawa-bawa pake bahasa Indonesia. Dan gagal-lah privat bahasa minang saya.
Pertanyaanya, kenapa saya menggunakan bahasa Indonesia dan gak punya logat khas minang?
Itu karena saya memang gak besar di ranah minang. Sedari bayi hingga kelas satu SMA, saya tinggal di daerah Rengat-Riau. Di sana penduduknya sangat beragam, Ada orang minang, jawa, batak, palembang, china dan melayu. Untuk menjembatani perbedaan budaya itu, kami menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, kebetulan daerah tempat saya tinggal kebanyakan dihuni orang jawa, jadi rata-rata teman main saya itu ya orang jawa. Makanya saya lumayan ngerti bahasa jawa, tapi bukan jawa halus. Saya juga dulu biasa manggil Kang dan Yuk ke orang-orang yang lebih tua dari saya.
Sayangnya, selain orang tua saya, saya gak punya teman dekat yang turunan minang di sana. Jadi, di rumah, saya biasa bi-lingual kalo berkomunikasi dengan ortu. Ayah dan bunda saya ngomong minang, saya jawabnya pake bahasa Indonesia (sampai sekarang juga masih). Jadi sudah merupakan kebiasaan bagi saya untuk menggunakan bahasa Indonesia untuk merespon pembicaraan walaupun lawan bicara saya menggunakan bahasa minang.
Kemudian harus saya akui, walau udah sekitar lebih dari 8 tahun kembali ke Minang, saya masih belum fasih bercakap minang. (Tapi jangan salah, saya sangat paham dengan bahasa minang. Boleh di uji. tapi walau agak kesulitan dalam memahami bahasa tulisannya). ![]()
Ya itu tadi, karena saya udah sangat biasa merespon bahasa minang ke bahasa Indonesia. Dan kadang saya nggak ngerasa ada perbedaan bahasa. Keluarga pun tidak mempermasalahkan itu.
.
.
.
Tapi, kebiasaan itu menjadi masalah saat saya berinteraksi dengan masyarakat umum, mereka yang berasal dari berbagai kalangan. Bukan lagi hanya mereka-mereka yang berasal dari kalangan akademik, yang mana memang biasa berbahasa Indonesia walau dalam lingkungan masyarakat minang, sehingga mereka tidak ada yang mempermasalahkan ke-bahasa indonesia-an saya. Somehow, masyarakat minang kebanyakan gak mau terima kalo ada yang ngaku orang minang tapi gak punya logat minang.
Bahkan ada murid saya yang protes saat dengar saya sesekali mengucapkan bahasa minang waktu mengajar. Mereka bilang kalo bahasa minang saya aneh kedengarannya. Dan mereka meminta saya untuk gak usah memaksakan diri pake bahasa minang. Cukup ngomong pake bahasa English Indonesia aja ke mereka. *sigh*
Celakanya, dulu, waktu saya pergi liburan ke Bandung, dan menggunjungi Palasari, kebetulan ternyata ada beberapa dari bapak-bapak penjaga toko itu orang minang. Salah satunya bertanya pada saya, saya orang mana, dan saat saya bilang saya orang minang, mereka kayak gak percaya gitu. Dan dengan susah payah saya menjelaskan kalo saya ini MEMANG orang minang. Tapi, dari ekspresi wajah mereka, menunjukkan kalo mereka tetap meragukan itu. Arrrggghhh… memalukan! Saya ngerasa kayak anak Ilang.
Kadang capek juga setiap kali harus meyakinkan orang-orang kalo saya ini memang orang minang. Sementara ciri khas orang minang saya gak punya. Yakni logatnya. Orang selain minang, sekeras apapun mereka berusaha, kalo ngomong bahasa minang, akan tetap terdengar lain dengan yang asli minang, dan saya tau itu. Ada kalanya ingin cuex aja, tapi hati nurani gak bisa tinggal diam kalo mengetahui ada orang lain yang mengira saya bukan orang minang.
