Posted by: Snowie on: June 1, 2008
Berjalan, atau melakukan perjalanan dimalam hari, bagi saya itu selalu menjadi hal yang sangat menyenangkan. tapi dengan satu catatan, saya berada di dalam kendaraan roda empat dan bersama beberapa orang lainnya di kendaraan yang sama. Nggak musti kendaraan pribadi lho
Ada dua hal yang bisa saya pikirkan dari hal itu. kalo saya melakukan perjalanan di sekitaran perkotaan, maka saya akan sangat senang melihat pijar lampu-lampu yang seperti kunang-kunang itu. Pokoknya entah bagaimana, lampu-lampu itu, yang berasal dari rumah penduduk, pertokoan, dan lampu jalan, yang diselimuti oleh kepekatan malam, tampak begitu mengagumkan.
Namun, kalo perjalanan itu melewati daerah perpohonan yang jarang terlihat rumah, apalagi lampu jalannya bisa di bilang nggak ada, maka dengan cepat otak saya akan bekerja untuk memikirkan hal-hal misteri. bertanya-tanya kira-kira apa saja yang mungkin berada dibalik pepohonan itu. atau, mungkinkah akan mendarat sebuah pesawat luar angkasa di hamparan tanah sawah yang luas itu, lalu dengan tiba-tiba muncul sesosok makhluk asing datang menghadang jalan?
yah, itu cerita lain. pada kenyataannya saya tetap suka perjalanan malam. apapun yang bisa dimungkinkan turut terjadi menyertainya.
malam itu, ceritanya agak berbeda. lagi-lagi saya pulang kemalaman. abis, udah keburu magrib, jadi sholat di mushola terdekat dulu aja. abis tu, baru pulang. Saat itu saya bawa kendaraan bermotor. sendiri lagi. tapi nggak apa, udah biasa.
Jadi sekarang apa yang nggak biasa dong?
khan gini, seperti yang udah saya bilang, saya pulangnya kemaleman. bawa motor, sendiri lagi. Masalahnya, rumah saya itu berada di lokasi yang jarang penduduk, namun dekat dari pusat kota, sekitar 5 km lah…
bingung?
gambarannya begini nih,
coba bayangin sebuah daerah yang di sebut dengan kota K. Kota K ini pusat kotanya berada di pinggir pantai, so walaupun disebut pusat kota, tapi berposisi di bagian barat kota. Nah, dengan begitu kita membagi kota tersebut dengan sebutan barat, selatan. timur, dan tengah. sampai disini paham?
kemudian, rumah saya berada disisi selatan kota. Nah, antara jarak yang harus saya tempuh untuk bisa sampai kerumah, sekitar 3,5 kilonya adalah jalanan yang kiri kanannya di kelilingi oleh tanah sawah sampai berhektar-hektar jauhnya. dengan kata lain, nggak ada rumah penduduk disitu. kalopun ada, satu-satu yang terlihat dari arah jalan.
Melewati hektaran tanah sawah yang sepi rumah penduduk itu bukan hal asing lagi bagi saya. namun ada yang lain pada malam itu. awalnya saya nggak sadar apa yang sedang terjadi. yang saya tahu, kok rasanya agak sepi ya… memang, beberapa jauh ke depan, saya melihat kerlipan lampu. Awalnya saya berfikir bahwa kerlipan lampu itu berasal dari rumah penduduk sekitar. tapi ternyata hanya lampu yang berasal dari kendaraan motor lainnya yang berselisih arah.
Masih belum nyadar apa yang terjadi. tapi saya merasa perjalanan kali ini kok rasanya jauh banget. bahkan saya sempat ngerasa kalo saya sudah tersesat. merasa tidak mengenali jalan yang sedang di lalui itu, kok ya rasanya nggak ada ujungnya, gitu loh. secara, kebetulan memang jalannya lurus sepanjang kiloan meter. Tapi saya terus saja memacu laju motor ke angka melebihi 60 km/jam.
mulai kuatir, laju motor mulai dilambatkan, berusaha melihat kiri kanan dan mencoba mengenali daerah yang dilalui dengan bantuan sorotan lampu motor. karena takut melihat sesuatu yang aneh, saya cuma berani lirik dikit-dikit ke arah serong kiri dan kanan. setelah beberapa saat, akhirnya saya melihat pertigaan jalan yang sangat saya kenal. Baru sampai disana saya menyadari kalo ternyata listrik di sekitar daerah itu padam serentak. berdasarkan fakta bahwa, di sekitar daerah itu, terdapat beberapa rumah penduduk yang seharusnya memberi sedikit penerangan kepada pengguna jalan. Makanya, pemandangannya lain sama sekali.
Sumpah, sebenarnya saya takut lho! takut nggak bisa nyampe rumah, takut tersesat. Bayangin aja, semua gelap. benar-benar gelap. yang bisa dilihat hanya jalan lurus sejauh 2 sampai tiga meter kedepan. itu pun karena lampu kota yang menyorot dari arah motor yang saya kendarai.
mana saya kedinginan diterpa ganasnya angin malam karena nggak make jaket lagi. abis nggak niat pulang ba’da magrib sih. belum lagi rintik-rintik hujan mulai menetesi hidung dan pipi saya. Parahnya, hanya sesekali dari yang berlawanan arah muncul satu-dua kendaraan lainnya. itupun hanya berlangsung untuk beberapa detik, selanjutnya, kembali saya sendirian.
Tapi saya coba untuk kuatkan hati. terus memacu motor dengan setenang mungkin. pada akhirnya, berkat bantuan kilat yang selintas menjalar di langit atas depan saya, persimpangan rumah saya mulai terlihat, Baru setelah itu mulai bisa bernafas dengan lega. dan akhirnya saya bisa sampai rumah dengan selamat.
BTW, untung aja kilatnya menjalar ke arah samping bagaikan lukisan ranting putih di kanvas berwarna hitam, bukan menukik ke arah bawah. melihatnya saja sudah cukup membuat kengerian di hati bertambah, kalo saja seandainya betepatan dengan itu persimpangan rumah saya tidak terlihat.
Hufffh…
Kerja sekalian jalan-jalan lah…
khan enak, jadi ngerti daerah lain…
Ya udah, nanti kalo misalnya ke daerah Sumbar lagi, dan butuh bantuan you can call me ^^
*iri sama yang udah kerja*
[...] gambar jalan lurus favorite saya. Pagi, siang , sore, malam, saya selalu suka lewat jalan ini [ada yang tahu cerita ini?]. Diambil saat pulang kerja, di hari yang gerimis. Jam 6.05 [...]
June 3, 2008 at 10:27 am
Tinggal di mana sih mbak? Kayaknya terpencil amat.