Archive for July, 2009

Song for Every Moment

1. Breakaway – Kelly Clarkson

Grew up in a small town, And when the rain would fall down
I’d just stare out my window, Dreamin’ of what could be
And if I’d end up happy, I would pray
Wanting to belong here,But something felt so wrong here
So I prayed I could break away

I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly
I’ll do what it takes till I touch the sky
And I’ll make a wish, take a chance, make a change, And break away
Out of the darkness and into the sun
But I won’t forget all the ones that I love
I’ll take a risk, take a chance, make a change, and break away

2. Can’t stop the rain – Air Supply

Why do we spend time alone
Why don’t we end nights together
Isn’t it time to come home
I can’t stop the rain from falling
Do what you must do, I can only hope to show
The love I have for you, have for you

3. If I let you go – Westlife

Day after day, Time pass away N’ I just can’t get you off my mind
Nobody knows, I hide it inside I keep on searching but I can’t find
The courage to show, To letting you know

And once again I’m thinking about, Taking the easy way out
But if I let you go, I will never know
What my life would be, Holding you close to me

4. White flag – Dido

I will go down with this ship
And I won’t put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I’m in love and always will be

5. A new day has come – Celine Dion

Everyone told me to be strong, Hold on and don’t shed a tear
Through the darkness and good times, and the world thought I had it all
But I was waiting for you
I see a light in the sky, Oh, it’s almost blinding me
I can’t believe I’ve been touched by an angel with love
Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new, new sun

A new day has…come
where there was weakness, I found my strength

6. I have a dream – Westlife

I have a dream, a song to sing
To help me cope, with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

7. Hero – Mariah Carey

There’s a hero, If you look inside your heart
You don’t have to be afraid of what you are
There’s an answer, If you reach into your soul
And the sorrow that you know, Will melt away

Lord knows, Dreams are hard to follow
But don’t let anyone, Tear them away
Just Hold on, There will be tomorrow
and In time, You’ll find the way

8. When we believe – Whitney Houston

Yet now Im standing here
My hearts so full, I can’t explain
Seeking faith and speakin words, I never thought I’d say
There can be miracles, When you believe
Though hope is frail, It’s hard to kill
Who knows what miracles You can achieve
When you believe somehow you will
You will when you believe

9. One Moment in Time – Whitney Houston

I want one moment in time, When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time, When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time, I will feel eternity

10. Bad day – Daniel Powter

Where is the moment we needed the most
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue skies fade to grey,
They tell me your passion’s gone away
You’re faking a smile with the coffee to go
You tell me your life’s been way off line
You’re falling to pieces everytime
And I don’t need no carryin’ on

Cause you had a bad day, You’re taking one down,
You sing a sad song just to turn it around
You say you don’t know, You tell me don’t lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day, The camera don’t lie
Well you need a blue sky holiday

Sometimes the system goes on the blink,
And the whole thing turns out wrong
You might not make it back and you know
That you could be well oh that strong, and I’m not wrong

11. Rhythm of the rain – The Cascades or Dan Fogelberg

*You’d better not to know the lyrics and I don’t like the lyrics either. It’s kind of sad love song aka broken heart song. But the music is nice ^-^*

12. Goodbye for now – POD

Goodbye for now, goodbye for now so long
Goodbye for now (I’m not the type to say I told you so)
Goodbye for now so long (I think the hardest part of holding on is letting go)
when will we sing, a new song, a new song

13. Leaving on Jetplane – Chantal Kreviazuk

There’s so many times I’ve let you down
so many times I’ve played around
I tell you now they don’t mean a thing
every place I go I’ll think of You
every song I sing, I sing for you
when I come back I’ll wear you wedding ring

Comments (21)

Ketidaktahuan Membawa Hikmah

Baiklah, sebelum kita memulainya, untuk membuat suasana yang pas, mari kita putar Clair de Lune-nya Debussy. (I like this musik xP )