Biarbagai manapun, saya ini orang minang dan bangga sebagai orang minang. Saya pernah mengeluhkan hal ini pada bunda, beliau malah bilang (dengan terjemahan versi saya
) “makanya, mulai sekarang belajar ngomong pake bahasa minang dong jangan pake bahasa Indonesia terus…” Lha, gemana bisa. Wong setiap ngomong minang para pendengar gali-gali talingonyo mandanga awak babahaso minang. Cape deh.
Sayangnya saya ini orangnya agak sedikit introvert. Mayoritas sosialisasi yang saya lakukan dengan orang banyak ya hanya waktu di tempat kerja, (itupun seperlunya saja) dan sekali-kali ke tempat umum seperti yang saya ceritakan di atas tadi. Nah, pada saat itulah saya batu merasakan betapa payahnya bahasa Minang saya.
Tapi, saya memang orang minang ASLI.
In other words, Awak lai asli urang minang.
Posted by: Snowie on: September 3, 2009
Well, okay. I should write this right away. You know, before I’m changing mood.
Change one thing, change every thing.
~ the butterfly effect
For one reason, I visited one of the original CD’s rental in my town. I was looking for a film to rent when I saw CD’s cover entitled “The butterfly effect”. I was quite confuse about the tittle. What does it mean? What is the butterfly effect, actually? Did I ever heard or seen this term, before? Eventhough I didn’t understand about the title, but something made me to take it. Yeah, I don’t know what it is, but my intuition told me that is a good film to watch.
Enough with the english. Now, I’m gonna tell you about the movie in Indonesian. Here we go. So, watch it carefully
Ceritanya dimulai dengan seorang pria yang seperti sedang dikejar-kejar sesuatu. Ia memasuki sebuah ruangan, lalu mengunci ruangan tersebut dari dalam, dan pergi ke bawah meja untuk menuliskan sesuatu yang seperti jurnal atau pesan di sebuah kertas.
Kemudian cerita kembali ke masa 13 tahun kebelakang, dimana sang tokoh yang bernama Evan masih berumur 7 tahun dan mengalami sebuah penyakit “gangguan otak” yang mengakibatkan ia memiliki “lubang” pada ingatannya. Disanalah semuanya dimulai. Satu kejadian buruk mengakibatkan hal buruk lainnya terjadi hingga 6 kemudian, sebuah kecelakaan peledakan BOM membuat Lenny, salah satu teman Evan mengalami gannguan mental. Setelah itu masuk ke cerita 7 tahun berikutnya, Evan membaca kembali jurnal-nya dibagian yang mana ingatannya “kosong”. Tindakan itu membawa ingatannya kembali kepada masa tersebut dan ia meraih kembali ingatannya yang hilang. Tapi, ada sebuah perbedaan, saat ia kembali mengingat masa lalunya, ia bisa merubah kejadian itu di satu titik tertentu.
.
.
.
dan di sanalah masalahnya. Setiap ia merubah satu kejadian di masa lalunya untuk menyelamatkan sesuatu, maka pada hasilnya, sedikit perubahan yang dilakukannya mengakibatkan perubahan banyak hal di kemudian hari.
.
.
Well, I don’t want to tell you more about the story line, I’ll straight to what I got after watching that movie. Ya, ini tentang sebuah kejadian kecil di satu masa sangat menentukan kejadian di masa berikutnya. dan pengetahuan ini menyengat kesadaranku. Aku tidak bisa menghentikan kepalaku untuk berfikir tentang teori relatifitas quantum. Tentu saja sejauh yang aku pahami. Ah, entah kenapa aku mulai tidak meyukai menggunakan istilah fisika untuk tulisan seringan ini. but, what can I do to help it?
Jadi begini, hidup kita ini ternyata memiliki jutaan kemungkinan. Setiap kita melangkah terbentang jutaan (lebay) kemungkinan jalan hidup. Setiap langkah atau tindakan kita akan mengarahkan pada satu cerita hidup tersendiri. Di satu sisi memperlebar jalan untuk satuhal, sekaligus menutup jalan untuk kemungkinan hal yang lain. Bila seandainya saja bisa kita merubah apa yang sudah dilakukan pada masa lalu, maka satu perubahan kecil akan mengakibatkan berubahan besar dimasa yang akan datang, namun dengan konsekwensi yang mungkin tidak dapat kita perkirakan.
lalu, dimana pentingnya? bukankah kita memang tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi? Benar. tapi kita bisa “sedikit” berperan untuk masa depan kita sendiri. Karena apapun yang kita lakukan hari ini, akan memiliki andil untuk cerita masa depan kita nanti. (ngomong-ngomong jadi ingat lagu kisah klasik untuk masa depan-nya Sheila on 7.
