Sudah lama tidak menulis. Rasanya kengen juga. Yah, postingan yang lalu hanya meng copy-paste lagu aja. Jadi, sekarang saya ingin sedikit berbagi cerita.
Jum’at kemaren, Salah satu teman LiQa’ ku yang baru aja merried bergabung kembali bersama kami. Jadilah, atas permohonanku *Ge-Er* kami membahas soal pernikahannya. Jujur, dialah teman LiQaan-ku yang pertama yang nikah didalam masa aku LQ. If you know what I mean.
Mungkin tidak hanya aku, teman-teman yang awampun banyak mempertanyakan soal pernikahan melalui Ta’aruf. Ya. Dia menemukan jodohnya melalui ta’aruf.
Pertanyaannya, “bagaimana kamu bisa yakin menikah dengan cara begitu? Khan baru kenal? blablabla”
Ok, Aku memang gak pacaran, tapi juga menolak perjodohan orang tua (lha lantas maunya gemana?
Itu nanti kita bahas)
Dia menjawab begini.
“Pertama, semua gak lepas dengan sikap tawakal dan keterlibatan Allah didalamnya. Istikarah dan berdoa meminta ditunjukan jalan yang terbaik.”
Selanjutnya,
“Yang penting kita itu punya prinsip. Sebelum kita menikah, kita harus punya kriteria utama untuk calon pendamping kita. Kalo Uni, (sebut aja begitu
) Uni berprinsip, dari dulu ingin menikah berdasarkan dengan melihat Agamanya, Akhlaknya, dan fikrah-nya. Kalo itu udah cocok, Uni gak banyak mempertimbangkan hal yang lainnya.”
Untuk agama dan akhlak, asalkan seseorang itu pemahaman agamanya bagus, akhlaknya otomatis akan ikut serta menjadi baik. Orang yang paham dengan benar bagaimana menjalankan perintah agamanya dengan baik, selanjutnya, orang itu juga akan sudah mengerti bagaimana bersikap terhadap istrinya, menafkahinya, keluarga istri, juga bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya. Karena suami adalah kepala rumah tangga. Pimpinan bagi anak dan istrinya.
Masalah Fikrah, itu jelas. Kita dan calon suami tentu harus memiliki pandangan yang sama terhadap masalah rumah tangga. Akan dibawa kemana kapal itu. Bagaimana cara mendidik anak. Keluarga seperti apa yang diinginkan. Petaturan apa yang harus diterapkan dalam keluarga itu. Semua itu harus didukung oleh prinsip sepemikiran antara suami dan istri, agar kedepannya mudah untuk mendidik anak dan mencitakan kepribadian anak yang kuat. Kerja sama yang solid, itulah istilahnya….
Dia juga menambahkan, jika kita bisa menjaga diri, maka Insyaallah kita juga akan mendapatkan pasangan yang juga terjaga. Maksud terjaga di sini adalah terjaga dari perbuatan maksiat. Lebih mengarah pada pacaran.
***
Jadi begitulah teman-teman. Proses ta’aruf itu dilakukan untuk menjaga agar niat baik sebuah pernikahan tidak dirusak oleh hal-hal yang dilarang agama. Dalam proses ta’aruf, dimulai dengan pengajuan Proposal yang berisi kriteria calon. Biasanya berupa karakter yang diinginkan dimiliki dari calon pasangan. Lalu, bila orang kriteria yang diinginkan sudah ada, maka kedua pihak akan dipertemukan secara langusung. Pertemuan itu ditemani oleh pendamping masing-masing dan selama itu akan diakan pembicaraan tentang visi dan misi dalam menikah, serta pembahasan tentang diri masing-masing. Semuanya. Bajaleh-jaleh istilah minangnya. Gak boleh ada yang ditutupi. Nanti, kalo udah cocok, maka pernikahan bisa dilangsungkan. tapi kalo ternyata dirasa nggak cocok, maka proses akan terhenti sampai disitu.