Hari itu, Sabtu 12 Juli, di subuh yang dingin, seseorang mengetuk pintu kamarku, Oh, ternyata itu bundaku. “Nih, ada yang nelpon” katanya. (ternyata handphone ku tinggal di ruang tengah saudara-saudara) akupun menjawab telepon tersebut dengan kondisi sebagaimana orang yang baru saja bangun tidur, menjawab telpon sambil berusaha mengumpulkan nyawa. :mrgreen:
“nnngg, ya…, siapa nih? Tumben telpon pagi-pagi?
Apa? Jalan-jalan? Ke mana? Jam berapa? Oh, iya.baiklah. Aku ikuuuuuttt!!!!”
.
.
.
Kami berangkat dari Pariaman sekitar jam 6.45 pm menuju kota Bukittinggi. Berhubung hari itu ternyata malam minggu, kami kesulitan menemukan penginapan yang kosong karena tidak reservasi sebelumnya. Semua penginapan yang berada di pusat kota Bukittinggi sudah terisi penuh. Kalaupun ada yang kosong jumlah kamarnya tidak mencukupi untuk kami tempati. Secara kami rombongan.
Setelah berputar-putar sekian lama, akhirnya mobil kami berhenti di salah satu Hotel dan berasil untuk mendapatkan penginapan. Sebut saja hotel V. Saat itu sekitar pukul 10 malam.

Walaupun di plang nama tertulis HOTEL, tapi anda jangan berfikir kalo suasananya bakal semewah yang bisa dibayangkan. Hotelnya berbentuk rumah yang mana lantai 3 sebagai lantai tertinggi. Setelah melewati ruang resepsionis, Anda akan menemukan ruangan cukup luas yang di isi dengan beberapa sofa yang menghadap ke TV, dan dibelakangnya terlihat dapur. Selanjutnya, ada sekitar 2 kamar tidur yang teletak di samping kiri kanan ruang TV tadi. Di muka salah satu kamarnya ada terdapat kolam hias.

Karena memang ini adalah pertama kalinya saya nginap di Hotel, jadi saya tidak mengharapkan sesuatu yang lebih. Saya hanya berfikir bagaimana bisa mendapat penginapan yang nyaman dan tidur dengan tenang. Itu sudah cukup (Toh, saya dibayarin xP ) Saya mendapat kamar di lantai 3 bersama beberapa orang teman. Setelah selesai berbenah, saya merasa haus. Saya keluar bersama seorang gadis kecil yang biasa dipanggil “kakak”, yang juga ikut dalam rombongan, untuk mencari minum. Setiba di laintai 2 saya melihat seseorang yang dari gelagatnya merupakan penghuni tetap hotel, dan sayapun menanyakan padanya bagaimana caranya untuk saya bisa mendapatkan segelas air putih. Ia mengatakan bahwa itu termasuk layanan kamar dan sayapun diminta untuk menunggu saja di kamar.

Setelah sekian lama menunggu, yang diminta pun tak kunjung tiba, akhirnya saya memutuskan untuk kembali turun dan mengambil langsung minuman itu. Kali ini saya ditemani oleh –sebut saja– Uni Rita. Saat itu sekitar jam 11 malam. Ruangan di luar sudah sangat sepi. Yang terdengar hanya bunyi suara tipi yang masih memutarkan berita seputar meninggalnya Michael Jackson di ruang duduk. Di sana kami hanya menemukan seorang wanita setengah baya yang tampak kurus dan menderita sedang menyaksikan tayangan TV tersebut. Karena tidak ada pilihan lain, sayapun kembali menayakan perihal air minum. Dengan sangat kesusahan ia bangkit berdiri. Tubuhnya terlihat sulit digerakkan. Ia menggigit bibir bawahnya saat sedang berusaha berdiri. Melihat itu saya jadi berfikir, apakah ibu ini kena serangan struk ya? tapi kenapa malam-malam begini masih menonoton TV? sendiri lagi. Sebenarnya tidak tega melihatnya, tapi kami tidak punya pilihan lain. Akhirnya dengan susah payah beliau berhasil mengeluarkan dua buah gelas dari dalam lemari. Saya pikir, dengan gelas ditangan itu saja sudah cukup, maka saya berinisiatif dengan mengatakan bahwa kami akan menuangkannya air minum kami sendiri.