)
Yah. Aku telah memikirkan kemungkinan ini. Terutama mengenai hidupku sendiri dan beberapa orang terdekatku. Aku mencoba menganalisis beberapa hal yang telah terjadi dalam hidupku, dan memikirkan kemungkinan perubahan keadaan yang akan terjadi kalo seandainya saja ada beberapa hal-hal tertentu yang terjadi tidak seperti yang sudah berlalu. Dengan demikian. dengan apa yang ada saat ini, aku mulai mempertimbangkan langkahku untuk yang kedepannya. Aku mencoba dengan sadar untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan atau tidak aku lakukan.
Contoh kecilnya saja, satu pilihan makanan yang aku makan hari ini, akan mengakibatkan satu kondisi kesehatanku dimasa yang akan datang. Pilihan buku yang aku baca atau film yang kusaksikan hari ini, akan mempengaruhi jalan hidupku untuk masa yang akan datang. Satu tindakan kecil terhadap seseorang hari ini, juga akan memiliki andil dalam pembentukan “cerita” hidupku pada masa yang akan datang.
Tentu saja ada banyak contoh lain yang bisa diambil. Tapi semua itu mengacu pada pernyataan bahwa;
Tindakan apapun yang kita lakukan hari ini, akan menentukan bagaimana hidup kita dimasa yang akan datang.
The butterfly effect.
Namun, dengan tidak melupakan satu hal, yaitu keyakinan. Keyakinan bahwa pada dasarnya, diantara banyaknya pilihan, Tuhan telah “menunjukkan” jalan yang terbaik buat kita tempuh. Tapi, pada akhirnya, Tuhan juga memberikan kebebasan pada kita semua untuk memilih jalan-jalan yang lain. Namun, jangan salahkan Tuhan, saat kita memilih jalan lain tersebut, hal-hal tidak berjalan dengan memuaskan. Atau setidaknya, kita tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam pilihan kita itu dengan sempurna.
Satu hal lagi, kita juga harus mengetahui kunci kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Dan mulailah melangkah dari sana. kenali diri mu maka kau akan kenali Tuhan mu.
Satu pesanku, tentukanlah jalanmu. Melangkahlah dari sana, dan jangan menyesal. Karena apapun yang kau lakukan dalam hidupmu, itu karena kau telah memilihnya begitu.
Posted by: Snowie on: August 31, 2009
Been dealing with my old English song’s MP3 files in computer for hours, my head was getting heavier and throbbed. (~_~”) Well, as a matter of fact I was trying to reorganise those files. Many of them just contained the name of singer without the tittle of song or vice versa, had tittle but no singer’s name. I tried to hear them one by one in order to recognise those songs then finally completed the “identity” of each. but again, much of them have forgotten. (= =)! Well, I feel familiar with the voice and rhythm, BUT I don’t know remember where they belong. Arrggghhhh…. \(*0*)/ I think I need friend to discuss them. Unfortunatelly my fellow friend whom I used to talk about music (because we have the same taste in music choice or at least She knows more than me
) has been far away now. ,Oh, God… I miss my old days as student in University, as English Student….
Thus, to release my tense, I came to the new member of my collections. I just got it few days ago…. and it’s Korean song. Yaaaaay! (^o^)V As a matter, it’s OST of Boys over Flower, the Korean TV Drama. Actually, I got many, but here, I am talking about one I like the most. I really like it. Really really really like it. Everytime I hear it, I become emotionally unbalance. *Love Struck* This track IMHO is supposedly for Ji hoo, the calm cool guy. The story of song really depict Ji hoo sunbae character. If you watch the drama, you’ll know what I mean. *collapse* xD
.
