Horocuxs

Translator

Posted by: Snowie on: November 16, 2009

Menurut anda pembaca, masalah apa yang paling menyulitkan dalam menulis? Bagi saya, masalahnya adalahnya saat saya punya waktu untuk menulis, tapi tidak ada mood, dilain pihak, saat ide membuncah, tapi tidak punya kesempatan dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan….

kemudian, saat saya harus sedikit memaksakan diri untuk menulis, maka hal yang paling bisa saya lakukan adalah menimbulkan mood itu sendiri. Caranya? macam-macam. tergantung tema, tapi yang paling efective bagi saya adalah, memutar MP3 yang tepat…. :mrgreen:

Baiklah, tanpa memperpanjang mukadimah curhat, kita langsung saja ke topik hari ini. Halah. :P

Kali ini saya akan berbaik hati mengabulkan request dari saudara Ando yang kelihatannya penasaran dengan kegiatan saya sebagai traslator pasca gempa yang mengguncang wilayah Sumbar.

Di mulai dengan keterlibatan saya dengan pihak JDR-JICA.

Keterlibatan saya dengan pihak JDR (Japanese Disaster Relief) team sungguh tanpa direncanakan. Hari itu, saat saya datang ke kantor walikota untuk menemui kakak sepupu yang bekerja di sana, secara kebetulan merupakan hari pertama kedatangan pihak JDR ke Pariaman dan mereka sedang mendirikan tenda mereka di lokasi tepat beberapa meter dari tempat saya berada. Dari jauh saya mengamati dengan seksama apa yang mereka lakukan. Melihat itu, sang kakak sepupu komentar, “Ndu, bukannya kamu pengen banget bisa ngobrol sama orang Jepang, nah ini kesempatannya, pergi sana, bantu mereka!”

Setelah sedikit pertimbangan, akhirnya saya memberanikan diri mendekat. Kebetulan, di tim tersebut, translator aslinya baru satu orang dan terlihat sangat kerepotan dalam menghadapi situasi, jadi dengan suka rela saya menawarkan diri untuk membantu. Sebenarnya, itu tindakan nekat, mengingat kemampuan berbicara bahasa Jepang saya sangat minim, belum lagi, bisa dibilang hampir 2 tahun gak dipraktekkan. x(

Tapi, untungnya, saya dibagian uketsuke, menerima pasien, dan kebetulan lagi, format pertanyaannya dalam bahasa Inggris, jadi itu sangat membantu, walaupun rekan jepang saya bertanya dengan versi bahasa jepangnya. :P

Oh iya, hampir lupa, tujuan kedatangan tim JDR adalah untuk memberikan bantuan penanganan medis terhadap korban gempa. Jadi segala sesuatu yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan rumah sakit pada umumnnya. Pasien datang, di registrasi, ketemu dokter, dikasih obat, pulang…. :mrgreen:

Karena hari pertama, anggota serta perlengakapan medisnya belum komplit, tendanya juga baru yang kecil yang di pasang.

Nah, hari kedua, yaitu Minggu tanggal 4 October 2009, semua tim dan perlengakapan sudah sepenuhnya datang. Translator asli juga sudah bertambah menjadi empat orang, dan ditambah saya, anak bawang, jadi lima. :mrgreen:

Mulai hari ini, pekerjaan benar-benar sibuk. Pembagian tempat bagi translator di bagi menjadi tiga tempat utama.

Pertama, jadi uketsuke. Meregistrasi para pasien, nanyain nama, umur, alamat, pengalaman sakit, dan keluhan…
Kedua, pendamping dokter, menterjemah perbincangan antara dokter ke pasien dan vice versa.
Ketiga, di bagian obat. Menterjemahkan cara pemakaian obat kepada pasien.

Posisi yang paling berat itu adalah yang pertama dan kedua. Di posisi pertama, kita harus benar-benar sabar. Terutama kalau pasienya kakek-kakek dan nenek-nenek. Sumpah, repooootttt!Kadang kala sang pasien gak ngerti bagaimana menjawab pertanyaan dengan sebenarnya. Contoh, ada pasien umuran 60-an keatas, datang tanpa pendamping, pas ditanya pernah divaksin atau belum, beliau gak tau, kadang bilang belum, gak lama kemudian bilang sudah. Atau sang kakek punya masalah dengan pendengaran, mesti njerit-njerit nanyanya. Kadang, jawaban gak nyambung dengan pertannyaan. Adalagi pasien lainnya, pas ditanya alamat rumah, malah cerita kalau rumahnya hancur, anaknya banyak dan sebagainya… Kitanya sih paham, cuma orang jepangnya mungkin bingung, mungkin dia mikir, si translator nanya apa ya, kenapa si pasien jawabannya panjang gitu, :P
Padahal, kadang sang pasien cerita sendiri tanpa ditanya. xP

Belum lagi, pasien yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Beneran. Bahkan, ada satu ketika, ketika saya dapat tempat di bagian obat, saya tiba-tiba dipanggil untuk masuk ke ‘ruangan’ dokter, saya heran, ada apa, tenyata, bapak translator aslinya, gak ngerti sang pasien ngomong apa, sementara bapak translator asli datang dari pulau Jawa, dan sang pasien tidak bisa berekspresi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. :P FYI, saat itu, saya satu-satunya relawan translator yang asli dan ngerti minang. :mrgreen:
Juga, karena saya satu-satunya translator cewek, kalo ada penanganan khusus yang agak-agak privat tehadap pasien perempuan, maka dengan ‘terpaksa’ posisi bapak-bapak translator asli yang lain saya ganti sebentar. :mrgreen:

Kalo dibagian sebagai pendamping dokter, kurang lebih juga sama. Bedanya, hanya karena sudah dibagian penanganan, maka lebih banyak melihat “hal-hal yang tidak perlu.” :P Tapi, kadang ada bagusnya juga. Ada seorang pasien dengan keadaan luka yang cukup jelek. Kulitnya dari luar terlihat menghitam dan kotor, jadi sang dokter membersihkan luka tersebut dengan sebersih-bersihnya.
Mau tau caranya? Pertama, luka dibersihkan dengan air steril, airnya disuntikkan kedalam daging yang luka dan kotor, sehingga air tersebut merembes keluar bersama dengan darah dan kotoran yang terselip dibagian dalam kulit. Setelah itu, daging yang menghitam itu dibersihkan dengan sikat seperti sikat gigi. Benar-benar digosok sekuat tenaga untuk menggelupaskan kulit yang busuk! setelah itu, baru dikasih obat dan diperban. hasilnya? Lukanya jadi cantik.
Anak yang menderita
Anda tahu saudara pembaca, saat pertama kali melihat itu, saya sampai mau muntah.Asli, mual. Tapi, saya tahan. Beberapa jam kemudian juga ada pasien yang ditangani serupa, saya gak begitu mual lagi melihatnnya, sudah lumayan tahan, dan…… setelah beberapa kali melihat tindakan kurang lebih sama, akhirnya biasa juga. :mrgreen:

Nah, kalo dibagian obat, ini agak santai. interaksi ‘personal’ dengan para pasien tidak begitu banyak. Tinggal kasih obat, beri tahu cara makannya, udah. Memang, kadang ada juga pasien yang bertanya berulang-ulang terhap penjelasan yang sama. tapi itu jauh lebih baik daripada di bagian uketsuke. :lol:

Secara pribadi, saya merasa sangat sangat senang bisa bekerja membantu para tim JDR tersebut. Walaupun kerjanya dimulai dai jam 8 am sampai 6 pm, dari sabtu ke sabtunya lagi tapi saya senang. Dan untung saja, saat itu sekolah masih libur, jadi tidak mengganggu ‘kerja wajib’ saya. :P Yang jelas, saya jadi tambah pengalaman. Dan yang paling penting, saya punya kesempatan untuk berhari-hari berada di antara orang-orang Jepang.Ok, ini alasan yang agak aneh, tapi bisa dibilang saya ngefans berat sama sesuatu yang berhubungan dengan Jepang. dan saya suka sekali mendengar mereka berbicara. Bunyinya enak di telinga. Walaupun banyak juga kalimat mereka yang gak saya ngerti. (”,)>

Sebaiknya, sampai disana saja cerita tentang JDR, kita lanjut ke MSF (Medicin Sans Frontieres)

Setelah tim JDR berangkat untuk kembali ke Jepang, esoknya, saya tergabung di MSF-Spain. Pada hari selasa tanggal 13 October 2009 ( mengapa MSF Spain? karena para ‘kepala Suhu’nya berasal dari Spanyol. Sementara para staff expat lainnya datang dari berbagai negara, diantaranya, Jepang, Filipina, India, Malaysia, Hongkong juga pernah bergabung, Belanda, Jerman, Amerika dan juga termasuk Indonesia…). Keterlibatan saya dengan MSF tidak lepas dari informasi yang diberikan oleh rekan sekerja yang memberitahukan bahwa pihak MSF S membutuhkan translator dalam bahasa Inggris ke Indonesia.

