Posted by: Snowie on: September 15, 2008

Saya mempercayai bahwa didalam diri manusia ada sesuatu yang dinamakan perasaan. karena namanya perasaan, jadi dia bukan suatu yang bersifat kongkret apalagi berwujud.
Perasaan yang ada didalam diri manusia itu bermacam-macam, dan kadang nggak ada hubungannya dengan bukti fisik. Nggak percaya?
Penjelasannya begini, dimata orang yang sedang jatuh cinta, semua akan terasa indah. Rintik hujan terdegar bagai Allegro Concerto No.3-nya Bach, Awan mendung terlihat bagai selimut langit kelabu dengan keromantisan tersendiri, dan tiupan angin lembab terasa sejuk diwajah…
Pertanyaannya, apakah iya seperti itu? coba tanya pada orang yang hatinya penuh dendam. Jawabannya akan lain sama sekali.
Dan pada kenyataannya, Gerimis tetaplah air yang jatuh dari langit dengan volume tertentu setiap rintiknya. mendung tetaplah awan berat dengan kandungan air yang sangat banyak datang menutupi pancaran sinar matahari, dan angin tetaplah aliran udara dari tekanan tinggi ke tekanan yang rendah.
jadi, sekali lagi perasaan tetaplah perasaan yang kadang nggak terlihat hubungannya dengan sebuah kenyataan rill.
Nah,bagaimana dengan perasaan miskin. Bukan, bukan miskin seperti pengertian umum. Tapi perasaan dimana kita merasa miskin. Dalam artian saat kita menginginkan suatu benda namun kita tidak mampu membelinya karena alasan finansial. Bukan berarti benar-benar nggak punya uang. Tapi, uang yang ada tidak mencukupi untuk itu.
lalu, kapankah perasaan miskin itu muncul? Apakah saat anda tidak bisa membeli rumah mewah? atau nggak bisa beli Kijang Innova vvti? Atau nggak bisa beli SmartPhone keluaran blackberry? nggak bisa beli kamera DSLR? nggak punya Ipod keluaran Apple? atau apa?

Bagaimana dengan ini, pernahkan perasaan miskin muncul saat anda pengen beli Vinetta Brownise sekarang harganya udah mencapai Rp 30 ribu, tapi nggak punya uang untuk itu. Atau saat anda lagi pengen Tobleron, uang yang ada nggak cukup. Atau saat melihat berapa harga sepotong Blackforest isi saus strobery di dalamnya. Duch, bisa dibayangkan betapa sedihnya perasaan hati.
Intinya, menurut pengamatan saya, Hal yang paling utama itu dalam hidup manusia adalah memang makan. Maksudnya, ada khan orang yang melakukan tindak kejahatan hanya untuk mendapatkan makanan. Trus, orang-orang kaya itu, mereka merasa kaya saat bisa makan makanan di restoran mewah.
Nggak percaya? Saat anda berjalan di tengah teriknya matahari padang pasir dan sudah merasa sangat haus, mana yang akan anda pilih saat diberi dua pilihan antara Jus Mangga atau Sony Ericsson K850i?
Atau, saat anda nggak makan-makan selama beberapa hari, mana yang akan anda pilih antara Voucer makan selama sebulan penuh atau Spa gratis setahun?
Mungkin itu kenapa puasa itu adalah menahan lapar dan haus. Saat anda makan atau minum, artinya anda nggak puasa. Artinya lagi, puasa itu menahan diri dari memakan atau meminum sesuatu walaupun saat itu makanan dan minuman itu ada dihadapan anda. karena, saat anda makan, saat itu juga puasa anda batal. Beda dengan hal lain. marah misalnya, kalo pun anda marah saat puasa, puasa anda tidak otomatis batal, paling cuma rusak saja amalnya, tapi anda masih bisa dikatakan puasa.
Ah, Tuhan itu memang maha mengetahui. ya jelas, kan Dia yang menciptakan manusia.
Ngomong-ngomong, kok perut saya sakit ya? Jadi ingat masih nyimpan Satu batang silverQueen ukuran 68 gr di kulkas
September 15, 2008 at 4:22 pm
Awalnya membahasa pergulatan nilai dan nihilisme, tapi kok setelahnya langsung melompat ke puasa, ya? Apa tidak non sequitur? Atau saya belum bisa menangkap relasinya?
BTW, selamat berpuasa. Semoga tidak ada yang batal.