Posted by: Snowie on: June 2, 2009
Tangan ku gemetaran, lutut ku goyah, badan ku melemas. Tapi aku harus bertahan sekuat tenaga untuk terlihat tegar. Ini harus ku lakukan. Aku HARUS tunjukkan pada mereka aku bisa mengintimidasi mereka dengan segenap self-esteem dan status sosial ku di mata mereka.
***
Tadi, sepulang dari ngajar les, aku melihat sekumpulan anak sekolah berkumpul tepat di depan simpang tiga jalan masuk ke arah rumah ku.
Aku bertanya-tanya apa yang sedang mereka lakukan di sana. Ketika sudah sampai di persimpangan dan bermaksud untuk membelokkan motor, aku makin curiga dengan keberadaan mereka. Untuk memastikan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dengan masih duduk di atas motor yang tetap menyala, aku bertanya apa yang sedang mereka lakukan di sana pada salah salah seorang dari mereka. Tapi yang ditanya bukannya menjawab, malah pasang tampang bingung dan beberapa diantara mereka malah memilih pergi. Mendapati hal itu aku melihat kearah pandangan beberapa anak lain, yang dengan ekspresi entah bagaimana, melihat ke satu titik di seberang jalan dari tempatku berada. Sayang tempat yang di tuju tak dapat dilihat dari keberadaanku semula. Jadi kuputuskan untuk mematikan mesin dan turun dari motor menuju tempat yang dimaksud. Dan tahulah kita apa yang sedang terjadi.
.
.
.
Di sana, lapangan pinggir jalan yang datarannya lebih rendah sekitar 1 meter dari permukaan jalan, terlihat dua anak laki-laki berseragam SMA sedang bergumul seru. Aku mendekat sambil mengatakan beberapa kalimat yang kupikir bisa menghentikan mereka meskipun diucapkan dengan nada yang cukup rendah. Aku sudah cukup letih (karna baru pulang dari ngajar dan bawa motor itu ternyata melelahkan juga) dan tegang untuk bisa menjerit-jerit memarahi mereka…
…dan setelah lebih dekat, ternyata yang sedang kelahi itu, salah satunya adalah mantan murid ku (aku pernah mengajar di kelasnya satu semester lebih sebelum aku keluar dari sekolah ybs.
Mengetahui keberadaan ku, mereka menghentikan pergumulannya dan memisahkan diri. Setelah itu, aku beralih mengomeli yang lain yang cuma menyaksikan saja kejadian itu. Bukannya melerai ke duanya, malah dijadikan tontonan. Apa sih yang mereka pikirkan?
Tapi aku bersyukur, karena akhirnya mereka mau berhenti sesaat setelah keberadaan ku di sana.
Ku akui, aku bukan guru mereka lagi, tapi ternyata status pernah menjadi guru mereka sudah cukup untuk menghentikan mereka.
Aku merasa, seandainya beberapa di antara mereka bukan mantan murid ku, atau Aku tidak pernah jadi guru salah seorang dari mereka, Aku nggak yakin mampu menghentikan pergumulan tersebut dengan cepat. Bahkan aku malah ragu punya cukup keperdulian untuk berani ikut campur.
Sebenarnya aku juga gak begitu yakin dengan diriku mengingat aku bisa dikatakan masih sangat muda untuk selevelan anak SMA dan pengalaman mengajarku juga belum genap satu tahun, apalagi masalah di luar jam sekolah. Namun aku senang juga, karena mereka masih punya jiwa menghargai orang yang lebih dewasa dan aku yakin terlebih lagi berdasarkan status sosial ku di mata mereka. Karna bagi seorang murid, seorang guru tetaplah seorang guru sampai kapanpun. Meski mereka tidak lagi belajar dengan guru yang dimaksud
Ah syukurlah mereka sudah berhenti. Semoga mereka tidak lagi mengulanginya. Walau aku meragukannya.
Ah, anak cowok. Suka kali berantem sebagai jalan menyikapi masalah. *sigh*
June 6, 2009 at 2:33 am
Hmm… Jadi mas/mbak Snowie profesinya guru?
Mulia sekali ^^
sebenarnya berkelahi bukan hanya untuk menyelesaikan masalah, tapi juga sebagai ajang pamer kekuatan atau gaya-gayaan bagi seorang laki-laki (biasanya yang senior kepada juniornya)
dan ini sepenuhnya sulit sekali diubah, bahkan di negara maju sekalipun…