Lalu, bagaimana jika kemudian hari, setelah menikah ternyata ditemukan kekurangan pada diri pasangan masing-masing yang dulunya tidak terlihat? Biasanya, para Akhwat dan Ikhwah itu akan menganggap semua itu sebagai ujian dari Allah. Karena dalam hidup rumah tangga, tidak selamanya berjalan mulus dan tidak ada manusia yang sempurna. Tapi mereka menerimanya dengan iklas, dan tetap memegang prinsip, kembali ketujuan semula saat mereka memutuskan untuk menikah dan berumah tangga.
Saya sempat juga menanyakan ucapan seseorang yang dulu saya dapat waktu membahas topik tentang perasaan™ di sebuah blog post kepada Uni ketua LQ.
“Bagaimana dengan kasus, ada seorang akhwat yang snap lalu membubuh anak-anaknya?”
Lalu sang Uni menjawab, “Uni kira dia stress. Uni ragu kalo sang akhwat itu masih LQ. Ada banyak kasus Aktivis yang berhenti LQ setelah mereka menikah walaupun pakaiannya masih sama.
Itulah gunanya LQ. Di idalam pertemuan LQ, semuanya dibahas. Juga ada sesi Qodoya-nya (curhat). Jadi, jika salah seorang anggota LQ punya masalah, dia bisa curhat keteman-teman LQnya, cerita dan berbagi, nanti teman-teman yang lain juga akan membantu menyelesaikan masalahnya, membantu mencarikan jalan keluar, sehingga masalahnya nggak perlu ditanggung sendiri dan itu bisa menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.”
.
.
.
Dan saya baru sadar. Ternyata selama ini, calon yang diajukan orang tua, tidak ada yang memenuhi standar (susah dapet cowok baik dengan pemahaman agama yang baik sih).
Sebenarnya saya juga gak beda sama Uni yang baeru menikah diatas. Berharap mendapatkan suami yang memiliki pemahaman agama yang baik serta sepemikiran dengan saya. Setidaknya kami punya pandangan kedepan yang sama soal pernikahan.
Ok, saya memang belum jelas, akan menemukan pasangan dengan cara apa. Semoga yang terbaik. Amin.
*terhanyut dengan lagu Cinderella-nya Britney Spears*
Snowie said
Dashboard WP tampilan baru lagi. Udah berapa lama gak login via kompie ya?
*mikir*
kalo gak salah hitung, barau seminggu.
jensen99 said
Wah, tidak ada pembicaraan mengenai cinta sama sekali, berarti diluar keahlian saya kalo bgitu.
*nyegat ojek*
Kurotsuchi said
Agamanya, Akhlaknya, dan fikrah…
bibit, bobot, bebet…
ada banyak kriteria, bu… e tapi menurut saya saling pengertian, saling sabar pada masa setelah nikah, dan sikap istiqomah untuk menjaga keutuhan rumah tangga merupakan hal yang sangat vital… beberapa orang kadang terlihat kendor saling pengertiannya setelah melewati masa nikah, seolah nikah adalah garis aman setelah mereka dihantui krisis usia dan status nikah…
Kazumi said
saya jd teringat akan nasehat kakak saya “at toyyiba li toyyibi”
katanya sih…bila ingin mendapat yg baik,maka perbaikilah diri
either me sist,insyaallah saling mendoakan ya sist.
smw berawal dr niat,mendapat yg terbaik agar slalu istiqomah di jalanNya.Amin
didta said
blogwalking, salam (_ _)
Snowie said
:: jensen99
Jadi, bacanya via mobile dong.
Hati-hati. Jangan ampe nyasar ojeknya.
____
:: kurotsuchi
Iya memang. Tapi, tiga itu cukup mewakili.

Bwt, kalo udah nikah bukannya lebih pengertian lagi ya? Karna udah jadi pasangan, maka saling menerima satu sama lain dalam suka dan duka.
Menikah kan lebih ke komitmen. Bentuk lain dari sepemikiran dan setujuan.