Berbeda dengan JDR, misi dari MSF lebih luas. Maksudnya, JDR hanya mendirikan “rumah sakit darurat” sekaligus kantor dan hanya bekerja di lokasi yang sama setiap hari. Sedangkan MSF, mereka walaupun memiliki markas yang kami sebut dengan base, tapi pekerjaan utama lebih ke lapangan. MSF S dibagi menjadi 4 tim utama. Tim Medical, (memberikan layanan kesehatan dan obat), Tim Mental Health (memberikan penyuluhan dan kegiatan untuk trauma healing), Tim WatSan (memberikan bantuan menyangkut persediaan air bagi daerah-daerah bencana yang kesulitan air bersih untuk konsumsi), dan Tim Logistik (memberikan bantuan berupa peralatan kebersihan, alat dapur, dan alat tukang untuk membangun rumah).

Karena tim lapangan, maka kami dari kesemua tim tersebut pergi kedaerah-daerah korban gempa. Biarpun begitu, tujuan utama adalah daerah terisolir, daerah yang sulit ditempuh jalur darat terutama menggunakan mobil dan yang juga sangat sedikit mendapat bantuan, karena lokasi mereka tersebut. Kesanalah tujuan kami. Pernah, waktu pergi dengan medical tim untuk assesment, saya sampai harus jalan, buka sepatu demi melewati sungai, dan menempuh jalan berkerikil campur tanah liat, mendaki lagi. kalau boleh digambarkan, kemiringan bukit yang didaki sekitar 75 derajat. Sesampai ke mobil, saya hampir kehabisan nafas.

Pernah juga, saat pergi dengan tim logistik, kami menempuh daerah pebukitan yang diterjang longsor. Di satu sisi tebing bekas longsor, di sisi lain, jurang. Tentu saja daerah itu tidak bisa di tempuh dengan mobil. Akhirnya kami terpaksa memarkir mobil, dan meneruskan perjalanan dengan naik ojek. Itupun sering naik turun dari motor mengingat jalan yang ditempuh benar-benar mengerikan dan berbahaya jika terus menumpang. Untuk amannya ya turun dulu hingga kondisi jalan lebih mendingan.

Tapi, juga pernah, sepulang dari pelayanan medical tim, di sepanjang jalan menuju pulang ke base, jalanan lurus dan datar. Melalui jendela kaca mobil, saya bisa menikmati pemandangan twilight. sunset, langit memerah saat matahari akan tengelam di sisi barat, sementara, pandangan sekitar sudah mulai mengabur, hamparan sawah yang mulai menghitam, pepohonan yang meliuk, bersiluetkan bayangan hitam, anggun menengahi puing-puing rumah yang roboh. Pendar-pendar cahaya lampu dari rumah masyarakat yang sudah mulai dinyalakan.Benar-benar suatu perasaan damai yang aneh.

Adakala, sepulang dari lapangan, hari sudah lewat senja, hujan lagi, langit benar-benar hitam pekat. Belum lagi mendapati kenyataan listrik padam di seluruh pariaman akibat badai kencang. Saya dengan terpaksa menguatkan hati untuk pulang sendiri dengan membawa motor dijalanan yang sepi dan gelap. Benar-benar gelap dan sepi.

Setelah sekian lama pulang malam di hari-hari biasa, baru kali itu saya merasa ketakutan. Bahkan hampir menangis. Bagaimana tidak, walaupun saya sudah sering melewati jalan itu dimalam hari, tapi kali ini suasananya berbeda.

Bayangkan, Jalan aspal mulus lurus terbentang di tengah hamparan sawah luas, tidak ada rumah di sisi kiri kanan jalan, tidak ada pencahayaan sedikitpun disekitaran jalan, hari gerimis dan berangin kencang, jalanan sepi, tidak ada pengendara lain selain saya yang menempuh jalan saat itu. Kadang, petir menyambar, dan kilat berkejaran dari arah depan. Namun, dari arah timur bulan purnama menggantung sempurna. Ditemani kabut tipis yang dengan segera menghilang sesaat saya memandang kearahnya. Aneh bukan? Disaat saya bermandikan gerimis saat berkendara, disisi lain, dari arah timur, saya dapat melihat bulan purnama bulat sempurna menggantung di langit pekat malam.

Seketika, terngiang cerita pengalaman serupa yang dialami oleh salah satu expat asal Jepang beberapa hari sebelumnya. Ketika itu ia sedang bertugas di daerah Afrika, saat itu gempa, hari gerimis, saat ia berusaha menyelamatkan diri keluar rumah, saat ia memandang langit, ia melihat bulan sempurna ditengah gerimis tersebut. Benar-benar suasana yang menciutkan hati, Ingin rasanya berhenti saja dan turun dari motor. tapi, itu sama sakali bukan jalan keluar. Yah, akhirnya setelah ‘menahan hati’ sampai juga kerumah dengan selamat.

Tapi, saya juga pernah menemani HOM ke lapangan depan kantor Bupati untuk mengakses jaringan Internet melalui jaringan wifi. Waktu kami memasuki tenda dengan layanan wifi tersebut, saya hanya melihat tiga orang di sana. Kebetulan salah satunya melihat kearah kedatangan saya, tanpa pikir panjang saya langsung bertanya pada orang tersebut, tapi entah kenapa, setelah berulang ulang menanyakan hal yang sama, dia sama sekali tidak merespon, malah menatap binggung. Mungkin karena ‘keributan’ yang saya buat, orang yang dua lagi akhirnya merespon. Akhirnya entah bagaimana, setelah mendapat kepastian bahwa tempat ini yang kami tuju, dan HOM saya sudah mulai mengakses Internet, saya mendapati diri sudah asik ngobrol dengan orang yang meanatap saya tadi. Namun kali ini pakai bahasa Inggris. Setelah ngobrol beberapa saat, tahulah saya kalau dia itu orang korea. Pantes aja dia nggak ngerespon gitu waktu saya tanya pertama kali. Secara, saya nanyanya pake bahasa Indonesia, dan dia belum begitu paham dengan bahasa Indonesia. :P

After all, saudara-saudara, apa yang paling berkesan mengenai semua ini? Bagi saya,dengan jadi translator untuk mereka, saya jadi mengetahui dan mengalami banyak hal berharga. Memberi akses bagi saya untuk bisa mengunjungi berbagai tempat. Memasuki ruangan “privat” rumah sakit, yang hanya boleh dimasuki oleh “orang-orang dalam”. Mengunjungi wilayah di sekitaran kabupaten Pandang-Pariaman. Tempat yang mungkin tidak akan pernah sempat saya kunjungi jika tidak karena alasan ini. Tempat-tempat yang tidak pernah saya pikirkan keberadaannya sebelumnya.

Kesempatan ini juga membuat saya berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat. Berinteraksi dengan orang-orang berbagai negara. Mengetahui cara berfikir mereka. Karena, selain masalah pekerjaan, ada kalanya kita berbincang mengenai pandangan dan pendapat masing-masing mengenai berbagai hal. Ini bukan hal yang mudah, mengingat sebelumnya saya bukan orang yang suka ‘bergaul’ dengan masyarakat luas. Tapi, dengan ini saya jadi mengerti, hidup bukan hanya soal bagaimana tidak merepotkan orang lain. Tapi juga harus mengerti, bahwa sebagai makhluk sosial, kita juga harus berpandai-pandai menempatkan diri di berbagai kalangan masyarakat yang memiliki berbagai keinginan dan kepentingan.

Selain itu, saya juga jadi sedikit berbagi soal agama dengan mereka. Biar bagaimanapun, dengan penampilan saya, tidak dapat ditolak kemungkinan bahwa mereka, orang-orang asing itu, jadi ingin bertanya satu dua hal, sehingga tak terelakkan perbincangan soal agamapun terjadi. :P
Satu hal, yang paling paling berkesan bagi saya mengenai agama ini. Waktu itu hari terakhir mereka di Pariaman, (JDR team) dan di saat-saat terakhir kebersamaan kami itu, salah seorang anggota tim dari Jepang berkomentar… “Ini bagus…” sambil menyentuh pinggir jilbab saya.
Tahu kah anda kenapa kalimat singkat itu bisa sangat berkesan? karena saya memandangnya bukan hanya sebagai pujian terhadap penampilan jilbab saya. Tapi lebih ke perasaan dihargai dalam agama. Seperti yang saya bilang di atas, satu-satunya orang Indonesia dalam tim tersebut, yang cewek, itu cuma saya, dan Saya memakai jilbab.
__________
P.S

Ternyata saya gak punya gambar orang yang kakinya lengannya sedang di ‘tangani’ jadi sebagai gantinya, gambar itu saja ya. :mrgreen:

Pariaman – Pasca Gempa 7.6SR

Posted by: Snowie on: October 12, 2009

Sejak terjadinya gempa 7.6 SR yang mengguncang kota Padang-Pariaman, Saya banyak mendapat SMS, telpon, dan pesan di fesbuk maupun blog yang bernada khawatir atau bertanya-tanya tentang keadaan saya dan keluarga. Khusus di blog, saya membacanya via News Feed dari Horocuxs (blog saya ini) di HP, jadi saya mohon maaf, kalau ada komen di blog belum sempat saya jawab. u_u
Oleh karena itu, di sini, untuk mengabadikan membagi kenangan itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman semua. Terutama kepada Lumiere, yang paling paling paling paling sangat khawatir. Sampai bela-belain nelpon berkali-kali, nulis di wall-fesbuk, dan SMS ke HP. Lihatkan betapa ia sangat mengkhawatirkan keadaan saya. :mrgreen: Makasi banyak ya sist. You are the best deh pokoknya
.
Juga makasih banyak kepada Desti yang nanyain kabar via SMS, (walaupun kami sama-sama di daerah bencana, masih juga sempat nanyain kabar saya, :P ) Kepada Mas Gentole dan Mas Lambrtz. Asli, saya gak menyangka kalo mereka berdua itu sampe menyempatkan diri kirim pesan di blog untuk sekedar memastikan kalau saya baik-baik saja. xD Kepada mas-mas berdua, terima kasih, saya sangat terharu. Juga kepada Aris dan Rukia via fesbuk, serta Arm via Y!M.