.
.
Actually, I’m crazy about the instrument. The Intro sounds like music-box tone and I like the piano part, of course. It struck my heart deeper when I got the lyrics and its translation in English. This is the site where I took it.
This is the lyrics, both Korean and English.
nae mori-neun nomuna nappaso
no hanabakke nan moreugo
tareun sara-meul bogo-in-neun non
iron nae ma-eumdo moreuget-ji
noye haruwe naran optget-ji
tto chuokjo-cha optget-jiman
noman baraman bogo-in-neun nan
jakku nunmuri heureugoisso
noye dwin moseubeul
po-neungotdoan haengbogiya
ajing naye ma-eu-meul mollado
ggeutnae seu-chideushi gado
niga nomu bogoshipeun naren
nomu kyondigi deun nare-neun
noreul saranghanda ibkae maemdora
honja dashi tto crying for you
honja dashi tto missing you
Baby I love you
I’m waiting for you
noye haruwe nan optget-ji
tto giokjo-cha optget-jiman
noman batraman pogo-in-neun na
honja chuo-geul mandeulgo isso
naegen sarangiran a-reum-da-un sang-chogata
noye yeppeun misoreul bawado
hamkke nan ut-chido mothae
niga nomu saenggang na-neun naren
kaseum shirigo seulpeun nare-neun
niga pogoshipda ibkae maemtora
honja dashi tto crying for you
honja dashi tto missing for you
Baby I love you
I’m waiting for you
Bye bye never say goodbye,
irohke jabji mothajiman, I need you
amu maldo mothae, I want you
baraedo dashi baraedo
niga nomu bogoshipeun naren
nomu kyondigi deun nare-neun
noreul saranghanda ibkae maemdora
honja dashi tto crying for you
niga nomu saenggang na-neun naren
kaseum shirigo seulpeun nare-neun
niga pogoshipda ibkae maemtora
honja dashi tto crying for you
honja dashi tto missing for you
Baby I love you
I’m waiting for you
English version
_________________
I’m really, very foolish
I know of no one other than you
you’re looking at someone else
yet you have no idea of my feeling like this
I won’t in your days
I won’t be in your memories either, however
only you, I looked only at you
and the tears keep coming
As I watch you walking past
I’m still happy
even yet you still don’t know my heart
I should stop this and go
I really want to see the day
I’m withstanding the pain each day
“I love you” is playing on my lips
Alone once again, crying for you
Alone once again, missing for you
Baby I love you
I’m waiting for you
I won’t be in your days
I won’t be remembered either, however
Only you, I looked only at you
I.m making memories alone
Loving you is like having a beautiful wound
I look at your pretty smile also
But I cannot laugh with you
I’m thinking about you so much everyday
My heart is hurthing in all these sad days
“I want to see you” is playing on my lips
Alone once again, crying for you
Alone once again, missing for you
Baby, I’m waiting for you, I love you
Bye bye never say goodbye
Even though I cannot hold you like this
I need you, I cannot say anything more, I want you
I keep on hoping too, I’ll keep hoping…
____________
Well then, What do you think?
Posted by: Snowie on: August 28, 2009
Gak afdol rasanya kalo progress dari kompie kesayanganku ini gak dibuatin laporannya.
Here we go…
.
.
.
Once upon a time, in a bright shiny day, I was trying to turn on my compie. I started with the usual steps. Turned on the stabilizer and then pushed the power button on CPU. Of course I expected to hear the sound of fan turning, but I didn’t. I became wonder what was wrong. I looked at the led of monitor, It was on stand by. I turned the speaker on, yes, it also worked. But, there was no sign from my CPU to run. (temporary conclusion: There was a electric supply for devices, but not enough to make the CPU run -only-. Hmmmm)
I tried to push the power button on the CPU some more times, still no responding. My curiousity getting bigger and bigger and didn’t want to surrender (halah
). I waited for a while with the all stanby devices, then, once again I turned off and on the stabilizer, continued to power button on CPU. It finally worked. Hmmmm…. thanks to Allah.
.
.
.
