Posted by: Snowie on: July 4, 2009
Akhirnya selesai juga. Tidak menyangka akan makan waktu selama ini. Sekiar 3x lebih lama dari pertama kalinya.
Jadi begini. Tulisan kali ini akan menceritakan tentang pendapat saya setelah membaca trilogi berjudul Gone with the Wind dengan total 1674 halaman isi. Karangan Margaret Mitchell. Copyright 1936. (gak tahu deh, apa itu juga berarti pertama kali di publish
)
Seperti biasa, sebelum membaca sebuah buku tentunya kita akan tertarik untuk melihat dan membaca sinopsis atau tulisan apapun yang ada di cover buku —baik yang terletak di bagian belakang maupun depan buku— untuk sedikit memberi gambaran kira-kira akan seperti apa isi buku tersebut. Itulah yang saya lakukan dan menemukan kalimat yang mengesankan. Singkat namun mengesankan.
Seperti ini kalimatnya, tertulis dengan huruf kapital di bagian belakang cover.
KISAH CINTA SCARLETT O’HARA DAN RHETT BUTLER YANG TAK TERLUPAKAN SEPANJANG MASA
Dengan begitu, tentu saja saya sudah bersiap-siap untuk menemukan alur cerita yang mana akan menggambarkan cinta kedua orang tersebut, dan mulailah membaca.
***
Setting cerita dimulai pada suatu siang di bulan April 1861. Saat itu seorang gadis muda bernama Scharlett O’hara, berusia 16 tahun yang merupakan primadona di daerahnya. Tidak cantik sebenarnya tapi memiliki penampilan dan kepribadian menarik, sedang bercakap-cakap dengan dua orang pemuda kenalannya. Dari sana pembaca (saya) digiring untuk masuk ke informasi mengenai rencana pernikahan Ashely Wilkes dan Melanie Hamilton yang mana pertunangan mereka akan diumumkan pada pesta di Twelve Oaks besok malam, kediaman keluarga Wilkes.
Saya, sebagai pembaca entah bagaimana akhirnya malah terfokus terhadap penokohan Scarlett. Mengikuti semua jalan cerita melalui sudut pandang Scarlett. Dan bisakah anda mengira apa yang terjadi? Tentu saja saya kehilangan arah karena sejak perbincangan tentang Asley dimulai, diketahuilah bahwa ternyata Scarlett jatuh cinta padanya. Ia tak dapat menerima kenyataan bahwa Ashley akan menikah dengan gadis lain. Karena sudah tidak ada waktu lagi, Scarlett pun menyusun rencana untuk menggagalkan pernikahan itu pada hari pertunangan diumumkan (itulah pertama kali Scharlett bertemu Rhett Butler). Sayang, setelah dengan nekat menyatakan cinta dan ditolak, walaupun Ashley mengakui juga mencintai Scarlett tapi tak dapat menikahinya karena alasan perbedaan pola pikir, Ia gagal. Karena dendam, Scarlett memutuskan menikah dengan Charles Hamilton, kakak dari Melanie Hamilton, seorang pemuda yang tampan yang juga tergila-gila padanya, yang bagi Scarlett, Ia terlihat tolol, sehari sebelum pernikahan Ashley. Sesuatu yang pada akhirnya disesali Scarlett.
Walaupun menikah dengan orang lain, Scarlett mendapati dirinya tak dapat menghilangkan rasa cintanya pada Ashley, malah cinta itu makin dalam lagi, dan sedikitpun Ia tidak mencintai suaminya sendiri. Di masa itu pula, perselisihan antara orang selatan dan orang yankee akhirnya berubah menjadi perang, maka seluruh penduduk selatan yang berjenis laki-laki dan cukup umur pergi untuk bertempur di medan perang. Scarlett pun menjadi janda setelah 2 bulan pernikahannya.
Intinya, walaupun Sharlett telah menikah dan Ashley pun telah menikah dengan orang lain, Scarlett TETAP mencintai Ashley. Apalagi sejak Scarlett telah berubah status menjadi janda. Kini pikirannya selalu mengarah pada Ashley dan selalu mencari cara untuk mengetahui bahwa Ashley pun masih mencintai nya. Scarlett berupaya dengan segala cara, dengan segala pikiran buruk dan egonya untuk kembali memperoleh Ashley, walau apapun yang telah terjadi. Ditengah konflik itu muncullah Kapten Rhett Butler.
Setelah menyelesaikan seluruh halaman, Saya masih bertanya-tanya. Mana kisah cinta Scarlett dan Rhett? Rasanya seluruh halaman di ketiga buku, hanya ada cerita tentang keinginan besar Scralett untuk menikah dan memiliki Ashley. Ia begitu mencintai Ashley. Tapi, kenapa di sinopsis dikatakan kisah cinta Scarlett dan Rhett? Bukan Scarlet dan Ashely?