Tapi, Saya yakin masih ada yang bertanya-tanya tentang keadaan saya, walaupun beberapa dari yang tersebut di atas sudah mengetahui detil keadaan saya belakangan. :mrgreen:

Baiklah, saya mohon maaf karena telah membuat saudara-saudara menunggu cukup lama. :P

Waktu itu hari rabu, tanggal 30 September 2009 sekitar jam 5.20 sore. Saya sedang berada di daerah pasar, dekat Pantai Gondoriah- Pariaman ketika gempa berlangsung. Sesaat setelah terjadi gempa saya langsung bawa motor ke arah rumah yang juga berarti menjauh dari tepi pantai. Tapi perlu ditambahkan, saat itu kota pariaman sedang di guyur hujan. Sesampainya di rumah, rumah sudah dalam keadaan sudah kosong. Meskipun demikian, dari depan, saya melihat kalo rumah saya baik-baik saja. Saya coba untuk menghubungi kedua orang tua, tapi tidak berhasil. Alhasil saya memutuskan untuk pergi kerumah saudara yang lain. Saat itu hari masih terang, namun disepanjang perjalanan, saya terkejut melihat betapa banyak bangunan yang hancur. Karena dari arah saya datang pertama kali sampai ke rumah, bisa dibilang saya tidak melihat ada rumah yang roboh. Jadi saya pikir, gempa barusan hanya seperti seperti yang sudah-sudah. Jadi betapa terkejutnya saya ketika tidak beberapa meter jaraknya dari rumah saya berada, hampir 80 persen bangunan rumahnya rusak berat akibat gempa.

Karena saya tidak bertemu mereka di satu-satunya rumah yang mungkin untuk mereka datangi, saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Apapun keadaannya. Dan Seandainya mereka belum kembali, saya sudah bertekat untuk tetap menunggu mereka di rumah, walau harus sendirian. Saat itu sudah lewat magrib, hujan turun sangat deras, dan listrik padam total, kanan kiri banyak rumah hancur, dan beberapa ruas jalan retak. Perjalanan kembali ke rumah benar-benar butuh keberanian extra kalo nggak dibilang nekat bin keras kepala. Belum lagi, badan menggigil kedinginan karena sudah kebasahan hujan dari sore harinya.

Sesampai di jalan depan rumah, saya melihat ada setitik cahaya yang berasal dari lampu emergency dari arah rumah. harapan saya memuncak, dan saat tiba di gerbang rumah, saya melihat bunda sedang menunggu kedatangan saya. Ia terlihat sangat lega sesaat setelah meilhat saya kembali. Kemudian, saat masuk ke dalam, barulah terlihat lantai yang dipenuhi dengan beberapa barang yang sudah hancur berantakan. Tapi Alhamdulillah, untuk benda elektronik semua selamat. Di malam itu, kami sekeluarga masih sempat tidur di dalam rumah, walau harus di ruang tamunya dan dengan keadaan pintu terbuka lebar. Itu masih jauh lebih baik dari pada keadaan para tetangga kami.

Itu tadi cerita tentang di hari kejadian beberapa saat setelah gempa.
.
.
.
Nah, buat teman-teman semua yang ingin tahu keadaan saya pasca gempa, sebenarnya, saya gak sempat On Line lama-lama di Blog dan Y!M, serta jarang up date status di fasbuk, itu karena saya sedang sibuk kerja. Bukan karena sudah jadi korban gempa atau bersedih berlarut-larut karena bencana alam yang menimpa daerah kami. Kalaupun ada hubungannya dengan gempa, ya itu tadi, pekerjaannya.

Jadi begini, mulai dari hari sabtu kemaren dulu, tanggal 3 October, saya sudah tergabung di tim Medical Service dari JDR (Japanese Disaster Relief) – JICA sebagai volunteer penterjemah. Sejak saat itu saya benar-benar sibuk. Kerja, bantuin mereka, dari pagi sampe magrib. Dari sabtu ke sabtunya lagi. gak kenal hari libur. Malemnya, habis Sholat Isya, saya langusng tepar. Tapi, biar begitu, saya sangat senang karena bisa bekerja dengan mereka. Pekerjaan menangani orang sakit jadi begitu menyenangkan. Maksud saya, saya memang gak turun langsung membersihkan luka pasien atau lain-lain, tapi saya cuma ngomong doang. (Secara pertama kali lihat mereka membersihkan luka pasien yang berdarah-darah akibat ketimpa runtuhan rumah, saya sampai hampir muntah).
Saya cuma ndengerin dokter atau perawatnya nayain dan ngomong pake bahasa jepang, trus saya terjemahin ke Pasien pake bahasa Indonesia/minang, begitu sebaliknya, dari pasien ke dokter. Haaah~ pokoknya menenangkan. kalo ada kata-kata yang tidak saya mengerti, saya tinggal minta tolong penterjemah lain yang kebetulan berada di sekitar untuk membantu mengartikan.

Sebelumnya, kalau teman-teman pembaca belum mengetahui, saya sebenarnya sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan jepang. Walaupun saya akui sebelum ini saya tidak begitu banyak membaca mangga jepang kecuali serial detective Conan, Q.E.D, Kindaichi, Detective School dan beberapa komik Serial cantik. Saya juga cuma kenal beberapa judul Dorama jepun. Dan saya hanya mengetahui budaya Jepun lebih banyak lewat NHK. So, sebenarnya, untuk realnya, saya cukup merasa asing dengan orang Jepang.

Kemudian, berada diantara mereka, terlibat secara nyata dengan mereka, (dengan belasan orang-orang asli dari Jepun yang baru pertamanya datang ke Indonesia), mendengarkan mereka berkata-kata, berbicara pada mereka, bahkan juga bercanda dengan mereka di beberapa waktu. Kenyataan itu benar-benar membuat saya senang. walaupun, di beberapa keadaan saya harus berubah jadi manusia super sabar saat menghadapi pasien yang memiliki masalah dan keinginan untuk berobat dengan penyakit agak aneh-aneh (selain yang karena gempa). Tapi, saya jadi tahu, bahwa banyak rakyat Indonesia, terutama masyarakat Pariaman sekitar yang masih minim pendidikannya soal kesehatan. Banyak diatara mereka yang gak tahu, pernah disuntik tetanus sama campak atau belum. Pesan moralnya: Pendidikan di sekolah dasar harus dilengkapi dengan pengetahuan soal Imunisasi dan vaksinasi. dan, lagi, bagi keluarga yang memeiliki anak gak tamat SD perlu dikasi sangsi orang tuanya.

Hikmahnya, saya jadi tahu beberapa hal tentang penyakit dan penanganannya. Saya juga melihat sendiri bagaimana orang-orang jepun itu bekerja menangani pasien. Yang lebih penting lagi, kalo saya sakit, saya bisa menjelaskan gejala-gejalanya dengan bahasa Jepun kalo saya suatu saat sakit dan harus berobat kepada orang Jepun. :mrgreen:

Nah, jadi itu. Saya gak sempat OL bukan karena sedang di rundung kesusahan secara pribadi, hanya sedikit sibuk. Tambahan, setelah saya bandingkan yang di TV dan yang nyata, keadaan kami, masyarakat daerah gempa tidak semuanya dalam keadaan seburuk yang seperti disiarkan oleh beberapa stasiun TV. Banyak juga daerah dan rumah yang selamat dari bencana. So, tidak usah begitu khawatir. Cukup kirimkan saja bantuan buat kami. :mrgreen:

BTW, sesaat setelah saya mempostkan tulisan ini, saya masih akan tetap sibuk. Jadi, maaf, kalo masih juga belum sempat blogwalking, say hello to teman-teman se-blogospere. Tapi kali ini bukan lagi sebagai penterjemah bagi orang-orang Jepun, (karena mereka sudah akan berangkat ke Jepang pada hari Selasa Pagi, tanggal 13 Oct 2009. Minasan, sayonara ne… :cry: ) tapi buat MSF, team medical service dari prancis, tapi dengan menggunakan bahasa Inggtis.