Unfotunatelly, It didn’t happen once. It also happened for the next time I tried to turn the compie on. The condition almost the same. But, sometimes I heard the fan struggled to swing and there was flash on the optical mouse and some led-light-build on-device before it came to calm again. As I experienced before, it didn’t make me so much worry. but…
I became more and more curious and wondered. something must be wrong inside. I just afraid it will effect the other components. I took my computer’s book entitled “Panduan Praktis Mengatasi Masalah Hardware Komputer.” I took it for sure. Because I believed that the problem was on my hardware not on the software or bios. (my insting said so
)
I opened the book and looked at the content’s page. My eyes catched chapter “motherboard.”
There’s a sub chapter for “sistem motherboard tidak berfungsi”
It said that if your motherboard sistem doesn’t work, this may happen because some things such as;
1. Minus electric suply (pasokan listrik kurang).
There must be some connectors not installed properly as motherboard needed. Make sure that ATX power cable and connector 12V cable installed properly)
(Tidak terpasang semua konektor yang dibutuhkan motherboard. Pastikan kabel power ATX dan kabel konektor 12V telah terpasang dengan benar.)
So, I checked those instruction by opening the CPU cashing. I also took the manual motherboard book to help me found where the “ATX power cable and conektor 12Vcable” take place. After few look, I found no problem with the ATX and 12V cable. I turned the CPU again by letting the chasing still open. The same problem still existed. But I recognized that the led of motherboard on. Well…. It means that there was a electric but it didn’t enough to make my motherboard run properly. (agreement for the temporary conclusion. *smug* )
Then, I moved to the next suspection. “Power Supply chapter.”
Power supply is on low power (Power Supply kurang bertenaga).
I suspect that the problem is caused by power supply. but, I didn’t dare to play with the power supply device. So I finally chose to bring my compie to the expert.
I explained what happened to the technician. I shared what I know and suspect toward my computer problem to them. They told me that they would diagnose the problem to make it sure.
Few days later, I asked the technician about it. He told me that I was right. yeah… The problem was at the power supply and it had to be changed with the new one. When I got the old Power supply and analize it a little, I found that there was a burn on it. I asked the technician about it, he told me that it might cause the problem of power supply, which also caused by electric supply in general. Haaaaaahhhh…..
To be honest, I expected more explanation from him. I do expect to hear some smart clarification. Not only to hear what I had known before. *banyak maunya* *dilempar CPU* xP
.
.
.
Well, in short, kesimpulannya, bagi yang males baca tulisan di atas, masalah komputerku itu terletak di power supply. sedikit nyebelin karna kurangnya penjelasan. tapi begitulah. selesai.
PS
Kadang kupikir anak teknik ini pelit penjelasan.
kalo gak ditanya
Teknisi yang kumaksud adalah teman setempat kerja-ku.
Posted by: Snowie on: July 26, 2009
Grew up in a small town, And when the rain would fall down
I’d just stare out my window, Dreamin’ of what could be
And if I’d end up happy, I would pray
Wanting to belong here,But something felt so wrong here
So I prayed I could break away
I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly
I’ll do what it takes till I touch the sky
And I’ll make a wish, take a chance, make a change, And break away
Out of the darkness and into the sun
But I won’t forget all the ones that I love
I’ll take a risk, take a chance, make a change, and break away
Why do we spend time alone
Why don’t we end nights together
Isn’t it time to come home
I can’t stop the rain from falling
Do what you must do, I can only hope to show
The love I have for you, have for you
Day after day, Time pass away N’ I just can’t get you off my mind
Nobody knows, I hide it inside I keep on searching but I can’t find
The courage to show, To letting you know
And once again I’m thinking about, Taking the easy way out
But if I let you go, I will never know
What my life would be, Holding you close to me
I will go down with this ship
