Pariaman – Pasca Gempa 7.6SR

Sejak terjadinya gempa 7.6 SR yang mengguncang kota Padang-Pariaman, Saya banyak mendapat SMS, telpon, dan pesan di fesbuk maupun blog yang bernada khawatir atau bertanya-tanya tentang keadaan saya dan keluarga. Khusus di blog, saya membacanya via News Feed dari Horocuxs (blog saya ini) di HP, jadi saya mohon maaf, kalau ada komen di blog belum sempat saya jawab. u_u
Oleh karena itu, di sini, untuk mengabadikan membagi kenangan itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman semua. Terutama kepada Lumiere, yang paling paling paling paling sangat khawatir. Sampai bela-belain nelpon berkali-kali, nulis di wall-fesbuk, dan SMS ke HP. Lihatkan betapa ia sangat mengkhawatirkan keadaan saya. :mrgreen: Makasi banyak ya sist. You are the best deh pokoknya
.
Juga makasih banyak kepada Desti yang nanyain kabar via SMS, (walaupun kami sama-sama di daerah bencana, masih juga sempat nanyain kabar saya, :P ) Kepada Mas Gentole dan Mas Lambrtz. Asli, saya gak menyangka kalo mereka berdua itu sampe menyempatkan diri kirim pesan di blog untuk sekedar memastikan kalau saya baik-baik saja. xD Kepada mas-mas berdua, terima kasih, saya sangat terharu. Juga kepada Aris dan Rukia via fesbuk, serta Arm via Y!M.

Tapi, Saya yakin masih ada yang bertanya-tanya tentang keadaan saya, walaupun beberapa dari yang tersebut di atas sudah mengetahui detil keadaan saya belakangan. :mrgreen:

Baiklah, saya mohon maaf karena telah membuat saudara-saudara menunggu cukup lama. :P

Waktu itu hari rabu, tanggal 30 September 2009 sekitar jam 5.20 sore. Saya sedang berada di daerah pasar, dekat Pantai Gondoriah- Pariaman ketika gempa berlangsung. Sesaat setelah terjadi gempa saya langsung bawa motor ke arah rumah yang juga berarti menjauh dari tepi pantai. Tapi perlu ditambahkan, saat itu kota pariaman sedang di guyur hujan. Sesampainya di rumah, rumah sudah dalam keadaan sudah kosong. Meskipun demikian, dari depan, saya melihat kalo rumah saya baik-baik saja. Saya coba untuk menghubungi kedua orang tua, tapi tidak berhasil. Alhasil saya memutuskan untuk pergi kerumah saudara yang lain. Saat itu hari masih terang, namun disepanjang perjalanan, saya terkejut melihat betapa banyak bangunan yang hancur. Karena dari arah saya datang pertama kali sampai ke rumah, bisa dibilang saya tidak melihat ada rumah yang roboh. Jadi saya pikir, gempa barusan hanya seperti seperti yang sudah-sudah. Jadi betapa terkejutnya saya ketika tidak beberapa meter jaraknya dari rumah saya berada, hampir 80 persen bangunan rumahnya rusak berat akibat gempa.

Karena saya tidak bertemu mereka di satu-satunya rumah yang mungkin untuk mereka datangi, saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Apapun keadaannya. Dan Seandainya mereka belum kembali, saya sudah bertekat untuk tetap menunggu mereka di rumah, walau harus sendirian. Saat itu sudah lewat magrib, hujan turun sangat deras, dan listrik padam total, kanan kiri banyak rumah hancur, dan beberapa ruas jalan retak. Perjalanan kembali ke rumah benar-benar butuh keberanian extra kalo nggak dibilang nekat bin keras kepala. Belum lagi, badan menggigil kedinginan karena sudah kebasahan hujan dari sore harinya.

Sesampai di jalan depan rumah, saya melihat ada setitik cahaya yang berasal dari lampu emergency dari arah rumah. harapan saya memuncak, dan saat tiba di gerbang rumah, saya melihat bunda sedang menunggu kedatangan saya. Ia terlihat sangat lega sesaat setelah meilhat saya kembali. Kemudian, saat masuk ke dalam, barulah terlihat lantai yang dipenuhi dengan beberapa barang yang sudah hancur berantakan. Tapi Alhamdulillah, untuk benda elektronik semua selamat. Di malam itu, kami sekeluarga masih sempat tidur di dalam rumah, walau harus di ruang tamunya dan dengan keadaan pintu terbuka lebar. Itu masih jauh lebih baik dari pada keadaan para tetangga kami.

Itu tadi cerita tentang di hari kejadian beberapa saat setelah gempa.
.
.
.
Nah, buat teman-teman semua yang ingin tahu keadaan saya pasca gempa, sebenarnya, saya gak sempat On Line lama-lama di Blog dan Y!M, serta jarang up date status di fasbuk, itu karena saya sedang sibuk kerja. Bukan karena sudah jadi korban gempa atau bersedih berlarut-larut karena bencana alam yang menimpa daerah kami. Kalaupun ada hubungannya dengan gempa, ya itu tadi, pekerjaannya.