Saat beranjak dari ruangan tersebut menuju ke kamar, saya sempat berbisik pada Uni Rita.
“Ni, bikin cerita yuk. bagaimana kalo kita membayangkan kita menginap di hotel berhantu dan…”
“Hus, jangan ngomong sembarangan”
“Ah, Uni. Kan seru. kayak yang di pilem-pilem”
.
.
Tapi, berhubung yang diajak ngobrol terlihat tidak senang bercampur sedikit takut, sayapun menutup mulut dan kembali ke kamar dalam diam. Sementara perasaan saya mengatakan suasanan hotel tempat kami menginap benar-benar bisa digunakan sebagai seting cerita penginapan berhantu, ditambah lagi dengan penampakan ibu barusan. Pokoknya cocok. Dan biasanya, saya memiliki feeling yang jitu.

Setibanya di kamar, kami ngobrol sembari menunggu mata mengantuk. Sayang, ketika obrolan berakhir saya tak jua merasakan kantuk. Akhirnya saya memilih fesbukan sebentar. Sekitar jam 1 dini hari baru saya mulai bisa memejamkan mata. Di luar terdengar suara anjing melolong.

***

Jam Gadang Bukittinggi-SumBar

Jam Gadang Bukittinggi-SumBar

Pada hari Seninnya, hari pertama tahun ajaran baru. Sehari setelah kembali ke Pariaman.Saya berbagi cerita pada salah seorang teman tentang pengalaman saya menginap di holel tersebut. Awalnya hanya cerita bagaimana akhirnya saya bisa juga merasakan liburan yang sesungguhnya. Saat Saya mengatakan di mana kami menginap dan diapun berseru.
“Apa! di holel V? Ah, itu gak Ok.”
“kenapa?” saya balas bertanya.
“Ah, kakak nggak tau. Kalo Ila, nggak bakal mau nginap di sana. Biarlah Ila tidur di mobil di depan Jam gadang dari pada harus nginap di sana.”
“memangnya kenapa? tempatnya gak jelek banget kok. Lumayanlah…”
“Kakak ngak tau sih. Tempat itu kan angker. Tempat pembunuhan itu di sana. Dulunya, tempat itu kan rumah. Satu keluarga dibunuh semua oleh perampok. Tapi, ada satu anak yang nggak sampai mati. Dia yang cerita ke orang-orang. Setelah kejadian itu, nggak ada lagi yang tinggal di sana. Akhirnya sekarang dirubah jadi hotel. Teman-teman Ila yang kosnya deket sana sering lihat penampakan anak-anak kecil heboh lari-lari di rumah itu. Padahal kan sebenarnya rumah itu sepi.”
“WHATTTT! PEMBUNUHAN!? HANTU!!!!?? Oh”
“Iya. mana mau orang nginap di sana. Coba perhatikan siapa saja yang nginap di situ selain kakak dan rombongan, ada gak?”
“entahlah, tapi emang, paginya kakak nggak ngelihat banyak orang. kalopun ada mereka sepertinya bukan tamu.” Saya berujar sambil menahan ngeri di hati.
“Ha, tu khan. Orang semua udah pada tau. Di sana kawasan angker.”
“hooo, pantes. sepi. Heran juga sih kenapa kami bisa menemukan penginapan yang banyak kamar kosongnya sementara di tempat lain pada penuh semua.” (sikap cuek saya yang kebangetan itu berguna di sini)
“kakak ada ngelihat hal-hal nggak biasa nggak di sana?”
“rasanya enggak. Emang sih, ngerasa suasana yang agak gemana waktu malem, tapi kakak mikirnya, mungkin karena kakak aja berlebihan karena suka membayangkan yang aneh-aneh. tapi syukur juga kakak nggak tau. kalo kakak sampe tahu sebelumnya, tapi dengan terpaksa harus nginap di sana juga, bisa-bisa kakak menderita ketakutan.”