And I won’t put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I’m in love and always will be
Everyone told me to be strong, Hold on and don’t shed a tear
Through the darkness and good times, and the world thought I had it all
But I was waiting for you
I see a light in the sky, Oh, it’s almost blinding me
I can’t believe I’ve been touched by an angel with love
Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new, new sun
A new day has…come
where there was weakness, I found my strength
I have a dream, a song to sing
To help me cope, with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
There’s a hero, If you look inside your heart
You don’t have to be afraid of what you are
There’s an answer, If you reach into your soul
And the sorrow that you know, Will melt away
Lord knows, Dreams are hard to follow
But don’t let anyone, Tear them away
Just Hold on, There will be tomorrow
and In time, You’ll find the way
Yet now Im standing here
My hearts so full, I can’t explain
Seeking faith and speakin words, I never thought I’d say
There can be miracles, When you believe
Though hope is frail, It’s hard to kill
Who knows what miracles You can achieve
When you believe somehow you will
You will when you believe
I want one moment in time, When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time, When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time, I will feel eternity
Where is the moment we needed the most
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue skies fade to grey,
They tell me your passion’s gone away
You’re faking a smile with the coffee to go
You tell me your life’s been way off line
You’re falling to pieces everytime
And I don’t need no carryin’ on
Cause you had a bad day, You’re taking one down,
You sing a sad song just to turn it around
You say you don’t know, You tell me don’t lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day, The camera don’t lie
Well you need a blue sky holiday
Sometimes the system goes on the blink,
And the whole thing turns out wrong
You might not make it back and you know
That you could be well oh that strong, and I’m not wrong
*You’d better not to know the lyrics and I don’t like the lyrics either. It’s kind of sad love song aka broken heart song. But the music is nice ^-^*
Goodbye for now, goodbye for now so long
Goodbye for now (I’m not the type to say I told you so)
Goodbye for now so long (I think the hardest part of holding on is letting go)
when will we sing, a new song, a new song
There’s so many times I’ve let you down
so many times I’ve played around
I tell you now they don’t mean a thing
every place I go I’ll think of You
every song I sing, I sing for you
when I come back I’ll wear you wedding ring
Posted by: Snowie on: July 14, 2009
Baiklah, sebelum kita memulainya, untuk membuat suasana yang pas, mari kita putar Clair de Lune-nya Debussy. (I like this musik xP )
Hari itu, Sabtu 12 Juli, di subuh yang dingin, seseorang mengetuk pintu kamarku, Oh, ternyata itu bundaku. “Nih, ada yang nelpon” katanya. (ternyata handphone ku tinggal di ruang tengah saudara-saudara) akupun menjawab telepon tersebut dengan kondisi sebagaimana orang yang baru saja bangun tidur, menjawab telpon sambil berusaha mengumpulkan nyawa. ![]()
“nnngg, ya…, siapa nih? Tumben telpon pagi-pagi?
Apa? Jalan-jalan? Ke mana? Jam berapa? Oh, iya.baiklah. Aku ikuuuuuttt!!!!”
.
.
.
Kami berangkat dari Pariaman sekitar jam 6.45 pm menuju kota Bukittinggi. Berhubung hari itu ternyata malam minggu, kami kesulitan menemukan penginapan yang kosong karena tidak reservasi sebelumnya. Semua penginapan yang berada di pusat kota Bukittinggi sudah terisi penuh. Kalaupun ada yang kosong jumlah kamarnya tidak mencukupi untuk kami tempati. Secara kami rombongan.
Setelah berputar-putar sekian lama, akhirnya mobil kami berhenti di salah satu Hotel dan berasil untuk mendapatkan penginapan. Sebut saja hotel V. Saat itu sekitar pukul 10 malam.
Walaupun di plang nama tertulis HOTEL, tapi anda jangan berfikir kalo suasananya bakal semewah yang bisa dibayangkan. Hotelnya berbentuk rumah yang mana lantai 3 sebagai lantai tertinggi. Setelah melewati ruang resepsionis, Anda akan menemukan ruangan cukup luas yang di isi dengan beberapa sofa yang menghadap ke TV, dan dibelakangnya terlihat dapur. Selanjutnya, ada sekitar 2 kamar tidur yang teletak di samping kiri kanan ruang TV tadi. Di muka salah satu kamarnya ada terdapat kolam hias.
