You

Hi, there… How are you?

Ada waktu dimana aku sangat berterima kasih dan merasa beruntung karena mengenal seseorang seperti mu. Seseorang yang membuat aku merasa dimengerti. Atau membuatku berfikir bahwa di dunia ini ada seseorang yang dapat memahami ku. Sungguh alasan yang egois ya. Tapi apapun alasannya aku merasa cukup puas memiliki masa lalu bersama mu. Masa lalu? Iya, karena aku akan melangkah… Did something ring a bel? :mrgreen:
*ngumpetin lirik Five minute*
_______________________
Hey kamu, bagaimana keadaan mu?

Maaf, belakangan ini aku sepertinya sudah melupakan mu sama sekali. Sejak mengenalnya, kamu seolah lenyap. Kamu yang telah menemaniku semenjak aku mengenal film Sailormoon. Kamu yang selalu aku jadikan acuan ketika menilai para pria. Walaupun begitu, sering aku menyukai pria yang berbeda darimu, tapi tetap saja aku selalu mengharapkan sosok dirimu. Tapi kini, perlahan bayangan mu memudar, dan sebentar lagi sepertinya aku harus mengucapkan salam perpisahan untukmu.

_____________________
Hi,… kamu sedang apa?

“Waiting for you” yang tertulis di kaos favoritku, sepertinya itu untuk mu. Semoga itu benar-benar kamu ya…

Anyhow, apakah kamu masih penasaran kenapa aku memilih mu? kukira hanya satu jawabannya, jodoh. Aku yakin kamu jodoh ku, dan aku tidak perduli hal lainnya. Mengenai beberapa kesamaan sifat kita, yang sebenarnya tidak begitu bagus, atau mungkin kita yang bisa saling melengkapi, aku tidak begitu memikirkannya. Tapi, sekali lagi, karena aku percaya karena kita ditakdirkan bersama.

Happy Wedding

Selamat menempuh hidup baru…
~Ucapan yang kerap disampaikan pada pasangan yang baru menikah

Sangking seringnya itu diucapkan atau dituliskan dikartu ucapan selamat untuk mereka yang baru saja menikah, namun adakah kita benar-benar mengerti hakikat kata-kata tersebut? Atau hanya membeo saja…
Ya, sudah hampir dua tahun ini saya kerap mengucapkan kata-kata tersebut pada kerabat dan teman-teman yang baru saja menikah tanpa perduli arti sesungguhnya dari kata-kata tersebut. Oh, sepertinya hampir semua pria dan wanita muda yang saya kenal menikah dalam tahun-tahun ini…. dan bahkan beberapa diantara mereka sudah memiliki baby! O God, I want to have my own baby too! #eh

Kenapa sih menikah itu disebut dengan hidup baru? Jika saya manganalisisnya dari sudut pandang saya sebagai perempuan, menikah benar-benar gerbang menuju kehidupan yang sama sekali baru dari sebelumnya. Menurut yang saya percaya dan anut, setelah menikah suamilah yang menjadi panutan utama. Suamilah yang kata katanya didengar. Bahkan perintah suami lebih tinggi kedudukannya daripada keinginan orang tua. Melayani suami dan keluarga adalah prioritas kaum hawa yang sudah menikah.

Saya berpendapat, saat si perempuan masih lajang, umumnya dia hanya bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Lajang itu bebas, ndak ada tanggung jawab, ndak ada tekan perasaan… Lajang itu cuma bertanggung jawab sama diri sendiri. Masalahnya, di masyarakat tempat saya berada, lajang sampai tua bukanlah hal yang dianjurkan dan rentan pertanyaan “kapan nikah?” gunjingan. Secara sosial, menikah adalah status aman dari gunjingan tetangga. Namun sepertinya secara kejiwaan pribadi, menikah sepertinya banyak masalahnya…dibandingkan jika masih lajang.

Kok bilangnya gitu?
Yang saya lihat, karena setelah menikah kita hidup bersama seseorang yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda dengan kita, seberapa lamapun kita mengenal dia, tetap, dia dibesarakan dan hidup dengan cara dan dari keluarga yang berbeda dengan kita. Plus dia itu seorang pria. Ya jelas lah, seorang wanita menikahnya dengan pria, apa yang salah dengan itu?
Iya, karena secara umum diyakini oleh para kaum hawa, –Okay mungkin cuma beberapa– bahwa para pria itu kebanyakan egois. Kaum hawa tidak pernah bisa benar-benar dapat dipahami oleh kaum adam, dan kaum adam rasanya cukup egois untuk perduli dan menilik kedalam hati para hawa, mencari tau apa sih yang sebenarnya diingikan oleh kaum hawa. Mungkin itu kenapa ada judul buku “Man are from Mars and Women are from venus”.

Nah karena perbedaan cara pandang itu, sering kali terjadi pecekcokan rumah tangga. Si hawa merasanya begini dan maunya begitu, tapi si adam berfikir kalau sudah benar dia bersikap begini dan harusnya si hawa mengerti dengan keadaannya, atau semacamnya. Sayangnya setelah menikah, tidak baik membicarakan masalah rumah tangga kepada pihak lain. Masalah dalam keluarga ya harus diselesaikan berdua. Kalau sampai keluar, bisa-bisa bukannya menyelesaikan masalah, malah bisa jadi prahara rumah tangga.

Yah, masalah perasaan itu complicated™ memang. Sampai dunia kiamat Kaum Adam tidak akan pernah tau apa yang benar-benar diinginkan oleh kaum Hawa IMO. Good communication can help but it never really makes the problem disappear for ever! Lady, you’ll always have something to communicate with your spouse about your problem. Make him know it

Kembali ke awal, jika sudah menikah, kehidupan setelahnya benar-benar berbeda. Ada seseorang yang harus didengarkan perkataannya. Ada seseorang yang harus dijaga perasaannya. Jika sudah punya anak, ada anak-anak yang harus dipikirkan kebutuhannya. Semua tentang orang-orang terdekat kita. Keluarga kecil kita. Tidak pernah lagi ada aku dalam keluarga. tidak seperti saat lajang, dimana dunia adalah saya. Ukh, berharaplah menikah dengan seorang pria yang baik dan mau mengerti tentang dirimu, yang menyayangimu. Seseorang yang benar-benar bisa kau jadikan sandaran bagimu. Seseorang yang bisa jadi imammu. Namun jika suatu saat nanti kau menikah, terimalah dia sebagai takdirmu. Bagaimanapun keadaannya, kau telah menerima pinangannya. Hiduplah dengan bahagia!

Selamat menempuh hidup baru, ukhtiku sayang…

__________
Written by a single lady who haven’t got merried yet. Whatever!

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.