***

Yah, begitulah saudara-saudara. Ternyata akhir pekan saya di habiskan dengan bermalam di tempat yang terkenal angker. Sebenarnya Saya agak ngeri kalo diceritakan soal hantu. Walaupun sendirinya juga suka membayangkan yang aneh-aneh.

Teorinya begini, karena hanya dipikirkan, dengan kata lain imajinasi, saya nggak takut. Saya nggak pernah takut dengan apapun yang keluar dari pikiran saya sendiri dan berfikir, “Ah, itu khan cuma khayalan saya saja, dibuat-buat, nggak mungkin nyata.”

Berbeda dengan cerita atau ada seseorang yang bercerita mengenai penampakan roh halus. Ada unsur “kepercayaan” di sana. Percaya bahwa adanya penampakan-penampakan roh halus itu nyata adanya. Itu membuat bulu kuduk saya meremang.

Alasan itu juga, kenapa saya takut sama film horor Indonesia, seperti yang saya bahas [di sini]. Alasannya, cerita horornya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita-cerita yang sering didengar dari mulut ke mulut.

Jadi, intinya,

ada kalanya tidak mengetahui adalah sebuah berkah, dan tahu terlalu banyak bisa jadi bencana.

Setidaknya, karena akhirnya tahu juga dan merasa ketakutan sesudahnya, saya udah jauh dari tempat itu. Kadang, rasa takut itu seperti candu. Memiliki pesona tersendiri. Takut, tapi penasaran juga. Pengen juga. Jadi inget Curiousity kills the Cat-nya Arm.

Dan saya bisa mengerti dengan jelas kasus-kasus pembunuhan oleh para hantu yang terjadi pada pendatang baru yang tidak tahu apa-apa yang di pilem-pilem. Karena tidak tahu, mereka jadi tidak waspada. Ini kontra dengan pernyataan di atas sih. Yang tidak mengetahui adalah sebuah berkah.

Selanjutnya, setiap sisi kehidupan itu berpasangan. Di satu sisi baik, namun di sisi satunya lagi buruk. Di dunia ini sepertinya tidak ada satupun kebenaran yang mutlak untuk menjawab semua kasus yang berbeda, selain Tuhan tentu saja.

Comments (11)

What should I do

I’ve been thinking about this problem for years. But still, I don’t have any decision yet.

One time my mind whispered to heart. It said, just do it. But when I was going to do it, my soul said, “are you sure? Won’t you have any regret after that? There’ll be no way back then. Think it over, dear… You still have time.”

Having that, I got second opinion. Well, maybe I’ve to wait a moment. Wishing that there’ll be any change.

Day by day pass by. But still happened in the same way. That thought came again. Stronger than before. “just do it!” it said. “stop faking yourself. Life must go on and have it for yourself. What are you waiting for? It’s the BEST for you. Trust on me. Do it!”

“yeah, perhaps you’re right.” thinking in uncertain.

But soon one voice appeared. “No. Don’t do that! Just don’t give up. Not now. Please. There’ll be the way. Dry season won’t last forever. There will be rain. Just hold on, dear. Please…”

Haaaahhh. I don’t know. How long I must suffer like this? Having two different thought in one mind. Keep changing and turning around in every second.

After all, actually I really want to get rid of it, forget it FOREVER but something prevent me just in time. Why is that hard?

*listening to Tears in Heaven

Comments (10)

Gone with the Wind (Personal Edition)

Akhirnya selesai juga. Tidak menyangka akan makan waktu selama ini. Sekiar 3x lebih lama dari pertama kalinya.