Karena memang ini adalah pertama kalinya saya nginap di Hotel, jadi saya tidak mengharapkan sesuatu yang lebih. Saya hanya berfikir bagaimana bisa mendapat penginapan yang nyaman dan tidur dengan tenang. Itu sudah cukup (Toh, saya dibayarin xP ) Saya mendapat kamar di lantai 3 bersama beberapa orang teman. Setelah selesai berbenah, saya merasa haus. Saya keluar bersama seorang gadis kecil yang biasa dipanggil “kakak”, yang juga ikut dalam rombongan, untuk mencari minum. Setiba di laintai 2 saya melihat seseorang yang dari gelagatnya merupakan penghuni tetap hotel, dan sayapun menanyakan padanya bagaimana caranya untuk saya bisa mendapatkan segelas air putih. Ia mengatakan bahwa itu termasuk layanan kamar dan sayapun diminta untuk menunggu saja di kamar.
Setelah sekian lama menunggu, yang diminta pun tak kunjung tiba, akhirnya saya memutuskan untuk kembali turun dan mengambil langsung minuman itu. Kali ini saya ditemani oleh –sebut saja– Uni Rita. Saat itu sekitar jam 11 malam. Ruangan di luar sudah sangat sepi. Yang terdengar hanya bunyi suara tipi yang masih memutarkan berita seputar meninggalnya Michael Jackson di ruang duduk. Di sana kami hanya menemukan seorang wanita setengah baya yang tampak kurus dan menderita sedang menyaksikan tayangan TV tersebut. Karena tidak ada pilihan lain, sayapun kembali menayakan perihal air minum. Dengan sangat kesusahan ia bangkit berdiri. Tubuhnya terlihat sulit digerakkan. Ia menggigit bibir bawahnya saat sedang berusaha berdiri. Melihat itu saya jadi berfikir, apakah ibu ini kena serangan struk ya? tapi kenapa malam-malam begini masih menonoton TV? sendiri lagi. Sebenarnya tidak tega melihatnya, tapi kami tidak punya pilihan lain. Akhirnya dengan susah payah beliau berhasil mengeluarkan dua buah gelas dari dalam lemari. Saya pikir, dengan gelas ditangan itu saja sudah cukup, maka saya berinisiatif dengan mengatakan bahwa kami akan menuangkannya air minum kami sendiri.
Saat beranjak dari ruangan tersebut menuju ke kamar, saya sempat berbisik pada Uni Rita.
“Ni, bikin cerita yuk. bagaimana kalo kita membayangkan kita menginap di hotel berhantu dan…”
“Hus, jangan ngomong sembarangan”
“Ah, Uni. Kan seru. kayak yang di pilem-pilem”
.
.
Tapi, berhubung yang diajak ngobrol terlihat tidak senang bercampur sedikit takut, sayapun menutup mulut dan kembali ke kamar dalam diam. Sementara perasaan saya mengatakan suasanan hotel tempat kami menginap benar-benar bisa digunakan sebagai seting cerita penginapan berhantu, ditambah lagi dengan penampakan ibu barusan. Pokoknya cocok. Dan biasanya, saya memiliki feeling yang jitu.
Setibanya di kamar, kami ngobrol sembari menunggu mata mengantuk. Sayang, ketika obrolan berakhir saya tak jua merasakan kantuk. Akhirnya saya memilih fesbukan sebentar. Sekitar jam 1 dini hari baru saya mulai bisa memejamkan mata. Di luar terdengar suara anjing melolong.
***

Jam Gadang Bukittinggi-SumBar
Pada hari Seninnya, hari pertama tahun ajaran baru. Sehari setelah kembali ke Pariaman.Saya berbagi cerita pada salah seorang teman tentang pengalaman saya menginap di holel tersebut. Awalnya hanya cerita bagaimana akhirnya saya bisa juga merasakan liburan yang sesungguhnya. Saat Saya mengatakan di mana kami menginap dan diapun berseru.
“Apa! di holel V? Ah, itu gak Ok.”
“kenapa?” saya balas bertanya.
“Ah, kakak nggak tau. Kalo Ila, nggak bakal mau nginap di sana. Biarlah Ila tidur di mobil di depan Jam gadang dari pada harus nginap di sana.”