Pada akhirnya memang, setelah penceritaan yang panjang, Scarlett menikah dengan Rhett, tapi saat itupun Saya masih tidak bisa dengan yakin kalo dia sudah melupakan Ashely dan berbalik mencintai Rhett. Bahkan Rhett berulang kali mengatakan Ia tidak mencintai Scarlett dihadapannya. Walaupun pada akhirnya meminta Scarlett untuk bersedia menikah dengannya.
.
.
.
Dengan itu saya memutuskan untuk membaca ulang. Lebih focus pada Rhett dan Ashley kali ini. Barulah saya menyadari hal-hal yang dilakukan Rhett dalam usahanya mendapatkan Scarlett. Sesuatu yang saya lewatkan begitu saja. Betapa terkejutnya Saya, mendapati bahwa ternyata Rhett dengan sikapnya yang sinis dan menjengkelkan, sudah berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan Scarlett sejak Ia bertemu dengannya saat di pesta pertunangan Ashley pada bulan April 1861 yang lalu. Dan kali ini saya yakin, walau sampai akhir tidak dengan sungguh-sungguh mengakuinya, Rhett BENAR-BENAR telah jatuh cinta pada Scarlett sehingga ingin menikahinya, karena tidak ada cara lain bagi Rhett untuk mendapatkan Scarlett kecuali dengan menikahinya.
Tapi, biar begitu, saya masih merasa kurang puas dengan kisah cinta antara Scarlett dan Rhett. Saya melihatnya Scarlett hanya terjebak oleh ‘pesonanya’ Rhett. Dia tidak dengan tulus mencintai Rhett. Tidak seperti cintanya pada Ashey. Walaupun pada akhirnya cinta Scarlett pada Ashley hanya malah menyusahkan Ashley saja. Ashley begitu menderita mendapatkan cinta dari seseorang yang tak mungkin pernah bisa Ia nikahi. Parahnya lagi, Ia sebenarnya juga mencintai Scarlett dan juga memiliki keinginan terhadapnya. Tapi, itu semua juga salah Ashley sendiri. Dia yang tidak tegas.
***
Berakhirlah sudah. Banyak hal yang tidak dapat saya ceritakan di sini, sesuatu yang penting dan juga menurut saya berharga. Cerita tentang pesan moral dan juga terkait dengan kepercayaan terhadap Tuhan, kehidupan sosial yang penuh aturan, tatakrama, dan sikap sopan santun. Rasanya menyenangkan juga membaca kisah tentang masyarakat yang memiliki aturan yang jelas dan kaku dalam bergaul dan bermasyarakat pada kalangan-kalangan tertentu. Pelanggaran dan penyalahan sikap atas aturan-aturan tersebut oleh para tokohnya menjadi konflik cerita yang menarik tersendiri. Pertentangan antara ego, pemikiran-pemikiran revolusioner dan peraturan yang terlalu kaku. Ah, sayang sekali, kalau itu saya lakukan, menceritakan apa-apa yang ingin saya ceritakan, bisa-bisa saya menyaingi bukunya sendiri. Dan rasayanya tidak akan cukup waktu sehari untuk mengetikkannya ![]()
Bagi yang tertarik, silahkan baca bukunya. Jamin deh. Gak nyesel.
1000-an halaman ya…
Lebih menarik mana ya dengan membaca Al-Qur’an…
*nyempetin baca fokus postingan di atas*
hmm… saya jadi penasaran, jangan-jangan kalau mbak nanti dijodohin, kisahnya bakal mirip-mirip ini kata “wind” pada judul, metaforikal nggak sih? Siapa tahu itu sindiran, bagi orang-orang yang sifatnya seperti angin, kadang lembut, kadang menjengkelkan, kadang begini, kadang begitu.
auk ah
Menurut diriku….karena hanya membaca review crt yg dihadirkan dalam blog ini, hal yg perlu diperhatikan adalah :
scarlett dan ashley hanyalah HTS alias TTM ato teman tapi mesra…jadi diantara mereka berdua tidak ada komitmen utk “seiya sekata” ato “satu persepsi dalm menjalin hubungan”…
nah jadi cinta wajar saja kalo si ashley tdk berani tegas dgn perasaannya karena sbnrny dia juga “agak ragu” ato “setengah hati” dalam mencintai scarlett…karena keraguannya itulah lalu membuat scarlett kemudian mulai berjuang sendirian memperjuangkan cintanya….coba kalo mereka ber2 kompak….
dan keputusan scarlett utk menikah dgn rhett (terlepas dari cinta ato tdk)…itu adalah resiko….karena scarlett juga bth kepastian utk kehidupan yg selanjutnya..jadi akhirnya ya gt deh….intinya adalah wanita bth suatu kepastian dan ketegasan dari sang pria….dan pada kasus ini, rhett mampu memberikannya kpd scarlett
July 4, 2009 at 9:37 pm
ng… ebooknya ada kan ya?