Akhir kata, bagi yang berkenan, saya mohon doanya agar kami, masyarakat di daerah Gempa, cepat kembali pulih kehidupannya, atau mungkin bisa bangkit dan hidup dengan lebih baik lagi kedepannya.. Sehingga tidak perlu lagi, setiap jalan keluar, kejalan-jalan utama, melihat orang-orang asing dari berbagai daerah se Indonesia dan negara se Dunia berseliweran memenuhi jalan-jalan dengan mobil-mobil ber”merek” di kota kecil kami yang damai. You know, somehow, it’s rather depressing to see so much “branded car”, Ambulance, Fire Fighting Car with their sirine and some helicopter flaying around above us with a noisy sound. x(

Sesi penanganan pasien

P.S

Authoritas gambar terletak pada pemilik blog Horocuxs. So that, Gambar gak boleh diunduh tanpa izin. Lebih lengkap baca Discalimer  di samping kanan post atau di sini.

Anda ini orang mana?

Posted by: Snowie on: September 9, 2009

Di sini tinggal dimana? penjaga toko itu bertanya padaku.
Di daerah Pariaman selatan.
Tinggal sama siapa? Kos?
Bukan. saya tinggal sama orang tua.
Lho, jadi orang asli sini?
Iya… ^-^;;

***

Anda tau pembaca, kenapa ada dialog seperti itu? Ditambah lagi, dialog serupa terjadi tidak hanya sekali tapi hampir terjadi di setiap kali saya berinteraksi dengan masyarakat minang,– terutama tempat saya tinggal sekarang— sampai saat ini.  Gak ada diantara mereka yang mengira kalo saya ini asli orang minang untuk pertama kalinya. Dan kalopun saya ngaku sebagai orang minang asli, mereka gak mau percaya begitu saja. Pikiran mereka seolah-olah mengatakan kalo saya ini cuma ngaku-ngaku aja. :-?

Anda mau tahu apa penyebabnya? Gak lain dan tidak bukan itu semua dikarenakan logat dan bahasa yang saya gunakan. Iya. saya memang menggunakan bahasa Indonesia setiap kali berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan saya yang notabene-nya mayoritas masih asli orang minang. Baik ketika saya menemani bunda belanja di pasar atau toko, waktu saya nyervise motor ke bengkel, waktu beli tiket travel atau tempat-tempat umum lainnya yang memungkinkan untuk adanya komunikasi interperson.

Pernah suatu ketika, waktu nyervis motor, sang teknisi komentar, “kenapa gak mulai dari sekarang aja ngomong bahasa Minangnya? Saya mau kok jadi teman ngobrolnya.” Mendengar itu, saya basa-basi mengiyakan. Ya gak mungkinlah, secara gitu loh,  saya nyervis motor kesana paling sering 3 bulan sekali. :lol: Saya juga udah usaha minta agar teman-teman setempat kerja untuk ngajak saya ngomong pake bahasa minang. Tapi hasilnya? mereka yang kalah tangguh. Mungkin karena setiap kali mereka ngomong pake bahasa Minang, saya responnya tetep bahasa Indonesia, lama-lama malah mereka yang akhirnya kebawa-bawa pake bahasa Indonesia. Dan gagal-lah privat bahasa minang saya. :mrgreen:

Pertanyaanya, kenapa saya menggunakan bahasa Indonesia dan gak punya logat khas minang?

Itu karena saya memang gak besar di ranah minang. Sedari bayi hingga kelas satu SMA, saya tinggal di daerah Rengat-Riau. Di sana penduduknya sangat beragam, Ada orang minang, jawa, batak, palembang, china dan melayu. Untuk menjembatani perbedaan budaya itu, kami menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, kebetulan daerah tempat saya tinggal kebanyakan dihuni orang jawa, jadi rata-rata teman main saya itu ya orang jawa. Makanya saya lumayan ngerti bahasa jawa, tapi bukan jawa  halus. Saya juga dulu biasa manggil Kang dan Yuk ke orang-orang yang lebih tua dari saya.

Sayangnya, selain orang tua saya, saya gak punya teman dekat yang turunan minang di sana. Jadi, di rumah, saya biasa bi-lingual kalo berkomunikasi dengan ortu. Ayah dan bunda saya ngomong minang, saya jawabnya pake bahasa Indonesia (sampai sekarang juga masih). Jadi sudah merupakan kebiasaan bagi saya untuk menggunakan bahasa Indonesia untuk merespon pembicaraan walaupun lawan bicara saya menggunakan bahasa minang.

Kemudian harus saya akui, walau udah sekitar lebih dari 8 tahun kembali ke Minang, saya masih belum fasih bercakap minang. (Tapi jangan salah, saya sangat paham dengan bahasa minang. Boleh di uji. tapi walau agak kesulitan dalam memahami bahasa tulisannya). :P
Ya itu tadi, karena saya udah sangat biasa merespon bahasa minang ke bahasa Indonesia. Dan kadang saya nggak ngerasa ada perbedaan bahasa. Keluarga pun tidak mempermasalahkan itu.
.
.
.
Tapi, kebiasaan itu menjadi masalah saat saya berinteraksi dengan masyarakat umum, mereka yang berasal dari berbagai kalangan. Bukan lagi hanya mereka-mereka yang berasal dari kalangan akademik, yang mana memang biasa berbahasa Indonesia walau dalam lingkungan masyarakat minang, sehingga mereka tidak ada yang mempermasalahkan ke-bahasa indonesia-an saya.  Somehow, masyarakat minang kebanyakan gak mau terima kalo ada yang ngaku orang minang tapi gak punya logat minang. :(

Bahkan ada murid saya yang protes saat dengar saya sesekali mengucapkan bahasa minang waktu mengajar. Mereka bilang kalo bahasa minang saya aneh kedengarannya. Dan mereka meminta saya untuk gak usah memaksakan diri pake bahasa minang. Cukup ngomong pake bahasa English Indonesia aja ke mereka. *sigh*

Celakanya, dulu, waktu saya pergi liburan ke Bandung, dan menggunjungi Palasari, kebetulan ternyata ada beberapa dari bapak-bapak penjaga toko itu orang minang. Salah satunya bertanya pada saya, saya orang mana, dan saat saya bilang saya orang minang, mereka kayak gak percaya gitu. Dan dengan susah payah saya menjelaskan kalo saya ini MEMANG orang minang. Tapi, dari ekspresi wajah mereka, menunjukkan kalo mereka tetap meragukan itu. Arrrggghhh… memalukan! Saya ngerasa kayak anak Ilang.

Kadang capek juga setiap kali harus meyakinkan orang-orang kalo saya ini memang orang minang. Sementara ciri khas orang minang saya gak punya. Yakni logatnya. Orang selain minang, sekeras apapun mereka berusaha, kalo ngomong bahasa minang, akan tetap terdengar lain dengan yang asli minang, dan saya tau itu. Ada kalanya ingin cuex aja, tapi hati nurani gak bisa tinggal diam kalo mengetahui ada orang lain yang mengira saya bukan orang minang. :evil:

Biarbagai manapun, saya ini orang minang dan bangga sebagai orang minang. Saya pernah mengeluhkan hal ini pada bunda, beliau malah bilang (dengan terjemahan versi saya :P ) “makanya, mulai sekarang belajar ngomong pake bahasa minang dong jangan pake bahasa Indonesia terus…” Lha, gemana bisa. Wong setiap ngomong minang para pendengar gali-gali talingonyo mandanga awak babahaso minang. Cape deh. :P

Sayangnya saya ini orangnya agak sedikit introvert. Mayoritas sosialisasi yang saya lakukan dengan orang banyak ya hanya waktu di tempat kerja, (itupun seperlunya saja) dan sekali-kali ke tempat umum seperti yang saya ceritakan di atas tadi. Nah, pada saat itulah saya batu merasakan betapa payahnya bahasa Minang saya. :P

Tapi, saya memang orang minang ASLI.
In other words, Awak lai asli urang minang. :mrgreen:

The Butterfly Effect

Posted by: Snowie on: September 3, 2009

Well, okay. I should write this right away. You know, before I’m changing mood.

Change one thing, change every thing.
~ the butterfly effect

For one reason, I visited one of the original CD’s rental in my town. I was looking for a film to rent when I saw CD’s cover entitled “The butterfly effect”. I was quite confuse about the tittle. What does it mean? What is the butterfly effect, actually? Did I ever heard or seen this term, before? Eventhough I didn’t understand about the title, but something made me to take it. Yeah, I don’t know what it is, but my intuition told me that is a good film to watch.

Enough with the english. Now, I’m gonna tell you about the movie in Indonesian. Here we go. So, watch it carefully ;)

Ceritanya dimulai dengan seorang pria yang seperti sedang dikejar-kejar sesuatu. Ia memasuki sebuah ruangan, lalu mengunci ruangan tersebut dari dalam, dan pergi ke bawah meja untuk menuliskan sesuatu yang seperti jurnal atau pesan di sebuah kertas.