Jadi begini. Tulisan kali ini akan menceritakan tentang pendapat saya setelah membaca trilogi berjudul Gone with the Wind dengan total 1674 halaman isi. Karangan Margaret Mitchell. Copyright 1936. (gak tahu deh, apa itu juga berarti pertama kali di publish :mrgreen: )

Seperti biasa, sebelum membaca sebuah buku tentunya kita akan tertarik untuk melihat dan membaca sinopsis atau tulisan apapun yang ada di cover buku —baik yang terletak di bagian belakang maupun depan buku— untuk sedikit memberi gambaran kira-kira akan seperti apa isi buku tersebut. Itulah yang saya lakukan dan menemukan kalimat yang mengesankan. Singkat namun mengesankan.

Seperti ini kalimatnya, tertulis dengan huruf kapital di bagian belakang cover.

KISAH CINTA SCARLETT O’HARA DAN RHETT BUTLER YANG TAK TERLUPAKAN SEPANJANG MASA

Dengan begitu, tentu saja saya sudah bersiap-siap untuk menemukan alur cerita yang mana akan menggambarkan cinta kedua orang tersebut, dan mulailah membaca.

***

Setting cerita dimulai pada suatu siang di bulan April 1861. Saat itu seorang gadis muda bernama Scharlett O’hara, berusia 16 tahun yang merupakan primadona di daerahnya. Tidak cantik sebenarnya tapi memiliki penampilan dan kepribadian menarik, sedang bercakap-cakap dengan dua orang pemuda kenalannya. Dari sana pembaca (saya) digiring untuk masuk ke informasi mengenai rencana pernikahan Ashely Wilkes dan Melanie Hamilton yang mana pertunangan mereka akan diumumkan pada pesta di Twelve Oaks besok malam, kediaman keluarga Wilkes.

Saya, sebagai pembaca entah bagaimana akhirnya malah terfokus terhadap penokohan Scarlett. Mengikuti semua jalan cerita melalui sudut pandang Scarlett. Dan bisakah anda mengira apa yang terjadi? Tentu saja saya kehilangan arah karena sejak perbincangan tentang Asley dimulai, diketahuilah bahwa ternyata Scarlett jatuh cinta padanya. Ia tak dapat menerima kenyataan bahwa Ashley akan menikah dengan gadis lain. Karena sudah tidak ada waktu lagi, Scarlett pun menyusun rencana untuk menggagalkan pernikahan itu pada hari pertunangan diumumkan (itulah pertama kali Scharlett bertemu Rhett Butler). Sayang, setelah dengan nekat menyatakan cinta dan ditolak, walaupun Ashley mengakui juga mencintai Scarlett tapi tak dapat menikahinya karena alasan perbedaan pola pikir, Ia gagal. Karena dendam, Scarlett memutuskan menikah dengan Charles Hamilton, kakak dari Melanie Hamilton, seorang pemuda yang tampan yang juga tergila-gila padanya, yang bagi Scarlett, Ia terlihat tolol, sehari sebelum pernikahan Ashley. Sesuatu yang pada akhirnya disesali Scarlett.

Walaupun menikah dengan orang lain, Scarlett mendapati dirinya tak dapat menghilangkan rasa cintanya pada Ashley, malah cinta itu makin dalam lagi, dan sedikitpun Ia tidak mencintai suaminya sendiri. Di masa itu pula, perselisihan antara orang selatan dan orang yankee akhirnya berubah menjadi perang, maka seluruh penduduk selatan yang berjenis laki-laki dan cukup umur pergi untuk bertempur di medan perang. Scarlett pun menjadi janda setelah 2 bulan pernikahannya.

Intinya, walaupun Sharlett telah menikah dan Ashley pun telah menikah dengan orang lain, Scarlett TETAP mencintai Ashley. Apalagi sejak Scarlett telah berubah status menjadi janda. Kini pikirannya selalu mengarah pada Ashley dan selalu mencari cara untuk mengetahui bahwa Ashley pun masih mencintai nya. Scarlett berupaya dengan segala cara, dengan segala pikiran buruk dan egonya untuk kembali memperoleh Ashley, walau apapun yang telah terjadi. Ditengah konflik itu muncullah Kapten Rhett Butler.

