Sejak membaca tulisannya Geddoe yang berjudul Chinese Sleep Chant, yang berakibat saya komen seperti ini…
“I really have to think much more about this. about this good or bad, related to some other people’s stand of believe, sometimes bother me. But, I have to fix my self first. Trying to be better person. Especially, when reading about Religion’s issue *sigh*
Setelahnya, saya jadi menyesali banyak sikap, pernyataaan, dan tindakan saya. malu pada yang telah berlalu. bagusnya, munkin saya tidak akan sampai ke fase ini, kalo nggak melalui fase mamalukan itu. Jadi benar-benar mikir, dan make a decision, eventhough making decision is difficult.
Walaupun perasaan terganggu dengan keyataan bahwa diluar sana terdapat banyak keyakinan yang menentang keyakinan yang saya miliki —dimana saya meyakini Tuhan ADA, disebut dengan “Allah”, dan the Only One— itu masih ada, tapi, bila saya mendapati diri tidak dapat menahan diri untuk tidak berkata sinis, ad hominen dan hal yang sejenisnya terhadap tulisan atau komen yang jelas-jelas menyatakan Statement keyakinannya, seandainya saya menemukan hal semacam itu, maka saya memutuskan untuk let the things go, and just keep silent or probably next to indifferent stand.
kenyataan betapa saya telah keras kepala mengabaikan peringatan Al-Quran, yang menyatakan bahwa Tidak akan beriman orang-orang yang hati nya Ingkar. Betapa saya tidak mencerna informasi Al-Quran, kenyataan bahwa, walau Allah telah mengutus nabi dan Rasul tapi tetap, banyak saja yang membantah kebenaran itu. Apa karena kebenaran itu nggak cukup memiliki bukti yang kuat? atau ada penyebab lainnya? yang jelas ayat-ayat berikut, sedikit mewakili jawabannya.
dan orang-orang kafir berkata, “(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), … (al-Furqan:4)
…
kemudian, setiap Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut. Setiap kali seorang rasul datang kepada suatu umat, mereka mendustakannya, maka Kami silih gantikan sebagian mereka dengan sebagian yang lain (dalam kebinasaan). dan kami jadikan mereka bahan cerita (bagi manusia). Maka binasalah kaum yang tidak beriman. (al-Mu’minun:44)
…
Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan (al-Furqan:56)
Intinya, memang, keyakinan dan iman itu letaknya dihati. dan keyakinan itu pilihan pribadi masing-masing. Semua informasi telah tersedia. Silahkan pilih info yang mana yang cocok dengan anda. saya menyadari Anda punya hak untuk itu. dan sayapun menyadari, nggak ada gunanya memaksakan sesuatu pada orang lain. Cukup mengatakan apa yang saya perlu katakan, mengenai orang itu menerima atau tidak terhadap apa yang saya sampaikan itu bukan urusan saya.
Tapi, itu tidak berarti menutup kemungkinan saya untuk turut komen di bahasan tentang agama dan keyakinan itu. Yah, setidaknya, saat saya merasa bisa menahan diri dari sinisme dan sikap buruk lainnya, maka akan saya lakukan.
in other side, there’s another thing. related to the religion matter and the ethic’s teaching, as a matter of fact, I really can’t stand to the people’s attitude toward their believe. I found people where they declare themselves as muslim, but still, they keep playing with the others religion terms and symbols in their statement.
well, for me, that is kind of “memperolok-olokan” agama. Bukannya berfikiran sempit, tapi, misal kalo misalnya saya punya suami, lalu, suami saya menyebutkan nama perempuan lain dalam pembicaraannya yang mengindikasikan bahwa nama itu memiliki arti tertentu baginya, tentu saya akan sangat cemburu.
begitu juga dengan istilah keagamaan. Karena saya Islam, berat bagi saya menggunakan istilah “Jesus” dalam menyebutkan nabi Isa. Terlepas dari asal mula kata “Jesus” itu sendiri, “Jesus” itu sudah mengalami penyempitan makna. Karena sejauh pengetahuan saya, “Jesus” itu adalah sebutan Umat nasrani terhadap seseorang yang menyerupai nabi Isa, yang mati di salib yang mereka anggap sebagai tuhan atau anak tuhan or something like that. Dan apapun penjelasannya, saya tidak ingin membuat sesuatu yang jelas menjadi bias, dengan memberikan argumen apapun terhadap kenyataan itu.
apapun itu, bagi saya: istilah, simbol, dan lain sebagainya adalah merupakan identitas. Bila seseorang menggunakan identitas yang bukan dirinya, maka apa namanya itu?
Saya lebih menghargai teman kristen yang menggunakan “Salam sejahtera” dalam memberi salam, dari pada mendengar umat non muslim mengatakan “Astaghfirullah” ketika kaget.
Yah, begitulah…