Kemudian cerita kembali ke masa 13 tahun kebelakang, dimana sang tokoh yang bernama Evan masih berumur 7 tahun dan mengalami sebuah penyakit “gangguan otak” yang mengakibatkan ia memiliki “lubang” pada ingatannya. Disanalah semuanya dimulai. Satu kejadian buruk mengakibatkan hal buruk lainnya terjadi hingga 6 kemudian, sebuah kecelakaan peledakan BOM membuat Lenny, salah satu teman Evan mengalami gannguan mental. Setelah itu masuk ke cerita 7 tahun berikutnya, Evan membaca kembali jurnal-nya dibagian yang mana ingatannya “kosong”. Tindakan itu membawa ingatannya kembali kepada masa tersebut dan ia meraih kembali ingatannya yang hilang. Tapi, ada sebuah perbedaan, saat ia kembali mengingat masa lalunya, ia bisa merubah kejadian itu di satu titik tertentu.
.
.
.
dan di sanalah masalahnya. Setiap ia merubah satu kejadian di masa lalunya untuk menyelamatkan sesuatu, maka pada hasilnya, sedikit perubahan yang dilakukannya mengakibatkan perubahan banyak hal di kemudian hari.
.
.
Well, I don’t want to tell you more about the story line, I’ll straight to what I got after watching that movie. Ya, ini tentang sebuah kejadian kecil di satu masa sangat menentukan kejadian di masa berikutnya. dan pengetahuan ini menyengat kesadaranku. Aku tidak bisa menghentikan kepalaku untuk berfikir tentang teori relatifitas quantum. Tentu saja sejauh yang aku pahami. Ah, entah kenapa aku mulai tidak meyukai menggunakan istilah fisika untuk tulisan seringan ini. but, what can I do to help it? :P

Jadi begini, hidup kita ini ternyata memiliki jutaan kemungkinan. Setiap kita melangkah terbentang jutaan (lebay) kemungkinan jalan hidup. Setiap langkah atau tindakan kita akan mengarahkan pada satu cerita hidup tersendiri. Di satu sisi memperlebar jalan untuk satuhal, sekaligus menutup jalan untuk kemungkinan hal yang lain. Bila seandainya saja bisa kita merubah apa yang sudah dilakukan pada masa lalu, maka satu perubahan kecil akan mengakibatkan berubahan besar dimasa yang akan datang, namun dengan konsekwensi yang mungkin tidak dapat kita perkirakan.

lalu, dimana pentingnya? bukankah kita memang tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi? Benar. tapi kita bisa “sedikit” berperan untuk masa depan kita sendiri. Karena apapun yang kita lakukan hari ini, akan memiliki andil untuk cerita masa depan kita nanti. (ngomong-ngomong jadi ingat lagu kisah klasik untuk masa depan-nya Sheila on 7. :mrgreen: )

Yah. Aku telah memikirkan kemungkinan ini. Terutama mengenai hidupku sendiri dan beberapa orang terdekatku. Aku mencoba menganalisis beberapa hal yang telah terjadi dalam hidupku, dan memikirkan kemungkinan perubahan keadaan yang akan terjadi kalo seandainya saja ada beberapa hal-hal tertentu yang terjadi tidak seperti yang sudah berlalu. Dengan demikian. dengan apa yang ada saat ini, aku mulai mempertimbangkan langkahku untuk yang kedepannya. Aku mencoba dengan sadar untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan atau tidak aku lakukan.

Contoh kecilnya saja, satu pilihan makanan yang aku makan hari ini, akan mengakibatkan satu kondisi kesehatanku dimasa yang akan datang. Pilihan buku yang aku baca atau film yang kusaksikan hari ini, akan mempengaruhi jalan hidupku untuk masa yang akan datang. Satu tindakan kecil terhadap seseorang hari ini, juga akan memiliki andil dalam pembentukan “cerita” hidupku pada masa yang akan datang.

Tentu saja ada banyak contoh lain yang bisa diambil. Tapi semua itu mengacu pada pernyataan bahwa;

Tindakan apapun yang kita lakukan hari ini, akan menentukan bagaimana hidup kita dimasa yang akan datang.

The butterfly effect.
Namun, dengan tidak melupakan satu hal, yaitu keyakinan. Keyakinan bahwa pada dasarnya, diantara banyaknya pilihan, Tuhan telah “menunjukkan” jalan yang terbaik buat kita tempuh. Tapi, pada akhirnya, Tuhan juga memberikan kebebasan pada kita semua untuk memilih jalan-jalan yang lain. Namun, jangan salahkan Tuhan, saat kita memilih jalan lain tersebut, hal-hal tidak berjalan dengan memuaskan. Atau setidaknya, kita tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam pilihan kita itu dengan sempurna.

Satu hal lagi, kita juga harus mengetahui kunci kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Dan mulailah melangkah dari sana. kenali diri mu maka kau akan kenali Tuhan mu.

Satu pesanku, tentukanlah jalanmu. Melangkahlah dari sana, dan jangan menyesal. Karena apapun yang kau lakukan dalam hidupmu, itu karena kau telah memilihnya begitu.

Because I’m Stupid

Posted by: Snowie on: August 31, 2009

Been dealing with my old English song’s MP3 files in computer for hours, my head was getting heavier and throbbed. (~_~”) Well, as a matter of fact I was trying to reorganise those files. Many of them just contained the name of singer without the tittle of song or vice versa, had tittle but no singer’s name. I tried to hear them one by one in order to recognise those songs then finally completed the “identity” of each. but again, much of them have forgotten. (= =)! Well, I feel familiar with the voice and rhythm, BUT I don’t know remember where they belong. Arrggghhhh…. \(*0*)/ I think I need friend to discuss them. Unfortunatelly my fellow friend whom I used to talk about music (because we have the same taste in music choice or at least She knows more than me :mrgreen: ) has been far away now. ,Oh, God… I miss my old days as student in University, as English Student…. :cry:

Thus, to release my tense, I came to the new member of my collections. I just got it few days ago…. and it’s Korean song. Yaaaaay! (^o^)V As a matter, it’s OST of Boys over Flower, the Korean TV Drama. Actually, I got many, but here, I am talking about one I like the most. I really like it. Really really really like it. Everytime I hear it, I become emotionally unbalance. *Love Struck* This track IMHO is supposedly for Ji hoo, the calm cool guy. The story of song really depict Ji hoo sunbae character. If you watch the drama, you’ll know what I mean. *collapse* xD
.
.
.
Actually, I’m crazy about the instrument. The Intro sounds like music-box tone and I like the piano part, of course. It struck my heart deeper when I got the lyrics and its translation in English. This is the site where I took it. ;)

This is the lyrics, both Korean and English.

nae mori-neun nomuna nappaso
no hanabakke nan moreugo
tareun sara-meul bogo-in-neun non
iron nae ma-eumdo moreuget-ji

noye haruwe naran optget-ji
tto chuokjo-cha optget-jiman
noman baraman bogo-in-neun nan
jakku nunmuri heureugoisso
noye dwin moseubeul
po-neungotdoan haengbogiya
ajing naye ma-eu-meul mollado
ggeutnae seu-chideushi gado

niga nomu bogoshipeun naren
nomu kyondigi deun nare-neun
noreul saranghanda ibkae maemdora
honja dashi tto crying for you
honja dashi tto missing you
Baby I love you
I’m waiting for you

noye haruwe nan optget-ji
tto giokjo-cha optget-jiman
noman batraman pogo-in-neun na
honja chuo-geul mandeulgo isso

naegen sarangiran a-reum-da-un sang-chogata
noye yeppeun misoreul bawado
hamkke nan ut-chido mothae
niga nomu saenggang na-neun naren
kaseum shirigo seulpeun nare-neun
niga pogoshipda ibkae maemtora
honja dashi tto crying for you
honja dashi tto missing for you
Baby I love you
I’m waiting for you

Bye bye never say goodbye,
irohke jabji mothajiman, I need you
amu maldo mothae, I want you
baraedo dashi baraedo

niga nomu bogoshipeun naren
nomu kyondigi deun nare-neun
noreul saranghanda ibkae maemdora
honja dashi tto crying for you

niga nomu saenggang na-neun naren
kaseum shirigo seulpeun nare-neun
niga pogoshipda ibkae maemtora
honja dashi tto crying for you
honja dashi tto missing for you
Baby I love you
I’m waiting for you

English version
_________________

I’m really, very foolish
I know of no one other than you
you’re looking at someone else
yet you have no idea of my feeling like this

I won’t in your days
I won’t be in your memories either, however
only you, I looked only at you
and the tears keep coming

As I watch you walking past
I’m still happy
even yet you still don’t know my heart
I should stop this and go

I really want to see the day
I’m withstanding the pain each day
“I love you” is playing on my lips
Alone once again, crying for you
Alone once again, missing for you
Baby I love you
I’m waiting for you

I won’t be in your days
I won’t be remembered either, however
Only you, I looked only at you
I.m making memories alone

Loving you is like having a beautiful wound
I look at your pretty smile also
But I cannot laugh with you

I’m thinking about you so much everyday
My heart is hurthing in all these sad days
“I want to see you” is playing on my lips
Alone once again, crying for you
Alone once again, missing for you
Baby, I’m waiting for you, I love you

Bye bye never say goodbye
Even though I cannot hold you like this
I need you, I cannot say anything more, I want you
I keep on hoping too, I’ll keep hoping…

____________

Well then, What do you think?

having problem with your Compie?