Setelah menyelesaikan seluruh halaman, Saya masih bertanya-tanya. Mana kisah cinta Scarlett dan Rhett? Rasanya seluruh halaman di ketiga buku, hanya ada cerita tentang keinginan besar Scralett untuk menikah dan memiliki Ashley. Ia begitu mencintai Ashley. Tapi, kenapa di sinopsis dikatakan kisah cinta Scarlett dan Rhett? Bukan Scarlet dan Ashely?

Pada akhirnya memang, setelah penceritaan yang panjang, Scarlett menikah dengan Rhett, tapi saat itupun Saya masih tidak bisa dengan yakin kalo dia sudah melupakan Ashely dan berbalik mencintai Rhett. Bahkan Rhett berulang kali mengatakan Ia tidak mencintai Scarlett dihadapannya. Walaupun pada akhirnya meminta Scarlett untuk bersedia menikah dengannya.
.
.
.
Dengan itu saya memutuskan untuk membaca ulang. Lebih focus pada Rhett dan Ashley kali ini. Barulah saya menyadari hal-hal yang dilakukan Rhett dalam usahanya mendapatkan Scarlett. Sesuatu yang saya lewatkan begitu saja. Betapa terkejutnya Saya, mendapati bahwa ternyata Rhett dengan sikapnya yang sinis dan menjengkelkan, sudah berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan Scarlett sejak Ia bertemu dengannya saat di pesta pertunangan Ashley pada bulan April 1861 yang lalu. Dan kali ini saya yakin, walau sampai akhir tidak dengan sungguh-sungguh mengakuinya, Rhett BENAR-BENAR telah jatuh cinta pada Scarlett sehingga ingin menikahinya, karena tidak ada cara lain bagi Rhett untuk mendapatkan Scarlett kecuali dengan menikahinya.

Tapi, biar begitu, saya masih merasa kurang puas dengan kisah cinta antara Scarlett dan Rhett. Saya melihatnya Scarlett hanya terjebak oleh ‘pesonanya’ Rhett. Dia tidak dengan tulus mencintai Rhett. Tidak seperti cintanya pada Ashey. Walaupun pada akhirnya cinta Scarlett pada Ashley hanya malah menyusahkan Ashley saja. Ashley begitu menderita mendapatkan cinta dari seseorang yang tak mungkin pernah bisa Ia nikahi. Parahnya lagi, Ia sebenarnya juga mencintai Scarlett dan juga memiliki keinginan terhadapnya. Tapi, itu semua juga salah Ashley sendiri. Dia yang tidak tegas.

***

Berakhirlah sudah. Banyak hal yang tidak dapat saya ceritakan di sini, sesuatu yang penting dan juga menurut saya berharga. Cerita tentang pesan moral dan juga terkait dengan kepercayaan terhadap Tuhan, kehidupan sosial yang penuh aturan, tatakrama, dan sikap sopan santun. Rasanya menyenangkan juga membaca kisah tentang masyarakat yang memiliki aturan yang jelas dan kaku dalam bergaul dan bermasyarakat pada kalangan-kalangan tertentu. Pelanggaran dan penyalahan sikap atas aturan-aturan tersebut oleh para tokohnya menjadi konflik cerita yang menarik tersendiri. Pertentangan antara ego, pemikiran-pemikiran revolusioner dan peraturan yang terlalu kaku. Ah, sayang sekali, kalau itu saya lakukan, menceritakan apa-apa yang ingin saya ceritakan, bisa-bisa saya menyaingi bukunya sendiri.  Dan rasayanya tidak akan cukup waktu sehari untuk mengetikkannya :mrgreen:
Bagi yang tertarik, silahkan baca bukunya. Jamin deh. Gak nyesel. :mrgreen:

Comments (17)