Jadi begini, mulai dari hari sabtu kemaren dulu, tanggal 3 October, saya sudah tergabung di tim Medical Service dari JDR (Japanese Disaster Relief) – JICA sebagai volunteer penterjemah. Sejak saat itu saya benar-benar sibuk. Kerja, bantuin mereka, dari pagi sampe magrib. Dari sabtu ke sabtunya lagi. gak kenal hari libur. Malemnya, habis Sholat Isya, saya langusng tepar. Tapi, biar begitu, saya sangat senang karena bisa bekerja dengan mereka. Pekerjaan menangani orang sakit jadi begitu menyenangkan. Maksud saya, saya memang gak turun langsung membersihkan luka pasien atau lain-lain, tapi saya cuma ngomong doang. (Secara pertama kali lihat mereka membersihkan luka pasien yang berdarah-darah akibat ketimpa runtuhan rumah, saya sampai hampir muntah).
Saya cuma ndengerin dokter atau perawatnya nayain dan ngomong pake bahasa jepang, trus saya terjemahin ke Pasien pake bahasa Indonesia/minang, begitu sebaliknya, dari pasien ke dokter. Haaah~ pokoknya menenangkan. kalo ada kata-kata yang tidak saya mengerti, saya tinggal minta tolong penterjemah lain yang kebetulan berada di sekitar untuk membantu mengartikan.

Sebelumnya, kalau teman-teman pembaca belum mengetahui, saya sebenarnya sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan jepang. Walaupun saya akui sebelum ini saya tidak begitu banyak membaca mangga jepang kecuali serial detective Conan, Q.E.D, Kindaichi, Detective School dan beberapa komik Serial cantik. Saya juga cuma kenal beberapa judul Dorama jepun. Dan saya hanya mengetahui budaya Jepun lebih banyak lewat NHK. So, sebenarnya, untuk realnya, saya cukup merasa asing dengan orang Jepang.

Kemudian, berada diantara mereka, terlibat secara nyata dengan mereka, (dengan belasan orang-orang asli dari Jepun yang baru pertamanya datang ke Indonesia), mendengarkan mereka berkata-kata, berbicara pada mereka, bahkan juga bercanda dengan mereka di beberapa waktu. Kenyataan itu benar-benar membuat saya senang. walaupun, di beberapa keadaan saya harus berubah jadi manusia super sabar saat menghadapi pasien yang memiliki masalah dan keinginan untuk berobat dengan penyakit agak aneh-aneh (selain yang karena gempa). Tapi, saya jadi tahu, bahwa banyak rakyat Indonesia, terutama masyarakat Pariaman sekitar yang masih minim pendidikannya soal kesehatan. Banyak diatara mereka yang gak tahu, pernah disuntik tetanus sama campak atau belum. Pesan moralnya: Pendidikan di sekolah dasar harus dilengkapi dengan pengetahuan soal Imunisasi dan vaksinasi. dan, lagi, bagi keluarga yang memeiliki anak gak tamat SD perlu dikasi sangsi orang tuanya.

Hikmahnya, saya jadi tahu beberapa hal tentang penyakit dan penanganannya. Saya juga melihat sendiri bagaimana orang-orang jepun itu bekerja menangani pasien. Yang lebih penting lagi, kalo saya sakit, saya bisa menjelaskan gejala-gejalanya dengan bahasa Jepun kalo saya suatu saat sakit dan harus berobat kepada orang Jepun. :mrgreen:

Nah, jadi itu. Saya gak sempat OL bukan karena sedang di rundung kesusahan secara pribadi, hanya sedikit sibuk. Tambahan, setelah saya bandingkan yang di TV dan yang nyata, keadaan kami, masyarakat daerah gempa tidak semuanya dalam keadaan seburuk yang seperti disiarkan oleh beberapa stasiun TV. Banyak juga daerah dan rumah yang selamat dari bencana. So, tidak usah begitu khawatir. Cukup kirimkan saja bantuan buat kami. :mrgreen:

BTW, sesaat setelah saya mempostkan tulisan ini, saya masih akan tetap sibuk. Jadi, maaf, kalo masih juga belum sempat blogwalking, say hello to teman-teman se-blogospere. Tapi kali ini bukan lagi sebagai penterjemah bagi orang-orang Jepun, (karena mereka sudah akan berangkat ke Jepang pada hari Selasa Pagi, tanggal 13 Oct 2009. Minasan, sayonara ne… :cry: ) tapi buat MSF, team medical service dari prancis, tapi dengan menggunakan bahasa Inggtis.