Posted by: Snowie on: August 28, 2009

Gak afdol rasanya kalo progress dari kompie kesayanganku ini gak dibuatin laporannya.
Here we go…
.
.
.
Once upon a time, in a bright shiny day, I was trying to turn on my compie. I started with the usual steps. Turned on the stabilizer and then pushed the power button on CPU. Of course I expected to hear the sound of fan turning, but I didn’t. I became wonder what was wrong. I looked at the led of monitor, It was on stand by. I turned the speaker on, yes, it also worked. But, there was no sign from my CPU to run. (temporary conclusion: There was a electric supply for devices, but not enough to make the CPU run -only-. Hmmmm)

I tried to push the power button on the CPU some more times, still no responding. My curiousity getting bigger and bigger and didn’t want to surrender (halah :P ). I waited for a while with the all stanby devices, then, once again I turned off and on the stabilizer, continued to power button on CPU. It finally worked. Hmmmm…. thanks to Allah.
.
.
.
Unfotunatelly, It didn’t happen once. It also happened for the next time I tried to turn the compie on. The condition almost the same. But, sometimes I heard the fan struggled to swing and there was flash on the optical mouse and some led-light-build on-device before it came to calm again. As I experienced before, it didn’t make me so much worry. but…

I became more and more curious and wondered. something must be wrong inside. I just afraid it will effect the other components. I took my computer’s book entitled “Panduan Praktis Mengatasi Masalah Hardware Komputer.” I took it for sure. Because I believed that the problem was on my hardware not on the software or bios. (my insting said so :mrgreen: )

I opened the book and looked at the content’s page. My eyes catched chapter “motherboard.”

There’s a sub chapter for “sistem motherboard tidak berfungsi”

It said that if your motherboard sistem doesn’t work, this may happen because some things such as;
1. Minus electric suply (pasokan listrik kurang).
There must be some connectors not installed properly as motherboard needed. Make sure that ATX power cable and connector 12V cable installed properly)
(Tidak terpasang semua konektor yang dibutuhkan motherboard. Pastikan kabel power ATX dan kabel konektor 12V telah terpasang dengan benar.)

So, I checked those instruction by opening the CPU cashing. I also took the manual motherboard book to help me found where the “ATX power cable and conektor 12Vcable” take place. After few look, I found no problem with the ATX and 12V cable. I turned the CPU again by letting the chasing still open. The same problem still existed. But I recognized that the led of motherboard on. Well…. It means that there was a electric but it didn’t enough to make my motherboard run properly. (agreement for the temporary conclusion. *smug* ) :P

Then, I moved to the next suspection. “Power Supply chapter.”
Power supply is on low power (Power Supply kurang bertenaga).

  1. Because of unstable electric supply (karena pasokan listrik yang memang kurang stabil,)
  2. Total energy of power supply is not enough to support all energy needed by CPU. (daya total power supply kurang dibandingkan kebutuhan daya komputer).
  3. The power supply is old enough. (umur power supply).

I suspect that the problem is caused by power supply. but, I didn’t dare to play with the power supply device. So I finally chose to bring my compie to the expert.

I explained what happened to the technician. I shared what I know and suspect toward my computer problem to them. They told me that they would diagnose the problem to make it sure.

Few days later, I asked the technician about it. He told me that I was right. yeah… The problem was at the power supply and it had to be changed with the new one. When I got the old Power supply and analize it a little, I found that there was a burn on it. I asked the technician about it, he told me that it might cause the problem of power supply, which also caused by electric supply in general. Haaaaaahhhh…..

To be honest, I expected more explanation from him. I do expect to hear some smart clarification. Not only to hear what I had known before. *banyak maunya* *dilempar CPU* xP
.
.
.
Well, in short, kesimpulannya, bagi yang males baca tulisan di atas, masalah komputerku itu terletak di power supply. sedikit nyebelin karna kurangnya penjelasan. tapi begitulah. selesai.

PS
Kadang kupikir anak teknik ini pelit penjelasan. :twisted: kalo gak ditanya
Teknisi yang kumaksud adalah teman setempat kerja-ku. :mrgreen:

Ta’aruf

Posted by: Snowie on: August 8, 2009

Sudah lama tidak menulis. Rasanya kengen juga. Yah, postingan yang lalu hanya meng copy-paste lagu aja. Jadi, sekarang saya ingin sedikit berbagi cerita.

Jum’at kemaren, Salah satu teman LiQa’ ku yang baru aja merried bergabung kembali bersama kami. Jadilah, atas permohonanku *Ge-Er* kami membahas soal pernikahannya. Jujur, dialah teman LiQaan-ku yang pertama yang nikah didalam masa aku LQ. If you know what I mean.

Mungkin tidak hanya aku, teman-teman yang awampun banyak mempertanyakan soal pernikahan melalui Ta’aruf. Ya. Dia menemukan jodohnya melalui ta’aruf.

Pertanyaannya, “bagaimana kamu bisa yakin menikah dengan cara begitu? Khan baru kenal? blablabla”

Ok, Aku memang gak pacaran, tapi juga menolak perjodohan orang tua (lha lantas maunya gemana? :mrgreen: Itu nanti kita bahas)

Dia menjawab begini.

“Pertama, semua gak lepas dengan sikap tawakal dan keterlibatan Allah didalamnya. Istikarah dan berdoa meminta ditunjukan jalan yang terbaik.”
Selanjutnya,
“Yang penting kita itu punya prinsip. Sebelum kita menikah, kita harus punya kriteria utama untuk calon pendamping kita. Kalo Uni, (sebut aja begitu :P ) Uni berprinsip, dari dulu ingin menikah berdasarkan dengan melihat Agamanya, Akhlaknya, dan fikrah-nya. Kalo itu udah cocok, Uni gak banyak mempertimbangkan hal yang lainnya.”

Untuk agama dan akhlak, asalkan seseorang itu pemahaman agamanya bagus, akhlaknya otomatis akan ikut serta menjadi baik. Orang yang paham dengan benar bagaimana menjalankan perintah agamanya dengan baik, selanjutnya, orang itu juga akan sudah mengerti bagaimana bersikap terhadap istrinya, menafkahinya, keluarga istri, juga bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya. Karena suami adalah kepala rumah tangga. Pimpinan bagi anak dan istrinya.

Masalah Fikrah, itu jelas. Kita dan calon suami tentu harus memiliki pandangan yang sama terhadap masalah rumah tangga. Akan dibawa kemana kapal itu. Bagaimana cara mendidik anak. Keluarga seperti apa yang diinginkan. Petaturan apa yang harus diterapkan dalam keluarga itu. Semua itu harus didukung oleh prinsip sepemikiran antara suami dan istri, agar kedepannya mudah untuk mendidik anak dan mencitakan kepribadian anak yang kuat. Kerja sama yang solid, itulah istilahnya….

Dia juga menambahkan, jika kita bisa menjaga diri, maka Insyaallah kita juga akan mendapatkan pasangan yang juga terjaga. Maksud terjaga di sini adalah terjaga dari perbuatan maksiat. Lebih mengarah pada pacaran. :)

***

Jadi begitulah teman-teman. Proses ta’aruf itu dilakukan untuk menjaga agar niat baik sebuah pernikahan tidak dirusak oleh hal-hal yang dilarang agama. Dalam proses ta’aruf, dimulai dengan pengajuan Proposal yang berisi kriteria calon. Biasanya berupa karakter yang diinginkan dimiliki dari calon pasangan. Lalu, bila orang kriteria yang diinginkan sudah ada, maka kedua pihak akan dipertemukan secara langusung. Pertemuan itu ditemani oleh pendamping masing-masing dan selama itu akan diakan pembicaraan tentang visi dan misi dalam menikah, serta pembahasan tentang diri masing-masing. Semuanya. Bajaleh-jaleh istilah minangnya. Gak boleh ada yang ditutupi. Nanti, kalo udah cocok, maka pernikahan bisa dilangsungkan. tapi kalo ternyata dirasa nggak cocok, maka proses akan terhenti sampai disitu.

Lalu, bagaimana jika kemudian hari, setelah menikah ternyata ditemukan kekurangan pada diri pasangan masing-masing yang dulunya tidak terlihat? Biasanya, para Akhwat dan Ikhwah itu akan menganggap semua itu sebagai ujian dari Allah. Karena dalam hidup rumah tangga, tidak selamanya berjalan mulus dan tidak ada manusia yang sempurna. Tapi mereka menerimanya dengan iklas, dan tetap memegang prinsip, kembali ketujuan semula saat mereka memutuskan untuk menikah dan berumah tangga.

