Setelah baca beberapa komen di blog yang saya kunjungi tanpa meninggalkan jejak di beberapa tempat, khusus komen yang diberikan oleh para cewek dengan karakter tertentu pada kasus tertentu, saya makin yakin sama hipothesis saya. Hipothesis yang didapatkan dari refleksi pengalaman pribadi, dan sekali lagi tenyata dibuktikan oleh bukti-bukti (baca: tanggapan sesuatu terhadap sesuatu).
Jujur, walau menyadarinya, tapi saya tetap tidak bisa menghindar dari takdir ini, takdir bahwa saya adalah perempuan, dan kenyataan bahwa perempuan itu kebanyakan melihat dari hati atau perasaannya. sehingga sering kali sulit tidak bisa melihat kenyataan.
Contohnya saja, saya menyukai sebuah novel, sebut saja novel cinta, biasanya yang jadi favorite adalah novel yang kisahnya mirip dengan kisah saya pribadi pada awal cerita, tapi memiliki ending yang bahagia seperti yang diharapkan. walau didalam hati menyadari bahwa akhir cerita sepeti itu (mungkin) tidak akan pernah saya alami. Tapi saya tetap suka.
Atau, saat dihadapkan pada sebuah tulisan, atau cerita, biasanya seorang perempuan akan menganalisis dari sudut pandang perasaannya pribadi. ini masalahnya, kalo perasaan seorang perempuan telah berperan, logika akan kalah telak walau sudah mati-matian memperjuangkan agar ialah yang berperan. itu kenapa cinta tak ada logika. sebenarnya bukan tak ada logika, tapi logika itu sendiri kalah oleh perasaan.
Perempuan lebih memilih menderita karena perasaannya dari pada bahagia karena logikanya. atau dalam kasus tertentu perempuan tidak pernah bahagia karena logika dan perasaan tidak pernah bisa akur. Penjelasan kenapa kadang walau tidak rela, seorang istri lebih membiarkan dirinya dimadu daripada dicerai oleh suami tercintanya yang telah menghianatinya.
Tapi sepertinya sekarang, ini sudah berubah, mengingat betapa banyak artis wanita indonesia yang memilih cerai dari suami mereka. dalam hal ini saya tidak tahu, si wanita memutuskan untuk menggugat cerai suaminya apa karena perasaannya mengatakan begitu atau itu hasil dari pertimbangan logikanya.
Saya sebenarnya tidak ingin seperti ini. tidak ingin kalah oleh perasaan yang sering kali subjective dan lagi, menentang logika. kalo perasaan sudah merasakan sesuatu, biasanya logika tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahannya. walau si manusianya sadar logika yang benar dan perasaan hanya mengada-ada. tapi perasaan selalu punya cara yang entah bagaimana berhasil memperdaya agar si manusia mengikutinya dan memiliki harapan-harapan palsu yang TIDAK masuk akal. dan Pada akhirnya menyakiti hati si manusia itu sendiri.
Dan betapa bodohnya manusia itu, walau sudah dikhianati, ditipu, dan dipermainkan berkali-kali oleh perasaan, tatap saja ia lebih memilih untuk percaya pada perasaannya, BUKAN pada logika.
Disini masalahnya. kalau nanti masalahnya menyangkut rasa suka yang berkembang menjadi cinta, tindakan apa yang harus dilakukan oleh si manusia. apa tidak bisa perasaan itu bisa dipercaya sekali saja, dan melakukan hal yang benar.
Merasakan CINTA kepada orang yang SEHARUSnya misalnya. jadi, hanya akan ada yang namanya HANYA sekali jatuh cinta.
Bisa tidak, kalo kita itu hanya sekali jatuh cinta, dan saat nanti kita jatuh cinta, kita melakukan hal yang benar, maksudnya saat kita jatuh cinta, cinta itu memang untuk orang yang seharusnya. orang yang juga mencintai kita, dan bersedia untuk sehidup-semati dengan kita. bukan yang sering diplesetkan menjadi satu mati satu hidup. tapi saling mencintai sampai akhir hayat. syukur-syukur masuk surga dan kembali bertemu di surga sebagai suami-istri.
danze said
nice post….
Sebuah Perjodohan (bagian 2) « Horocuxs said
[...] saya pikir saya sudah melewatinya dengan baik. perjodohan itu maksudnya. kalo ada yang ingin pengentahui sedikit awal masalahnya bisa baca ini. [...]