Juga, karna udah serumah, bakal banyak hal2 kebiasaan pasangan yg diketahui. Bisa jadi kebiasaan itu gak cocok dgn kita, tp kita harus bisa menerimanya. Bukankah itu pengertian namanya?
____
:: kazumi
Perbaikan diri, bukannya musti dilakukan dalam setiap kesempatan ya? Gak hanya jodoh.
Saya lebih suka kalimat yg berkata “seorang yang baik maka akan mendapatkan yang baik pula. Seorang penzina maka pasangannya penzina juga”.
Kalimatnya berupa pernyataan, jadi sang manusia dibebaskan untuk memilih pasangan seperti apa yang diinginkannya. Tapi, hasilnya tergantung dengan keadaan dirinyaj sendiri.
Amin. Manna’ajah!
____
:: didta
Silahkan. Thanks udah mampir. ^^
Kazumi said
pada intinya sih spt ayat yg mb bacakan itu.
klo yg ini…
khusus dr kakak sy buat saya,mungkin kakak saya merasa klo adekny ini blm siap….
amin……..
trus kbtulan beberapa hari stlh diwejangi spt itu adik saya posting ini
Jd mantab…..
Bahagia ja rasanya klo ada yg masih mau mengingatkan demi kebaikan…..Smoga…Allah slalu menjaga hati sy dg menjauhkanny dr keras hati/kematian hati,shg slalu bisa menerima ajakan untuk kebaikan
Kazumi said
Lho mb….koq linknya ga bisa…..
disini ya…klo mb mw baca postingan adek sy itu
http://hasanalbanna.multiply.com/journal/item/35
Salam hangat…ukhuwah islamiyah
*hug
Snowie said
Iya, benar. ^^
Sebuah keberuntungan jika memiliki orang2 seperti itu disekitar kita.
Walau tak selamanya masukan itu terasa manis di awalnya, tp di akhir kita akan merasa manfaatnya.
Salam ukhuwah jg saudari ku. Semoga Allah selalu melindungimu. ^^
Btw, thank untk sharing tulisan dari adeknya.
konayukiblue said
ahh kalau seperti ini bagaimana dengan saya?? apakah saya tidak akan mendapatkan yang baik? jiahhh hancur deh mimpi2q T.T
ahh tapi bukannya baik itu relatif?? berarti saya masih berpeluang mendapatkan orang yang baik saya
andyan said
waw
*selalu kagum melihat ada orang ta’aruf*
Snowie said
:: konayukiblue
Semoga saudara mendapatkan yg terbaik untuk anda. ^-^
___
:: andyan
Dan anda akan lbh kagum lagi, kalo tau sang Uni, sekarang, setelah sekitar 1 bulan pernikahannya, sedang tergila2 sama suaminya.
Sedang jatuh cinta dia kayaknya. Dia mengatakan, “cinta yang halal”.
omahmiring said
Ini saya bekunjung juga ta’aruf. Tak Kenal Maka Ta’aruf…
andyan said
subhanallah
kepengen juga seperti itu :blushing:
Snowie said
:: omahmiring
Ok, dozou yoroshiku, kalo gitu
Nice to know you. ^__^
_______
:: andyan
Silahkan….
izzah944 said
hmm…aku jg bercita-cita yg sama…menikah dg proses ta’aruf dulu. Saranku,… terimalah calon pasangan kita apa danya, tak usah muluk-muluk memilih calon”perfect”..
Karena siapalah kita ini yang dapat memilihkan yang terbaik selain hanya ALLAH SWT semata… cz Dy tau rahasia dari hidup kita
Snowie said
Siapa juga yang nyari “perfect guy”. Saya khan cuma bilang, kalo saya berharap dapar suami yang punya pemikiran, agama, dan keyakinan yang sama dengan saya.
Karena, kalo gak gitu, gemana kami bisa mendidik anak-anak nantinya, kalo gak sejalan.