Saya sempat juga menanyakan ucapan seseorang yang dulu saya dapat waktu membahas topik tentang perasaan™ di sebuah blog post kepada Uni ketua LQ.
“Bagaimana dengan kasus, ada seorang akhwat yang snap lalu membubuh anak-anaknya?”

Lalu sang Uni menjawab, “Uni kira dia stress. Uni ragu kalo sang akhwat itu masih LQ. Ada banyak kasus Aktivis yang berhenti LQ setelah mereka menikah walaupun pakaiannya masih sama.
Itulah gunanya LQ. Di idalam pertemuan LQ, semuanya dibahas. Juga ada sesi Qodoya-nya (curhat). Jadi, jika salah seorang anggota LQ punya masalah, dia bisa curhat keteman-teman LQnya, cerita dan berbagi, nanti teman-teman yang lain juga akan membantu menyelesaikan masalahnya, membantu mencarikan jalan keluar, sehingga masalahnya nggak perlu ditanggung sendiri dan itu bisa menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.”
.
.
.
Dan saya baru sadar. Ternyata selama ini, calon yang diajukan orang tua, tidak ada yang memenuhi standar (susah dapet cowok baik dengan pemahaman agama yang baik sih). :P Sebenarnya saya juga gak beda sama Uni yang baeru menikah diatas. Berharap mendapatkan suami yang memiliki pemahaman agama yang baik serta sepemikiran dengan saya. Setidaknya kami punya pandangan kedepan yang sama soal pernikahan.

Ok, saya memang belum jelas, akan menemukan pasangan dengan cara apa. Semoga yang terbaik. Amin.

*terhanyut dengan lagu Cinderella-nya Britney Spears* :P

Song for Every Moment

Posted by: Snowie on: July 26, 2009

1. Breakaway – Kelly Clarkson

Grew up in a small town, And when the rain would fall down
I’d just stare out my window, Dreamin’ of what could be
And if I’d end up happy, I would pray
Wanting to belong here,But something felt so wrong here
So I prayed I could break away

I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly
I’ll do what it takes till I touch the sky
And I’ll make a wish, take a chance, make a change, And break away
Out of the darkness and into the sun
But I won’t forget all the ones that I love
I’ll take a risk, take a chance, make a change, and break away

2. Can’t stop the rain – Air Supply

Why do we spend time alone
Why don’t we end nights together
Isn’t it time to come home
I can’t stop the rain from falling
Do what you must do, I can only hope to show
The love I have for you, have for you

3. If I let you go – Westlife

Day after day, Time pass away N’ I just can’t get you off my mind
Nobody knows, I hide it inside I keep on searching but I can’t find
The courage to show, To letting you know

And once again I’m thinking about, Taking the easy way out
But if I let you go, I will never know
What my life would be, Holding you close to me

4. White flag – Dido

I will go down with this ship
And I won’t put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I’m in love and always will be

5. A new day has come – Celine Dion

Everyone told me to be strong, Hold on and don’t shed a tear
Through the darkness and good times, and the world thought I had it all
But I was waiting for you
I see a light in the sky, Oh, it’s almost blinding me
I can’t believe I’ve been touched by an angel with love
Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new, new sun

A new day has…come
where there was weakness, I found my strength

6. I have a dream – Westlife

I have a dream, a song to sing
To help me cope, with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

7. Hero – Mariah Carey

There’s a hero, If you look inside your heart
You don’t have to be afraid of what you are
There’s an answer, If you reach into your soul
And the sorrow that you know, Will melt away

Lord knows, Dreams are hard to follow
But don’t let anyone, Tear them away
Just Hold on, There will be tomorrow
and In time, You’ll find the way

8. When we believe – Whitney Houston

Yet now Im standing here
My hearts so full, I can’t explain
Seeking faith and speakin words, I never thought I’d say
There can be miracles, When you believe
Though hope is frail, It’s hard to kill
Who knows what miracles You can achieve
When you believe somehow you will
You will when you believe

9. One Moment in Time – Whitney Houston

I want one moment in time, When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time, When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time, I will feel eternity

10. Bad day – Daniel Powter

Where is the moment we needed the most
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue skies fade to grey,
They tell me your passion’s gone away
You’re faking a smile with the coffee to go
You tell me your life’s been way off line
You’re falling to pieces everytime
And I don’t need no carryin’ on

Cause you had a bad day, You’re taking one down,
You sing a sad song just to turn it around
You say you don’t know, You tell me don’t lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day, The camera don’t lie
Well you need a blue sky holiday

Sometimes the system goes on the blink,
And the whole thing turns out wrong
You might not make it back and you know
That you could be well oh that strong, and I’m not wrong

11. Rhythm of the rain – The Cascades or Dan Fogelberg

*You’d better not to know the lyrics and I don’t like the lyrics either. It’s kind of sad love song aka broken heart song. But the music is nice ^-^*

12. Goodbye for now – POD

Goodbye for now, goodbye for now so long
Goodbye for now (I’m not the type to say I told you so)
Goodbye for now so long (I think the hardest part of holding on is letting go)
when will we sing, a new song, a new song

13. Leaving on Jetplane – Chantal Kreviazuk

There’s so many times I’ve let you down
so many times I’ve played around
I tell you now they don’t mean a thing
every place I go I’ll think of You
every song I sing, I sing for you
when I come back I’ll wear you wedding ring

Ketidaktahuan Membawa Hikmah

Posted by: Snowie on: July 14, 2009

Baiklah, sebelum kita memulainya, untuk membuat suasana yang pas, mari kita putar Clair de Lune-nya Debussy. (I like this musik xP )

Hari itu, Sabtu 12 Juli, di subuh yang dingin, seseorang mengetuk pintu kamarku, Oh, ternyata itu bundaku. “Nih, ada yang nelpon” katanya. (ternyata handphone ku tinggal di ruang tengah saudara-saudara) akupun menjawab telepon tersebut dengan kondisi sebagaimana orang yang baru saja bangun tidur, menjawab telpon sambil berusaha mengumpulkan nyawa. :mrgreen:
“nnngg, ya…, siapa nih? Tumben telpon pagi-pagi?
Apa? Jalan-jalan? Ke mana? Jam berapa? Oh, iya.baiklah. Aku ikuuuuuttt!!!!”
.
.
.
Kami berangkat dari Pariaman sekitar jam 6.45 pm menuju kota Bukittinggi. Berhubung hari itu ternyata malam minggu, kami kesulitan menemukan penginapan yang kosong karena tidak reservasi sebelumnya. Semua penginapan yang berada di pusat kota Bukittinggi sudah terisi penuh. Kalaupun ada yang kosong jumlah kamarnya tidak mencukupi untuk kami tempati. Secara kami rombongan.
Setelah berputar-putar sekian lama, akhirnya mobil kami berhenti di salah satu Hotel dan berasil untuk mendapatkan penginapan. Sebut saja hotel V. Saat itu sekitar pukul 10 malam.

Walaupun di plang nama tertulis HOTEL, tapi anda jangan berfikir kalo suasananya bakal semewah yang bisa dibayangkan. Hotelnya berbentuk rumah yang mana lantai 3 sebagai lantai tertinggi. Setelah melewati ruang resepsionis, Anda akan menemukan ruangan cukup luas yang di isi dengan beberapa sofa yang menghadap ke TV, dan dibelakangnya terlihat dapur. Selanjutnya, ada sekitar 2 kamar tidur yang teletak di samping kiri kanan ruang TV tadi. Di muka salah satu kamarnya ada terdapat kolam hias.

Karena memang ini adalah pertama kalinya saya nginap di Hotel, jadi saya tidak mengharapkan sesuatu yang lebih. Saya hanya berfikir bagaimana bisa mendapat penginapan yang nyaman dan tidur dengan tenang. Itu sudah cukup (Toh, saya dibayarin xP ) Saya mendapat kamar di lantai 3 bersama beberapa orang teman. Setelah selesai berbenah, saya merasa haus. Saya keluar bersama seorang gadis kecil yang biasa dipanggil “kakak”, yang juga ikut dalam rombongan, untuk mencari minum. Setiba di laintai 2 saya melihat seseorang yang dari gelagatnya merupakan penghuni tetap hotel, dan sayapun menanyakan padanya bagaimana caranya untuk saya bisa mendapatkan segelas air putih. Ia mengatakan bahwa itu termasuk layanan kamar dan sayapun diminta untuk menunggu saja di kamar.