Akhir kata, bagi yang berkenan, saya mohon doanya agar kami, masyarakat di daerah Gempa, cepat kembali pulih kehidupannya, atau mungkin bisa bangkit dan hidup dengan lebih baik lagi kedepannya.. Sehingga tidak perlu lagi, setiap jalan keluar, kejalan-jalan utama, melihat orang-orang asing dari berbagai daerah se Indonesia dan negara se Dunia berseliweran memenuhi jalan-jalan dengan mobil-mobil ber”merek” di kota kecil kami yang damai. You know, somehow, it’s rather depressing to see so much “branded car”, Ambulance, Fire Fighting Car with their sirine and some helicopter flaying around above us with a noisy sound. x(

Sesi penanganan pasien

P.S

Authoritas gambar terletak pada pemilik blog Horocuxs. So that, Gambar gak boleh diunduh tanpa izin. Lebih lengkap baca Discalimer  di samping kanan post atau di sini.

28 Comments »

  1. Snowie said

    Arm, ini maksud dari bitter sweet yang saya bilang di Y!M. :)

    Buat teman-teman yang kirim pesan di “this is me” dan di beberapa post di blog ini, maaf ya, belum sempat di jawabin satu-satu. Ishogashikute de, Gomen ne… m(_ _)m

  2. Arm said

    hoo… jadi bukan menjadi korban gempa ya, syukur deh :)

    wah, itu pengalaman berharga tuh, bisa berinteraksi dengan banyak orang asing yg tampaknya cukup profesional :)

    tim relawan dari jepang? jadi inget Tokkyu, ada kaptennya yg dikirim ke Indonesia :mrgreen:

    Walaupun saya akui sebelum ini saya tidak begitu banyak membaca mangga jepang

    lebih enak mangga harum manis sih ya bu :roll:

  3. TamaGO said

    wah Arm teliti juga sampe nyadar tulisannya mangga :p

  4. Lumiere said

    ^
    si Arm pengacau! masak typo bgtu aja jadi olok2 sih, maklumi dong kondisi penulis waktu mengetik ini…

    hai Uni ^-^ jangan kepincut sama Jepun2 itu yah, inget.. mereka kan penjajah! :twisted: *aselinya sirik aja*

  5. nahdhi said

    Syukur lah Ada Blogger yang Reportase kondisi sebenarnya. Gak kayak di TV yang lebih mirip “aset jualan”….

  6. Kazumi said

    Alhamdulillah mb…
    Klo sy sih g di balas gpp,yg penting mb n keluarga OK
    *Dapat kabar dari Rukia
    Salut buat mb,
    Kami dari sini selain berdoa,juga menghimpun bantuan ala kadarnya,dan wallahua’lam sampai kesananya :(
    Kr berdasarkan info,medan disana sulit di jangkau transportasi darat.
    Tapi tetap semangat ya…
    *kan kita harus saling menguatkan :D

  7. Ali Sastro said

    hooo jadi penerjemah toh; di daerah padang atau pariaman? sempat ke satkorlak di gurbernuran kah? saya ke padang pariaman pada hari pertama; tidak sempat ke kota pariaman. rada hektik; karena naik motor, dan sempat jalan jauh sekali naik turun bukit menuju lokasi longsor di lubuk laweh. selesai liputan sore; kantor di jakarta suah ribut-ribut deadline. sisanya saya lebih sering di padang. saya kira mbak lagi bersedih2. :mrgreen:

    btw, media TV memang suka membesar-besarkan; koran juga sih. kalo depresi melihat mobil relawan yang keren dan helikompter, ambil positifnya aja. bikin jaringan sama NGO2 besar itu; karena proses recovery/rehabilitasi kan bakal berlangsung lama. lumayan buat pengalaman.

    postingannya bagus;

    saya sampe sekarang belum bisa menulis soal liputan sumbar di blog. btw, sumbar alamnya memang sangat indah.

  8. Turut berduka cita, btw banyak teman-teman saya yang kesana tuh, semoga Mbak sekeluarga bisa bersabar dan sehat selalu ya

  9. Snowie said

    :: Arm

    Iya. Alhamdulillah, bisa dibilang semua baik-baik saja di keluarga saya. Dan yang paling penting, semua keluarga dan saudara-saudara kami selamat. Alhamdulillah. :)

    wah, itu pengalaman berharga tuh, bisa berinteraksi dengan banyak orang asing yang tampaknya cukup profesional :)

    Banget. Terlebih lagi, saya jadi kenal Dokter dan Nurse asli dari Jepang, and we’re having contact then. :P Mungkin, suatu saat, kalo saya sampai di Jepang, saya sudah memiliki orang-orang yang bisa saya kunjungi. :mrgreen:
    Ah, JDR no minasan to isshoni shita ga, wasureta koto desu.

    lebih enak mangga harum manis sih ya bu :roll:

    Ah, saya lebih suka mangga apel kok. Di rumah ada pohonnya :cool:
    _______________

