Posted by: Snowie on: November 15, 2008
Banyak yang bilang, bahwa kesamaan itu membuat orang-orang bisa lebih mudah dalam mengerti satu sama lain. Mungkin itu benar. Saat kita melihat seseorang bersikap sedemikian rupa, dan kita ternyata memiliki karakter yang sama dengan orang itu, unconsciously kita mengerti kenapa ia bersikap demikian. sehingga kita bisa lebih menerimanya ketimbang orang lain yang nggak tahu sama sekali.
There’s a story….
***
Ini mengenai seorang left-handed. khususnya dalam hal menulis. Dia masih ingat, dulu sekali, waktu masih di kindergarten, dia pernah ditegur gurunya karena menggambar pake tangan kiri. Guru tersebut memindahkan krayon ditangan kirinya ketangan kanan. ia diam saja. tapi saat guru tersebut berlalu, ia kembali mempergunakan tangan kirinya tersebut.
Dan kebiasaannya tersebut berlanjut.Akibatnya, masalah yang sama terulang lagi. sang guru memintanya untuk menulis dengan tangan kanan. Tapi tidak seorang gurupun yang berhasil membuatnya berubah pikiran.
Sering juga, ia juga diminta teman temannya yang penasaran untuk mau mencoba menulis dengan tangan kanan. Untuk mencoba saja, apasalahnya pikirnya. tapi, apa yang terjadi, menulis menjadi sebuah siksaan. Memang hasilnya nggak terlihat begitu kacau, tapi proses tersebut membuatnya mengerahkan seluruh tenaga dan konsentrasinya.
Sebenarnya, ia kesal juga. Kenapa sih orang-orang ini! kok segitu ributnya mempermasalahkan ke left-handed-annya. Kan cuma nulis. makan dan hal-hal lainnya masih dilakukannya dengan tangan kanan.
apa hal itu benar-benar membuat mereka para pengguna tangan kanan terancam? Apakah menulis dengan tangan kiri itu sebuah aib? sebuah keburukan? sesuatu yang wajib dirubah?
Demi Allah, dia juga nggak habis pikir, kenapa dari awal dia memang left-handed. belakangan, saat ia telah dewasa, ia menyadari bahwa dalam setiap tingkatan dari satu sekolah, para left-handed paling hanya beberapa orang.
Apakah itu merupakan kesalahan orang tua mereka? tapi kenapa dalam satu keluarga, ada seorang left-handed sementara saudaranya yang lain pengguna tangan kanan. sementara mereka masih memiliki orang tua yang sama. Dan mendapat pendidikan dan perhatian dalam kadar yang nyaris sama pula.
Ia pernah ingat, seorang gurunya pernah mengatakan. “Kalo kamu nulis pake tangan kiri begitu, gemana caranya kamu nanti jadi guru?” Saat mendengar perkataan gurunya tersebut ia berkata dalam hati kalo gitu, saya nggak mau jadi guru”.
Tapi kenyataan berkata lain. Hasil Ujian UMPTN ‘mendorongnya’ ke Education field di sebuah University. Dan akhirnya membuatnya menjadi seorang Teacher. Nggak tanggung-tanggung, one of them is at the Elementary school. The pleace where she decided not to be a teacher.
Problem lama terulang lagi. dihari pertamanya ngajar, seorang rekan guru melihatnya menulis dengan menggunakan tangan kirinya, sang guru tersebut menegur dengan sopan.
“Nulis dengan kiri ya buk? Nanti gemana di depan anak-anak? padahal Saya sudah mewanti-wanti para murid-murid, terutama dikelas VI untuk tidak menggunakan tangan kirinya dalam menulis….”
“lihat nanti lah buk….” dia menjawab.
Akhirnya saat ia mengajar di kelas VI, ia mendapati seorang anak menulis dengan kirinya. Oh well….
Bukan apa-apa, pengalamannya itu membuatnya jadi lebih bersimpati pada para siswa left-handed yang ditemuinya. Setidaknya, ia tidak akan meminta pada anak tersebut untuk mempergunakan tangan kanannya dalam menulis. because she knows how does it feel…
November 15, 2008 at 5:49 pm
…guru yang di zaman modern ini masih berkeyakinan kuno kayak gitu mending dipecat, minimal disuruh sekolah ulang kalo masih mau kerja