Setelah sekian lama menunggu, yang diminta pun tak kunjung tiba, akhirnya saya memutuskan untuk kembali turun dan mengambil langsung minuman itu. Kali ini saya ditemani oleh –sebut saja– Uni Rita. Saat itu sekitar jam 11 malam. Ruangan di luar sudah sangat sepi. Yang terdengar hanya bunyi suara tipi yang masih memutarkan berita seputar meninggalnya Michael Jackson di ruang duduk. Di sana kami hanya menemukan seorang wanita setengah baya yang tampak kurus dan menderita sedang menyaksikan tayangan TV tersebut. Karena tidak ada pilihan lain, sayapun kembali menayakan perihal air minum. Dengan sangat kesusahan ia bangkit berdiri. Tubuhnya terlihat sulit digerakkan. Ia menggigit bibir bawahnya saat sedang berusaha berdiri. Melihat itu saya jadi berfikir, apakah ibu ini kena serangan struk ya? tapi kenapa malam-malam begini masih menonoton TV? sendiri lagi. Sebenarnya tidak tega melihatnya, tapi kami tidak punya pilihan lain. Akhirnya dengan susah payah beliau berhasil mengeluarkan dua buah gelas dari dalam lemari. Saya pikir, dengan gelas ditangan itu saja sudah cukup, maka saya berinisiatif dengan mengatakan bahwa kami akan menuangkannya air minum kami sendiri.

Saat beranjak dari ruangan tersebut menuju ke kamar, saya sempat berbisik pada Uni Rita.
“Ni, bikin cerita yuk. bagaimana kalo kita membayangkan kita menginap di hotel berhantu dan…”
“Hus, jangan ngomong sembarangan”
“Ah, Uni. Kan seru. kayak yang di pilem-pilem”
.
.
Tapi, berhubung yang diajak ngobrol terlihat tidak senang bercampur sedikit takut, sayapun menutup mulut dan kembali ke kamar dalam diam. Sementara perasaan saya mengatakan suasanan hotel tempat kami menginap benar-benar bisa digunakan sebagai seting cerita penginapan berhantu, ditambah lagi dengan penampakan ibu barusan. Pokoknya cocok. Dan biasanya, saya memiliki feeling yang jitu.

Setibanya di kamar, kami ngobrol sembari menunggu mata mengantuk. Sayang, ketika obrolan berakhir saya tak jua merasakan kantuk. Akhirnya saya memilih fesbukan sebentar. Sekitar jam 1 dini hari baru saya mulai bisa memejamkan mata. Di luar terdengar suara anjing melolong.

***

Jam Gadang Bukittinggi-SumBar

Jam Gadang Bukittinggi-SumBar

Pada hari Seninnya, hari pertama tahun ajaran baru. Sehari setelah kembali ke Pariaman.Saya berbagi cerita pada salah seorang teman tentang pengalaman saya menginap di holel tersebut. Awalnya hanya cerita bagaimana akhirnya saya bisa juga merasakan liburan yang sesungguhnya. Saat Saya mengatakan di mana kami menginap dan diapun berseru.
“Apa! di holel V? Ah, itu gak Ok.”
“kenapa?” saya balas bertanya.
“Ah, kakak nggak tau. Kalo Ila, nggak bakal mau nginap di sana. Biarlah Ila tidur di mobil di depan Jam gadang dari pada harus nginap di sana.”
“memangnya kenapa? tempatnya gak jelek banget kok. Lumayanlah…”
“Kakak ngak tau sih. Tempat itu kan angker. Tempat pembunuhan itu di sana. Dulunya, tempat itu kan rumah. Satu keluarga dibunuh semua oleh perampok. Tapi, ada satu anak yang nggak sampai mati. Dia yang cerita ke orang-orang. Setelah kejadian itu, nggak ada lagi yang tinggal di sana. Akhirnya sekarang dirubah jadi hotel. Teman-teman Ila yang kosnya deket sana sering lihat penampakan anak-anak kecil heboh lari-lari di rumah itu. Padahal kan sebenarnya rumah itu sepi.”
“WHATTTT! PEMBUNUHAN!? HANTU!!!!?? Oh”
“Iya. mana mau orang nginap di sana. Coba perhatikan siapa saja yang nginap di situ selain kakak dan rombongan, ada gak?”
“entahlah, tapi emang, paginya kakak nggak ngelihat banyak orang. kalopun ada mereka sepertinya bukan tamu.” Saya berujar sambil menahan ngeri di hati.
“Ha, tu khan. Orang semua udah pada tau. Di sana kawasan angker.”
“hooo, pantes. sepi. Heran juga sih kenapa kami bisa menemukan penginapan yang banyak kamar kosongnya sementara di tempat lain pada penuh semua.” (sikap cuek saya yang kebangetan itu berguna di sini)
“kakak ada ngelihat hal-hal nggak biasa nggak di sana?”
“rasanya enggak. Emang sih, ngerasa suasana yang agak gemana waktu malem, tapi kakak mikirnya, mungkin karena kakak aja berlebihan karena suka membayangkan yang aneh-aneh. tapi syukur juga kakak nggak tau. kalo kakak sampe tahu sebelumnya, tapi dengan terpaksa harus nginap di sana juga, bisa-bisa kakak menderita ketakutan.”

***

Yah, begitulah saudara-saudara. Ternyata akhir pekan saya di habiskan dengan bermalam di tempat yang terkenal angker. Sebenarnya Saya agak ngeri kalo diceritakan soal hantu. Walaupun sendirinya juga suka membayangkan yang aneh-aneh.

Teorinya begini, karena hanya dipikirkan, dengan kata lain imajinasi, saya nggak takut. Saya nggak pernah takut dengan apapun yang keluar dari pikiran saya sendiri dan berfikir, “Ah, itu khan cuma khayalan saya saja, dibuat-buat, nggak mungkin nyata.”

Berbeda dengan cerita atau ada seseorang yang bercerita mengenai penampakan roh halus. Ada unsur “kepercayaan” di sana. Percaya bahwa adanya penampakan-penampakan roh halus itu nyata adanya. Itu membuat bulu kuduk saya meremang.

Alasan itu juga, kenapa saya takut sama film horor Indonesia, seperti yang saya bahas [di sini]. Alasannya, cerita horornya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita-cerita yang sering didengar dari mulut ke mulut.

Jadi, intinya,

ada kalanya tidak mengetahui adalah sebuah berkah, dan tahu terlalu banyak bisa jadi bencana.

Setidaknya, karena akhirnya tahu juga dan merasa ketakutan sesudahnya, saya udah jauh dari tempat itu. Kadang, rasa takut itu seperti candu. Memiliki pesona tersendiri. Takut, tapi penasaran juga. Pengen juga. Jadi inget Curiousity kills the Cat-nya Arm.

Dan saya bisa mengerti dengan jelas kasus-kasus pembunuhan oleh para hantu yang terjadi pada pendatang baru yang tidak tahu apa-apa yang di pilem-pilem. Karena tidak tahu, mereka jadi tidak waspada. Ini kontra dengan pernyataan di atas sih. Yang tidak mengetahui adalah sebuah berkah.

Selanjutnya, setiap sisi kehidupan itu berpasangan. Di satu sisi baik, namun di sisi satunya lagi buruk. Di dunia ini sepertinya tidak ada satupun kebenaran yang mutlak untuk menjawab semua kasus yang berbeda, selain Tuhan tentu saja.

What should I do

Posted by: Snowie on: July 9, 2009

I’ve been thinking about this problem for years. But still, I don’t have any decision yet.

One time my mind whispered to heart. It said, just do it. But when I was going to do it, my soul said, “are you sure? Won’t you have any regret after that? There’ll be no way back then. Think it over, dear… You still have time.”

Having that, I got second opinion. Well, maybe I’ve to wait a moment. Wishing that there’ll be any change.

Day by day pass by. But still happened in the same way. That thought came again. Stronger than before. “just do it!” it said. “stop faking yourself. Life must go on and have it for yourself. What are you waiting for? It’s the BEST for you. Trust on me. Do it!”

“yeah, perhaps you’re right.” thinking in uncertain.

But soon one voice appeared. “No. Don’t do that! Just don’t give up. Not now. Please. There’ll be the way. Dry season won’t last forever. There will be rain. Just hold on, dear. Please…”

Haaaahhh. I don’t know. How long I must suffer like this? Having two different thought in one mind. Keep changing and turning around in every second.

After all, actually I really want to get rid of it, forget it FOREVER but something prevent me just in time. Why is that hard?

*listening to Tears in Heaven

La DolCe VitA

***
~Irrashaimase~

sakura

Saya ucapkan 'Selamat Datang' pada pengunjung blog saya, semoga mendapatkan sesuatu dari apa yang saya tulis dan ceritakan

Tujuan utama blog ini adalah untuk melatih pemiliknya dalam menulis 'dalam format yang lebih baik' serta alat untuk menyalurkan semua aspirasi yang dimilikinya.

a little bit about me, see ThiS is m3

Disclaimer

Semua tulisan yang ada di dalam blog ini ASLI berasal dari pikiran, pengalaman, hayalan dan perasaan yang saya alami dan miliki, dan mungkin beberapa diantaranya terinspirasi oleh Tulisan penulis lain dalam berbagai bentuk. So. Tanpa mengurangi rasa hormat, dilarang berat menyadur, men-copy, atau apapun namanya segala hal yang terdapat dalam blog ini, kecuali dengan izin dan mencantumkan keterangan dengan jelas.

Selanjutnya, Tulisan di sini tidak ditujukan untuk menghina atau mendiskreditkan siapapun. Tapi kalo ada yang ngerasa, kesalahan bukan terletak pada saya.

More see Licence

Categories

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30