    :: TamaGo

    Saya pikir, dia “nyadar” karna udah biasa sama term “manga,” jadi sensitif gitu kalo ada yang salah ketik. :P
    Saya tahu, di atas sana banyak yang tulisan yang salah ketik kata-katanya. Tapi, dia gak mempermasalahkan. lagian, saya juga udah gak punya waktu buat editing. Jadi ya begitulah… :)
    _______________

    :: Lumiere

    si Arm pengacau! masak typo bgtu aja jadi olok2 sih

    Gak papa kok say…. Suka-suka dialah mau ngomenin apa. ;)
    Masih mau komen aja dah bagus. :P

    hai Uni ^-^ jangan kepincut sama jepun2 itu yah, inget. mereka kan penjajah!

    Hmm… gemana ya… :cool:
    Yang penjajahkan nenek mereka. Sementara sekarang kan mereka datang buat nolongin dan ngobatin masyarakat Pariaman. :P
    Bahkan adatuh pasiennya, yang udah umur 70-an, waktu abis diperikasa dokter, cerita kalo dia ngerti dikit-dikit bahasa jepang, karena waktu dulu mereka masih kecil, Jepang pernah ada di Indonesia. Dan sang nenek dan kakek bercerita dengan ekspresi senang. :mrgreen:
    selanjutnya, mereka malah berterima kasih karena telah diobati. :P

    *aselinya sirik aja*

    *bikin Lumiere tambah sirik*

    Say, aku punya lho alamat email Dokter and Nurse jepun-jepun itu… :twisted:
    Kerennya lagi, malemnya, sebelum mereka pergi, ada gitu yang nelpon cuma buat bilang kalo mereka bakal kembali ke Jepang besok paginya, dan bilang ke saya untuk jaga kesehatan. :mrgreen:
    Oh, hampir lupa. Sekalian sama foto-foto bareng mereka. Dan fotoku juga nyampe ke Jepang bersama mereka. :lol:

    *menyaksikan Lumiere gantung diri* :twisted:
    _______________

    :: nahdhi

    Terima kasih. ^^
    _______________
    :: Kazumi

    yang penting mb n keluarga OK

    Makasi ya… Alhamdulillah kami sekeluarga baik. Tapi belakangan, saya jadi sering kagetan gitu kalo terasa getaran agak kuat. Misal, kalo tanpa saya ketahui, tanpa berbunyi ada yang membuat tempat duduk saya bergetar, saya langsung kaget gitu. ah, kayaknya saya mulai menderita sindrom trauma pasca gempa neh. x(

    Kami dari sini selain berdoa, juga menghimpun bantuan ala kadarnya, dan wallahua’lam sampai kesananya :(

    Makasi ya sist… Perbuatan baikmu dan teman-teman lain semoga menjadi berkah bagi kita semua. Tapi, saya yakin, bantuannya pasti diterima oleh orang-orang yang berada di daerah bencana. So, not need to worry. ;)

    berdasarkan info, medan di sana sulit dijangkau transportasi darat.

    Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, yang sulit dijangkau transportasi darat itu cuma beberapa wilayah di kabupaten, karena adanya longsoran yang menimbun jalan, atau jalannya sendiri yang rusak akibat gempa. Sementara, untuk jalanan di daerah kotanya, seperti kota Pariaman maupun kota Padang, itu bisa dengan mudah ditempuh dengan kendaraan darat.
    FYI, di daerah Pariaman aja, sejak H+3 sudah banyak masuk mobil-mobil dari berbagai daerah di Sumatra dan Jawa. Mis, dari daerah Aceh, Medan, Riau, Jakarta, Jogja. Dan semua mobil itu menempuh jalur darat untuk masuk ke kota Pariamannya.
    _______________

  10. Snowie said

    :: Ali Sastro

    Saya jadi penerjemah, :mrgreen: — di daerah Pariaman saja. Karena saya memang tinggal di Pariman (pusat gempa). :P

    sempat ke satkorlak di gurbernuran kah?

    Enggak. Sejak gempa saya belum sekalipun sempat pergi ke Padang.

    saya ke Padang Pariaman pada hari pertama; tidak sempat ke kota Pariaman

    hari pertama maksudnya? hari kamis, 1 October? dan hari itu ke Lubuk Laweh?

    saya kira mbak lagi bersedih2 :mrgreen:

    Kalopun saat ini saya sedang sedih, itu karna di tinggal pulang oleh tim dari JDR-JICA. xP

    kalo depresi melihat mobil relawan yang keren dan helikopter, ambil positifnya aja.

    Maksudnya, apa mas? tapi memang pening lihat mobil yang ditempeli lambang dan logo dari berbagai organisasi relawan di setiap kaca depan dan belalakang mobil, atau di badan-badan mobil.

    saya sampe sekarang belum bisa menulis soal liputan sumbar di blog

    Kalau begitu, cepetan atuh nulis na. Biar temen-temen lain juga dapat cerita yang lebih komplit lagi. :P

    btw, SumBar alamnya memang sangat indah.