“memangnya kenapa? tempatnya gak jelek banget kok. Lumayanlah…”
“Kakak ngak tau sih. Tempat itu kan angker. Tempat pembunuhan itu di sana. Dulunya, tempat itu kan rumah. Satu keluarga dibunuh semua oleh perampok. Tapi, ada satu anak yang nggak sampai mati. Dia yang cerita ke orang-orang. Setelah kejadian itu, nggak ada lagi yang tinggal di sana. Akhirnya sekarang dirubah jadi hotel. Teman-teman Ila yang kosnya deket sana sering lihat penampakan anak-anak kecil heboh lari-lari di rumah itu. Padahal kan sebenarnya rumah itu sepi.”
“WHATTTT! PEMBUNUHAN!? HANTU!!!!?? Oh”
“Iya. mana mau orang nginap di sana. Coba perhatikan siapa saja yang nginap di situ selain kakak dan rombongan, ada gak?”
“entahlah, tapi emang, paginya kakak nggak ngelihat banyak orang. kalopun ada mereka sepertinya bukan tamu.” Saya berujar sambil menahan ngeri di hati.
“Ha, tu khan. Orang semua udah pada tau. Di sana kawasan angker.”
“hooo, pantes. sepi. Heran juga sih kenapa kami bisa menemukan penginapan yang banyak kamar kosongnya sementara di tempat lain pada penuh semua.” (sikap cuek saya yang kebangetan itu berguna di sini)
“kakak ada ngelihat hal-hal nggak biasa nggak di sana?”
“rasanya enggak. Emang sih, ngerasa suasana yang agak gemana waktu malem, tapi kakak mikirnya, mungkin karena kakak aja berlebihan karena suka membayangkan yang aneh-aneh. tapi syukur juga kakak nggak tau. kalo kakak sampe tahu sebelumnya, tapi dengan terpaksa harus nginap di sana juga, bisa-bisa kakak menderita ketakutan.”
***
Yah, begitulah saudara-saudara. Ternyata akhir pekan saya di habiskan dengan bermalam di tempat yang terkenal angker. Sebenarnya Saya agak ngeri kalo diceritakan soal hantu. Walaupun sendirinya juga suka membayangkan yang aneh-aneh.
Teorinya begini, karena hanya dipikirkan, dengan kata lain imajinasi, saya nggak takut. Saya nggak pernah takut dengan apapun yang keluar dari pikiran saya sendiri dan berfikir, “Ah, itu khan cuma khayalan saya saja, dibuat-buat, nggak mungkin nyata.”
Berbeda dengan cerita atau ada seseorang yang bercerita mengenai penampakan roh halus. Ada unsur “kepercayaan” di sana. Percaya bahwa adanya penampakan-penampakan roh halus itu nyata adanya. Itu membuat bulu kuduk saya meremang.
Alasan itu juga, kenapa saya takut sama film horor Indonesia, seperti yang saya bahas [di sini]. Alasannya, cerita horornya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita-cerita yang sering didengar dari mulut ke mulut.
Jadi, intinya,
ada kalanya tidak mengetahui adalah sebuah berkah, dan tahu terlalu banyak bisa jadi bencana.
Setidaknya, karena akhirnya tahu juga dan merasa ketakutan sesudahnya, saya udah jauh dari tempat itu. Kadang, rasa takut itu seperti candu. Memiliki pesona tersendiri. Takut, tapi penasaran juga. Pengen juga. Jadi inget Curiousity kills the Cat-nya Arm.
Dan saya bisa mengerti dengan jelas kasus-kasus pembunuhan oleh para hantu yang terjadi pada pendatang baru yang tidak tahu apa-apa yang di pilem-pilem. Karena tidak tahu, mereka jadi tidak waspada. Ini kontra dengan pernyataan di atas sih. Yang tidak mengetahui adalah sebuah berkah.
Selanjutnya, setiap sisi kehidupan itu berpasangan. Di satu sisi baik, namun di sisi satunya lagi buruk. Di dunia ini sepertinya tidak ada satupun kebenaran yang mutlak untuk menjawab semua kasus yang berbeda, selain Tuhan tentu saja.
Que dites-vous