    Mas percaya gak, ada suatu hari, ketika tim mobile clinic MSF spain kami pergi ke Bukit boa-boa di daerah kabupaten Padang-Pariaman, pulangnya udah hampir magrib. Sepanjang jalan, saat melihat keluar melalui jendela mobil, saya sempat-sempatnya menikmati pemandangan langit yang merah di kala senja, bergaris garis berseling dengan gumpalan awan kelabu, melewati tebing dan jurang di sisi kiri kanan jalan, hamparan sawah, diselingi bukit-bukit dan pepohonan, serta lampu-lampu dari rumah-rumah penduduk yang setengahnya dalam keadaan rusak parah, tiang-tiang penyangga rumah bermunculan keluar menjulang menuju langit yang mulai temaram. Dinding-dinding sumbing di beberapa bagian, atap-atap rumah yang miring dan bolong di beberapa tempat. Kombinasi semua itu, ditemani alunan lagu bernada melayu sayup-sayup dari tape mobil yang kami tumpangi, memberikan sebuah keindahan, tapi sedikit aneh. Rasanya sedang bertamasya di dalam lukisan tiga dimensi yang indah namun memiliki kesan suram dan sedikit mencekam. Bisa membayangkannya?

    Sekarang, bisa buktikan sendirikan, betapa pemandangan alam SumBar begitu memesona? Masih alami. Bahkan salah satu staf MSF dari jepang juga mengatakan kalau pemandangan alam tempat kami lewat indah. Foto-foto yang saya bagikan di sini belum apa-apanya. Itulah kenapa saya begitu mencintai kampung halaman saya. Yah, walaupun saya tahu dengan pasti bahwa pemandangan sejenis juga dimiliki daerah lain. :)

    BTW, tapi, setelah kejadian ini, akan seperti apa daerah kami. Terutama setelah banyaknya “Bangsa Asing” mendatangi daerah kami dan bermukin untuk waktu yang cukup lama. Belum lagi, bangunan-bangunan yang sudah hancur, akan dibangun seperti apa, karena menurut info, Sumbar masih memiliki potensi besar untuk di guncang gempa yang lebih kuat.

    Biar bagaimanapun, terutama Kota Padang, and my village will never be the same again. So many historical building were damaged and destroyed.
    _______________

    :: SP

    Alhamdulillah, saya dan keluarga dalam kondisi baik. Terima kasih. ^^

    btw banyak teman-teman saya yang kesana tuh

    Sayang sekali. Kenapa SP gak sekalian juga ikut ya… :P

  11. lambrtz said

    *baru baca*

    Kepada Mas Gentole dan Mas Lambrtz. Asli, saya gak menyangka kalo mereka berdua itu sampe menyempatkan diri kirim pesan di blog untuk sekedar memastikan kalau saya baik-baik saja.

    Hahaha same-same lah. :mrgreen:

    Saya kan juga pernah ngalami dulu di Jogja tahun 2006. Daerah saya relatif tidak parah kerusakannya, tapi kalau ke selatan atau timur sampai ke Klaten, banyak sekali rumah yang runtuh. Listrik mati beberapa jam (atau hari?), untungnya ada (kalau ga salah) hotel yang minjamin generatornya ke radio lokal supaya bisa ngasih siaran tentang info gempa. Ini jadi legenda kota nih. :D Dulu dengerinnya pake radio baterai. Terus, karena rumah saya ga tahan gempa, akhirnya dirubuhkan sebagian dan dibangun jadi lebih kuat. Saya juga sempet bergabung dengan disaster relief team UGM sekaligus KKN, ngatur sistem komputer di posko, dan sekali2 ke kantor pemerintah di kabupaten, ngasih selebaran-selebaran tentang gempa dan reparasi komputer gratis.

    Ah anyway, semoga semua baik lagi seperti dulu, dan selamat berjuang! ;)

    @Lumiere

    jangan kepincut sama Jepun2 itu yah, inget.. mereka kan penjajah!

    Barangkali kita harus belajar dari Vietnam yang kini tidak lagi membenci dan dendam terhadap USA, walaupun menurut mereka USA telah mengobrak-abrik negaranya dan membuat banyak orang Vietnam cacat, bahkan setelah perang berakhir. :)

  12. Arm said

    Ah, saya lebih suka mangga apel kok. Di rumah ada pohonnya

    :-o
    ada gitu pohonnya mangga apel? :?

    Ah, JDR no minasan to isshoni shita ga, wasureta koto desu.

    hmmm, itu para anggota JDR mengalami hal yg mirip2 Sanada di komik Tokkyu ngga ya? :cool: :mrgreen: :lol:
    *langsung baca gambar di postingan draculy ;) *

  13. Arm said

    (doh)
    link-nya rusak = =’

    ini link yg bener

    bisa diedit ga? :?

  14. Kurotsuchi said

    knowing that you’re fine is a relief :)

    dan soal berita di tivi memang beberapa miris banget koq ya… sampe2 ga tega, apalagi banyak hoax soal waktu dan ayat2 itu…

    jadi ingat, pas gempa jogja tahun 2006 silam, teman saya yang beribadah di tempat lain malah diceramahi bahwa gempa waktu itu akibat kami banyak bermaksiat… enteng aja mereka ngomong :evil:

    but, semoga semuanya bakal baik2 aja ya… :)

  15. Snowie said

    :: lambrtz

    Arigatou ne..
    BTW, buat mereka-mereka yang udah mengalami seperti apa yang kami alami, biasanya emang lebih bisa memahami keadaan kami. :P

    _______________

    :: Arm

    ada gitu pohonnya mangga apel? :?

    Aru yo!
    Maksudnya, mangganya itu, buahnya agak berbentuk seperti apel, makanya di sebut mangga apel. Juga, mangga yang bisa dimakan sekalian dengan kulitnya. Kalo mangganya masih mangkal, kita bisa makan sama kulitnya, jadinya manis. Tapi kalo mangga mangkal dimakan dengan mengupas kulit, buahnya malah jadi masem.

    Dan, saya punya pohon mangga itu di halaman belakang rumah. :P

    hmmm, itu para anggota JDR mengalami hal yg mirip2 Sanada di komik Tokkyu ngga ya? :cool: :mrgreen: :lol:

    kayaknya enggak deh. Tapi setahu saya, dua hari sebelum baik ke Jepun, ada orang JICA nya yang datang ke camp, dan dia datang untuk mengurus segala keperluan untuk ke pulangan tim JDR.

    Masalah dengan sikap masyarakat sosial Indonesia, Setiap negara dan masyarakatnya memiliki ciri-ciri sendiri. Dan kalau sudah memutuskan untuk datang ke suatu negara, yah siap-siaplah dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Life doesn,t run smoothly as we expected.
    You need to know that.

    Yah, soredemo, (setelah menbaca link) saya sendiri sebagai orang Indonesia, jengkel kalo di perlakukan seperti itu.

    P.S

    Udah dibenerin linknya.

    __________________

    :: Kurotsuchi

    Arigatou ne, Boku wa kazoku mo, daijobu datta ne. Shimpai shinaide kudasai. :P

    dan soal berita di tivi memang beberapa miris banget koq ya… sampe2 ga tega, apalagi banyak hoax soal waktu dan ayat2 itu…

    jadi ingat, pas gempa jogja tahun 2006 silam, teman saya yang beribadah di tempat lain malah diceramahi bahwa gempa waktu itu akibat kami banyak bermaksiat… enteng aja mereka ngomong :evil:

    Walaupun ada benernya, bahwa, bagi orang muslim, bencana merupakan teguran/perngatan Tuhan atas segala bentuk kemaksiatan, karna, kami akui, untuk daerah kami, masyarakat Padang-Pariaman, dulunya, merupakan masyarakat mayoritas Muslim yang taat. Sementara sekarang, kami memiliki masalah yang cukup berat tentang itu. Generasi muda kami banyak yang tidak lagi mengikuti ajaran agama atau tidak perduli lagi dengan agama, Walau sampai sekarang Kota Padang-Pariaman terkenal dengan “berjilbabnya” mayoritas muslimah, tapi moral tetap kacau. Walaupun ceramah agama meningkatkan moral selalu dikumandangkan di mesjid-mesjid. Mana belum lama habis bulan Ramadhan. :(

    BUt, after all emang NYEBELIN baca sems hoax tsb.

    BTW, aku berharap, bencana kali ini bisa membawa perubahan positif bagi kita semua. Karna, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Dan kalo kita semua bisa melewati semua ini dengan sikap yang bijaksana, maka kedepannya, kita akan lebih kuat. Amin

    Ah, sorry, malah curhat. :P

  16. Ali Sastro said

    @snowie

    Oh maaf maksudnya hari pertama saya tiba; sepekan setelah kejadian. Naik motor dari Padang. Pegel juga.

    Soal ambil positifnya itu maksudnya peluang kerja di lembaga internasional menjadi terbuka nona.

  17. Ando-kun said

    @Snowie
    Baru sadar kalau Snowie tinggal di Pariaman (cuma tau tinggal di Sumbar, tp gak jelas tepatnya). Syukurlah kalau sekeluarga baik-baik saja.
    btw, ntar cerita soal pengalaman jadi relawan dibikin postingan khusus panjang lebar aja. Sekalian tulis kesan dan pesan pengalaman interaksi dgn anggota JDR dan MSF, kayaknya menarik tuh.

  18. Snowie said

    :: Ali Sastro

    Oh maaf maksudnya hari pertama saya tiba; sepekan setelah kejadian. Naik motor dari Padang. Pegel juga.

    Naik motor ke Lubuk Laweh dari Padang? ya jelas lah pegel. Wong jauh gitu. Apalagi gak biasa bawa motor dalam perjalanan jauh. :P

    Soal ambil positifnya itu maksudnya peluang kerja di lembaga internasional menjadi terbuka nona.

    Hooo gitu…
    Tapi, saya lebih ke berharap dapat beasiswa untuk ngelanjutin S2 ke Jepang. :mrgreen:

    ________________

    :: Ando-kun

    ntar cerita soal pengalaman jadi relawan dibikin postingan khusus panjang lebar aja. Sekalian tulis kesan dan pesan pengalaman interaksi dgn anggota JDR dan MSF, kayaknya menarik tuh.

    Gak janji ye.. Tp oke lah diusahain. Dan kemungkinannya akan terjadi tengah bulan depan paling cepet. Secara MSF masih akan di Pariaman sampe tanggal 15 nov besok ni…

    Jaa, matte kudasai ne… :mrgreen:

  19. andyan said

    loh loh, saya malah lupa klo anda di pariaman? *apa nggak tau?*
    tapi nggak papa kan, sehat2 aja kan?

  20. Takodok! said

    Saya sudah ngungsi sih waktu itu kak, tp memang sempat stress tidak bisa menghubungi teman-teman di Pariaman selama satu minggu awal.

    Sekolah tempat ngajar gimana?

    Dan bener, daerah ini tidak akan sama lagi. Sedih juga melihat tempat-tempat yg biasa dikunjungi tidak ada lagi. Padahal beberapa bulan terakhir banyak event budaya digelar dan tidak semua bisa dilihat. Entah tahun depan masih ada atau tidak…

  21. Snowie said

    :: andyan

    As you see, setelah kejadian gempa, saya sudah bisa OL dan blogwalking lagi, It means I’m alright. :mrgreen:
    ANW, thank you. :)

    ___________

    :: Takodok!

    Alhamdulillah, sekolah tempat ngajar, lumayan baik. Cuma sedikit aja retakannya. Masih bisa dipakai sih. Walau ada beberapa bagian sekarang sedang dalam perbaikan. :)

    Dan bener, daerah ini tidak akan sama lagi. Sedih juga melihat tempat-tempat yg biasa dikunjungi tidak ada lagi. Padahal beberapa bulan terakhir banyak event budaya digelar dan tidak semua bisa dilihat. Entah tahun depan masih ada atau tidak…

    Idem.
    Tapi,ada hal lain yang tak kalah penting, yang juga sedang saya khawatirkan. But… I just can’t say. :P

  22. jensen99 said

    Mungkin saya salah tanggal, tapi rasanya saya melihatmu onlen (komen?) ntah dimana pas pada hari H gempa, karena itu saya gak ikutan tanya kabar dan berani meyakinkan lambrtz (via Y!M) kalo snowie baik2 saja. (Meskipun tetep minta Lumiere kirim apdet sih).

    BTW, murid2mu masih lengkap?

  23. Triunt said

    Turut berduka ya..
    semoga padang cepat pulih, fisik maupun mental.

    bisanya kota yang habis ada bencana besar, tatakotanya makin diatur.

  24. Snowie said

    :: jensen99

    Bukan. Mas jensen bukan salah tanggal. Memang benar sesaat sebelum gempa, saya sempat jawab komen di salah satu tulisan di blog saya, bahkan niat mo blogwalking :P
    Dan sebelumnya juga, sempet update Fesbuk via HP. :?
    ….
    Seandainya saya gak selamat, mungkin itu update terakhir… Kyaaaaaa…. >o<
    /malah merinding sendiri.

    BTW, alhamdulillah, mereka masih lengkap, dan tak kurang apapun. ;)
    Bahkan ada tambahan murid baru. :mrgreen:
    __________________

    :: Triunt

    Iya, makasih. ^^
    Sekarang sudah masuk tahap recovery, dan sudah banyak perbincangan mengenai tata kota yang baru. ‘Sayangnya’ kerusakan tidak menyeluruh, jadi rehabilitasi tata kota juga gak bakal terjadi di semua tempat. Beberapa lokasi, tidak akan mengalami perubahan. ^^;;;

  25. Akhir kata, bagi yang berkenan, saya mohon doanya agar kami, masyarakat di daerah Gempa, cepat kembali pulih kehidupannya, atau mungkin bisa bangkit dan hidup dengan lebih baik lagi kedepannya..

    Semoga masyarakat di daerah gempa cepat kembali pulih kehidupannya…

    Sehingga tidak perlu lagi, setiap jalan keluar, kejalan-jalan utama, melihat orang-orang asing dari berbagai daerah se Indonesia dan negara se Dunia berseliweran memenuhi jalan-jalan dengan mobil-mobil ber”merek” di kota kecil kami yang damai. You know, somehow, it’s rather depressing to see so much “branded car”, Ambulance, Fire Fighting Car with their sirine and some helicopter flaying around above us with a noisy sound. x(

    Sangat setuju dengan poin yang ini, setelah gempa dan tsunami di Aceh tempo hari dulu, apa yang digambarkan, sangat kentara sekali di Aceh, dengan dalih pemulihan dan perbaikan, dana masuk dan mengalir sangat2 banyak sekali ke Aceh, bukan maksud saya tidak setuju dengan semua bantuan itu, tapi kalau semua itu pada akhirnya hanya menjadikan kami rakyat Aceh malas, hanya bermentalkan tukang nunggu bantuan, labih baik simpan saja dulu semua itu.

    Memang tidak semuanya salah, tapi kalau terlalu lama dimanja, tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat masyarakat yang ditimpa musibah akan cenderung malas, dan serba money oriented, pengalaman saya, dulu setiap ada pelatihan untuk rehabilitasi dan rekontruksi, selalu ada uang saku untuk peserta, kalau hal ini tidak batasi, lama kelamaan orang sudah tidak mau hadir kalau ada pelatihan, kecuali dapat bayaran (uang saku).

    Ah iya, kemaren waktu saya ikut tim sosialisasi ttg ETWS ke Sabang, peserta tanya, apa kegiatan ini ada uang sakunya, yaa meski dengan gaya bahasa yang sedikit halus, alasannya, untuk ikut acara ini, peserta harus meninggalkan aktivitasnya dalam hari itu, sehingga dikhawatirkan asap dapur mereka tidak berkepul.

    Padahal kalau mau jujur, semua itu juga buat mereka, ilmu2 yang diberikan itu semua untuk mereka dan untuk generasi mereka yang akan datang, tapi apa?

    Makin hari, saya lihat, gejala ini semakin memprihatinkan, semua dinilai dengan uang uang dan uang, semangat untuk belajar dari pengalaman, semangat untuk membantu orang tanpa pamrih sudah luntur, kalau tidak mau dibilang hilang.

    semoga semua sangkaan saya ini tidak ada benarnya.

    Ayo saudaraku di Sumbar, tetap semangat dan terus bangkit, karena saudaraku semua tidak sendiri.
    *maaf kalau sedikti emosi*

  26. bennlucky7 said

    Turut berduka buat padang..mudah”an bisa jadi pembelajaran buat pemerintah untuk dapat cepat menanggulangi keadaan seperti ini di waktu yang akan datang..

  27. Snowie said

    :: Mr. El-Adani

    Amin. Makasi ya. ^^

    … tapi kalau terlalu lama dimanja, tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat masyarakat yang ditimpa musibah akan cenderung malas, dan serba money oriented

    Itu juga yang dibilang oleh salah satu relawan asing saat kami melewati salah satu wilayah korban gempa yang cukup parah kerusakannya. Sepanjang jalan kami melihat anak-anak dan orang tua berdiri di pinggir jalan sambil memegang kotak atau apaun yang bisa digunakan untuk menampung sumbangan dari orang-orang yang lewat.
    Dan kejadian ini, tidak hanya di Indonesia saja. Di negara lain yang juga sering mendapat bantuan sosial, juga memiliki mental yang kurang lebih sama. u_u

    semangat untuk membantu orang tanpa pamrih itu sudah luntur… semoga sangkaan saya ini tidak ada benarnya.

    Yah… ini yang agak disayangkan. Tapi, saya yakin masih banyak juga kok, teman-teman yang punya jiwa sosial yang tinggi. Bahkan rela menggunakan dana pribadinya untuk membantu orang lain tanpa mengharap imbalan sedikitpun. :)

    *maaf kalau sedikit emosi*

    ^_^
    Gak papa kok. Hal yang wajar kalau kita berbicara tentang ‘buruknya’ kondisi mental masyarakat yang kita cintai, kita jadi sedikit emosi. Jangankan anda, seorang teman asal korea, yang saat ini masih jadi sukarelawan di Aceh, waktu itu juga dengan ‘begitu ber-expresif’nya menceritakan betapa hatinya terluka melihat masyarakat kita tidak perduli dengan lingkingannya yang Indah. :P

    _________________

    :: bennlucky7

    Iya, terima kasih atas dukungannya. Semoga saja pemerintah Padang-Pariaman bisa dengan segera menyelesaikan masalah yang ada. Butuh waktu sih, karena beberapa pusat bisnis dan penerintahan, bangunannya rusak parah, tapi semoga mendapat solusi secepatnya. Amin.

  28. [...] Licence Pariaman – Pasca Gempa 7.6SR [...]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment