Orang Minang dan rahasia kecilnya
25 Aug 2010 23 Comments
in Language bin Bahasa Tags: aksara, Bahasa, Minang
Beberapa waktu yang lalu, ketika membahas tentang bahasa minang, saat itu saya berkata betapa sulitnya membaca tulisan dalam bahasa minang. Oleh karenanya, di kolom komentar ada yang menanyakan apakah bahasa minang itu memiliki aksara tersendiri, misalnya aksara seperti aksara jawa, atau aksara latin/roman seperti yang digunakan oleh tulisan ini.
Karena tidak siap dengan komentar seperti itu, dengan bingung saya menjelaskan bahwa kalimat “sulitnya membaca tulisan dalam bahasa minang” maksudnya adalah jika “spoken language” yang sering digunakan dalam bahasa minang itu di konversikan kedalam “written language” maka akan butuh beberapa waktu untuk mengerti makna kalimat-kalimatnya.
Jika kita mendengar kata “mga jo lai,” orang yang mengerti bahasa minang akan langsung memahami pernyataan tersebut. Tapi, bagi mereka yang kemampuan bahasa minangnya pas-pasan ditambah jarang membaca bahasa minang ditulis, saya yakin, kata yang saya tulis barusan baru dapat dimengerti dengan baik maknanya jika dieja beberapa kali terlebih dahulu. Well, setidaknya waktu itu saya begitu, walaupun untuk ungkapan yang berbeda terlebih jika tulisannya disingkat seperti itu.
Dan adakah yang bertanya, kenapa bisa begitu?
Ya, waktu itu, salah satu faktor yang menyulitkan saya dalam membaca “tulisan yang berbahasa minang itu” adalah karena saat itu kemampuan bahasa minang saya tidak sebaik saat ini walaupun saat itu saya merasa yakin bahwa saya bisa mengerti “spoken minang” dengan baik. Tapi, ternyata ada faktor yang lebih penting. Faktor utama yang sekaligus dapat menjawab pertanyaan
“apakah bahasa minang punya aksara?”
Menurut sumber yang saya baca di tulisan PNK, ada yang berpendapat, sampai saat tulisan ini dimuat, tidak ada tanda-tanda bahwa bahasa minang memiliki aksara khusus selain yang meminjam aksara untuk bahasa Indonesia. Bahasa minang adalah bahasa “spoken language.” Oleh karenanya, masih menurut sumber yang sama, bahasa minang itu adalah bahasa yang dipelajari melalu perolehan. Maksudnya, seseorang dapat mengerti bahasa minang cukup hanya melalui mendengarkan bahasa tersebut diucapkan.
Nah, disitu masalahnya, untuk bisa mengerti ungkapan tertulis, maka harus ada simbol yang mempresentasikan bunyi-bunyi tertentu. Seperti ketika saya mempelajari beberapa bahasa asing yang memiliki aksara yang berbeda dengan aksara roman.
Sebagai contoh, sebut saja bahasa Jerman yang memiliki simbol ß atau ö jika dikonfersikan ke aksara roman akan menjadi /ss/ dan /eu/.
Dalam tulisan korea ㅓ dan ㅗ dibaca /o/ dan /eo/
Dan untuk aksara bahasa jepang か dan ら dibaca /ka/ dan /ra/.
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa masing-masing aksara menyimbolkan bunyi-bunyi tertentu yang dihasilkan oleh organ “speech” kita, yang pada akhirnya bisa dibaca. Jika simbol dalam suatu bahasa berbeda dengan simbol bunyi yang dipakai oleh bahasa yang kita gunakan, kita tetap bisa membacanya dengan cara mengkonversikannya dengan simbol bahasa kita.
Kembali ke bahasa minang, karena bahasa minang tidak memiliki aksaranya sendiri, yang katanya dimungkinkan karena bahasa minang tidak diajarkan secara formal, maka kebanyakan “bahasa minang yang ditulis” adalah inisiatif dari para penuturnya secara personal. Bisa saja, kata “manga jo lai” yang saya tulis akan berubah menjadi “manga juo li” oleh penutur minang yang lain.
Karena itu tadi, para penulis tersebut secara pribadi menyimbolkan bunyi dalam ‘bahasa minang” dengan menggunakan aksara roman yang mereka anggap cocok untuk mewakili bunyi kata yang ingin mereka ungkapkan. Akibatnya kita dapat menemukan variasi tulisan untuk satu kata tertentu. Dan oleh karenanya, untuk mempermudah memahaminya, tidak ada cara lain, kita harus mengetahui dialek-dialek lokal dan variasi bunyi oleh penutur dalam pengucapan kata yang dimaksud.
Oh iya, satu hal lagi, karena dalam bahasa minang tidak ada aturan dalam pembentukan kata, maka bagi yang mereka yang ingin mempelajari atau mungkin menterjemahkan kata bahasa minang, maka satu hal yang diingat, tidak selalu kata yang berakhiran “o” dalam bahasa minang bisa langsung diubah menjadi kata yang berakhiran “a” dalam bahasa Indonesia begitu juga sebaliknya. Hasilnya akan sangat menggelikan.
Satu contoh joke yang populer diceritakan dalam penterjemahan kata bahasa minang yang salah (diambil dari tulisan PNK oleh pak Musril).
Seorang ibu yang baru datang dari Sumatra barat yang sedang berbelanja di pasar tradisional daerah luar Minang.
Ibu I : Bu, berapa lada sekilo?
Ibu II : Saya tidak menjual lada, bu.
Ibu I : Itu ladanya banyak sekali, kok ibu bilang tidak menjualnya?
Ibu II : Memang, saya tidak menjual lada, yang ibu maksud lada yang mana?
Ibu I : Itu yang di sebelah kanan ibu itu.
Ibu II : Kalau yang itu namanya cabe keriting, bu.
![]()
Note: Bahasa minangnya Cabe adalah Lado.
Bagaimana dengan bahasa daerah anda?
*Credit to pak Musril Zahari, penulis “Pengindonesiaan Nama Kampung” yang disebar kepada anggota milis alumni UNP untuk pencerahannya.



Aug 25, 2010 @ 09:06:02
@_@
Kalo di Bahasa Jawa, ada beberapa lafal ‘a’ yang dibaca ‘o’ (‘o’-nya mirip dengan ‘o’ dari kata ‘omong’), misal ‘rupa’ dibaca ‘rupo’, ‘saka’ (dari) dibaca ‘soko’, tapi kalau diberi imbuhan, dibacanya ‘a’, misalnya ‘rupamu’ ya ‘rupamu’. Ini agak membingungkan bagi orang yang baru belajar Bahasa Jawa, karena polanya agak ga jelas, dan saya pun sebagai praktisi yang sehari-hari ngomong begitu juga ga ngerti, pokoknya bisa aja.
Dulu pernah ada guru baru di SMU kami, dia orang Maluku kalau ga salah, baru belajar Bahasa Jawa sedikit, dan membaca nama salah satu teman ‘Madya’ menjadi ‘Modyo’, karena dia pikir di Bahasa Jawa ‘a’ dibacanya pasti ‘o’.
(harusnya ‘Madyo’)
Aug 25, 2010 @ 12:21:02
saya bukan orang minang
teman saya banyak yang orang minang dan saya senang dengerin mereka ngomong. baru tahu ternyata tulisan minang bisa beda ya ama pengucapannya.
Aug 25, 2010 @ 15:54:27
hoh cabe keriting bahasa minangnya lada, trus kalo lada yang rempah2 itu bahasa minangnya apa?
Aug 26, 2010 @ 11:48:54
kalau bahasa minangnya aku rindu kamu apa? *pertanyaan standar*
Aug 26, 2010 @ 11:53:07
Koreksi, itu “written language”, bukan “writen”.
Dobel “T”.
Aug 28, 2010 @ 13:18:23
Saya gak bisa ngomong fasih pake bahasa daerah. Apapun! Paling ngerti dikit2. #nasionalis
Aug 28, 2010 @ 23:05:46
:: lambrtz
Itu… yang @_@ maksudnya pusing ya? (masih sulit memahami emoticon yang ituh. =P )
Eh, susah juga ya… apa nggak ada tanda khusus untuk membedakannya ya? kalo gak salah, bahasa jawa khan punya tulisan khusus. Itu loh yang agak mirip tulisan india, yang melengkung kayak mie, sapa tau aja ditulisan jawa itu ada bedanya, cuma mungkin karena keterbatasan aksara roman yang di pake dalam bahasa Indonesia, makanya saat tulisan jawa tersebut dikonversikan ke roman jadi gak ada bedanya dalam bentuk tulisan…, mungkin gak bgt?
_________
:: matahari
Sebenernya dibilang beda enggak juga. Tapi, karena tidak ada aturan baku dalam penulisan kata berbahasa minang maka, pada komunikasi antar pribadi bentuk tulis, dalam mengungkapkan satu kata bisa berfariasi. Yang jadi masalah, kalo lawan bicara kita ternyata nggak “biasa” dengan ungkapan yang kita pakai. Disitu letak sedikit kesulitannya.
_________
:: tamaGO
Hehehe, maaf tama, saya lupa menambahkan note untuk kata lada maksud si ibuk minang.
Ehem, begini. Karena bahkan masyarakat minang itu sendiri suka menterjemahkan kata dalam bahasa minang kebahasa Indonesia dengan maksud agar pihak non-paham bahasa minang mengerti maksudnya, maka entah bagaimana awalnya, banyak masyarakat minang yang —sepertinya kesulitan dengan kaidah cara menterjemah ke bahasa Indonesia yang benar, langsung saja merubah bunyi “o” dibelakang kata bahasa minang ke bunyi “a” ke bahasa Indonesia yang dimaksud.
Karena dalam bahasa minang, cabe means lado, nah dengan alasan yang sudah saya jelaskan di atas, si ibuk dengan percaya dirinya, dengan maksud berbahasa Indonesia, langsung dengan semena-mena mengganti huruf “o” dibelakang kata “lado” dengan “a” yang menghasilkan kata “lada”.
Sementara, dalam bahasa Indonesia, seperti yang kita ketahui bersama, lada itu ya semacam merica. Itu kenapa percakapan ibuk-ibuk di atas nggak nyambung.
Lado katiak. ya, setidaknya begitu tulisannya dari versi saya
_________
:: Zeph
Seperti dibanyak pola bahasa percakapan (inget kan kalo diatas sana saya bilang bahasa minang itu lebih ke bahasa verbal), ada satu/beberapa komponen dari pola S + P + O dihilangkan.
Untuk memperjelas makna, biasanya malah ditambah kata-kata yang lain. So, polanya tergantung suasana percakapan.
Kalau sebelumnya tidak ada konteks, maka kita harus bikin konteks dulu.
Misalnya, seperti umumnya perasaan kangen itu ada karena lama gak ketemu, maka kalimat bahasa minang nya akan berupa,
“lah lamo wak ndak basobok yo, taragak a…”
TransLit: dah lama kita nggak ketemu ya, kangen deh
so, kalimat “aku rindu kamu” bisa cukup jadi “taragak” saja asal dua belah pihak tau konteksnya.
iya.
_________
:: Asop
Ah, ya Saya memang belakangan ini suka masalah dengan “spelling”. Makin lama makin parah.
Thanks ya. Saya Update deh. ^^
_________
:: jensen99
ya gak, papa… tapi siapa tahu aja ketemu sama orang minang yang baru ngerantau pas lagi jalan-jalan di jawa or mungkin papua, dan kebetulan bahasa Indonesianya gak begitu lancar, trus dia nanya ke bang Jesen soal ‘lada’ khan nanti bang Jensen bisa mengerti maksudnya.
Aug 29, 2010 @ 00:26:15
Mmm…kayanya tetep ga ada bedanya sih. Antara ‘a’ yang dibaca ‘a’ dan ‘a’ yang dibaca ‘o’ tulisannya sama. Di sisi lain, ‘o’ seperti dalam kata ‘bola’ dan ‘o’ dalam kata ‘omong’ pun tulisannya sama. Dan seperti saya tulis sebelumnya, pola grammarnya ndak jelas, pokoknya native seperti kami bisa aja. Bingung ga?
Begitu
Aug 29, 2010 @ 00:43:45
Contoh buat ‘o’ saya ganti: ‘bola’ sama ‘bohong’, ‘bo’-nya IMO sama.
Aug 29, 2010 @ 10:09:40
@ empu blog
Maksudnya yang kayak [ gini ]? Hanacaraka itu namanya. Di bahasa Sunda juga ada, namanya huruf Ngalagena, ini screenshot-nya [ klik ]. Tapi setahu saya, hanya orang-orang akademis tingkat tinggi dan mereka yang benar-benar mempunyai kecintaann besar saja yang masih mempelajari dan menguasai huruf-huruf kuno seperti ini.
Taruih, apo rahasio ketek rang Minang tu, Uni? Ambo baco tulisan Uni nan ciek iko kok tatap indak jaleh buek ambo? Jikok “pronunsiasi” nan uni mukasuik, kasado baso punyo persoalan sarupo.
*pe-de pakai bahasa minang belepotan*
.
.
.
@ Kanjeng Raden Mas Mar a.k.a Raden Tumenggung Lambrtz Ngayogyokarto
Ya itu dia, sistem bahasa memang arbitrer, makanya tidak sedikit penutur asli bahasa-bahasa sulit di dunia, seperti bahasa-bahasa non-Indo-Eropa, menyarankan, satu-satunya jalan agar bisa menguasai bahasa-bahasa demikian adalah “baca, baca, baca, dan baca setiap hari, bahkan hingga tanda-tanda di jalan raya dan bungkus makanan ringan”. Intinya familiarisasi, sehingga bisa seperti kita-kita, yang mengenal (baik) bahasa daerah sendiri meski tidak paham kenapa kata ini harus dibaca begitu dan kata itu harus dibaca begini, dsb, dst, dllaj.
Aug 29, 2010 @ 22:23:47
:: lambrtz
Iya.
Tapi, saya ngerti bagian “pokoknya native seperti kami bisa aja”.
Karena, saat menjelaskan pola bahasa minangpun, waktu saya tanya ke bunda, beliau akhirnya berkata, “kalau orang minang, tau aja tuh maksudnya.”
Yah, seperti saat saya menjelaskan pertanyaan Zeph di atas.
______________
:: Aris
Nama macam apa pula itu. FPI?! ><
Bahwa,ternyata rang minang itu labiah ka sastra lisan, aleh karenanya, kami tidak punya banyak sejarah tertulis, sehingga huruf-huruf kami tertinggal begitu saja, terlupakan. (ini dulu yg bisa saya katakan untuk saat ini).
Wah, saya yang malah heran, makin bagus aja bahasa minangnya.
*malah saya yang gak pede*
Aug 30, 2010 @ 17:22:12
Kalau bahasa Aceh gimana yaa??? Sepertinya saya harus belajar banyak lagi ini, bagaimana saya ini
Aug 31, 2010 @ 16:55:03
Kalau bahasa melayu belitung, walaupun masuk rumpun melayu dan dibilang mirip dengan bahasa melayu di riau kepulauan dan malaysia, tetap saja bahasa melayu belitung punya ciri khas. tentu saja selain ciri khas kosa kata tertentu.
bahasa melayu belitung memang banyak memakai kata berakhiran “e” pepet seperti hal umumnya bahasa melayu lain. e.g. apa -> ape, siapa -> siape.
Tapi ada sisi unik lain untuk kata-kata tertentu yang beda dengan rumpun melayu umum, yaitu akhiran kata yang di sentak (walau kadang digunakan huruf k untuk ekspresi tulisan, tapi kadang digunakan tanda ‘ sebagai akhir kata). contoh: lama = lama’ (bukan lame), ketawa -> ketawa’ (bukan ketawe).
Makanya, waktu nonton laskar pelangi, orang belitung banyak yang tertawa mendengar dialog rasa malaysia antar aktornya, hanya pemain anak-anaknya saja yang lafalnya benar (maklumlah, orang lokal).
Mengenai bahasa tulisan sih nggak ada ketentuan sampai sekarang. malah beberapa temanku tetap pakai bahasa Indonesia untuk email, hanya kosa katanya saja yang kadang memakai kata2 khas belitung.
Sep 02, 2010 @ 10:28:23
:: Mr. El-Adani
Oh, jadi dirimu itu orang Aceh?
*mikir*
___________
:: AnDo
Setelah melakukan sedikit ‘riset’ *halah* sepertinya, hmmm… bagaimana ya mengatakannya…. jadinya, memang seperti bahasa minang yang dituliskan dengan huruf latin. Untuk susunan kalimat, tidak bisa menggunakan susunan bahasa Indonesia seutuhnya. Hm, begitulah kira-kira.
Sedikit bocoran, dari buku yang saya baca beberapa hari belakangan tentang sejarah Minangkabau, ada tulisan yang dibuat sekitar tahun 1926 dalam bahasa minang, lalu begitu ‘diterjemahkan’ ke bahasa Indonesia —-yang katanya demi tujuan agar lebih mudah dimengerti orang yang tidak paham betul bahasa minang, entah kenapa sulit untuk mengerti makna kata-katanya. Nah, begitu memikirkan kata-kata tersebut ke dalam bahasa minang, baru dapat sedikit lebih dimengerti apa yang sedang dibicarakan.
Ah, kok rasanya ini sepertinya lebih menjurus ke bahasan terjemahan bahasa.
Sep 10, 2010 @ 09:29:40
Menone sekeluarga mengucapkan:
Selamat Hari RAYA IDUL FITRI ………………………….MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN……………. salam persahabatan
Sep 11, 2010 @ 08:26:31
Menarik banget!
hahaha)
Gue org batak tapi sulit kasih contoh tentang bhs batak (soalnya bhs bataknya terpatah2
Hemm jd penasaran tentang code switching, kayaknya menarik juga kalau dituliskan. Pengen tau, apakah di Sumbar byk juga yg melakukan code switching dan kebanyakan alasannya apa ya?
Sep 14, 2010 @ 21:41:17
Di Bali aksaranya juga Hanacaraka namanya dan masih diajarkan secara wajib. kalo aksara Sunda itu keknya pernah lihat di hadiah Milo deh
*mana ya dia*
*cari-cari*
@ Uni Snowie
Bahasa Jawa dan Bali hampir sama juga, tapi kalo uni main ke sini jangan bilang “gedang” ke dagang pisang, apalagi bilang “Kenyang” ke orang Bali, yang kedua ini bisa bahaya
Sep 15, 2010 @ 12:27:23
sepertinya yang dari Sunda sudah dibahas oleh pakarnya, kang Aris.
belajar bahasa ternyata tidak selalu menjemukan tapi juga menggelitik.
Sep 27, 2010 @ 12:21:35
:: MENONE
Maaf lahir bathin juga….
Salam persahabatan kembali. ^^
_________
:: Ceritaeka
code switching seperti apa yang dimaksud ya mbak? ^^
_________
:: Rukia
He? apa artinya itu di bahasa Bali?
Doh, mesti hati-hati ya kalo ke Bali, abis makan trus bilang…. “O…. kenyang nya…”
_________
:: Supriyadi
Benar, pada dasarnya semua hal itu menarik dipelajari asal dapet caranya.
Oct 22, 2010 @ 21:32:38
sama seperti bahasa tana orang ambon yah.. banyak bahasa tapi tidak mempunyai aksara
salam
Nov 03, 2011 @ 00:21:40
wah..pas sekali, saya juga orang minang
banyak kata-kata dalam bahasa minang yang tidak bisa diartikan ke bahasa indonesia dengan mudah, dan begitu pula sebaliknya
mungkin bahasa2 daerah yang lain begitu juga
ada koreksi dikit
di tulisan : Dalam tulisan korea ㅓ dan ㅗ dibaca /o/ dan /eo/
harusnya ㅓ dan ㅗ dibaca /eo/ dan /o/ *kebalik..hehe*
salam kenal, uni..
-ami-
Jan 15, 2012 @ 18:12:50
Halo, saya penutur asli bahasa Minang. Bahasa Minang punya aksara, saya pernah melihatnya di museum di Padang. Namun, harus diakui, bahasa Melayu, jadu tidak hanya bahasa Minang, bukanlah bahasa tulis, namun bahasa tutur. Sehingga tidak heran masalah aksara, tatacara penulisan terabaikan. Contoh yang diberikan di atas tadi “manga jo lai” yang dikatakan ditulis menjadi “manga juo li” itu bukan perubahan dari tutur ke tulisan. Namun, saya curiga bahwa antara penutur dan penulis bukanlah orang yang sama dalam kasus contoh itu. Soalnya, bahasa Minang itu sendiri dituturkan dengan dialek yang berbeda-beda antar kampung atau antar nagari (kumpulan kampung). Jangan heran kalau anda ke kota Padang anda bisa saja tidak mengerti apa yang sedang dituturkan oleh orang Kalumbuk atau Kuranki walau itu bahasa Minang juga. Saya menduga itu karena yang standar itu adalah “juo” dengan variasi menjadi “jo” ketika dituturkan di dialek tertentu; “lai” ke “li” juga demikian. Satu ketika dulu, saya punya teman asal Jakarta kuliah di Padang. Enam bulan di Padang sudah mengerti bahasa Minang standar. Namun, ketika ia mendengarkan duo orang pedagang dari sebuah kampung (Kalumbuk) di atas, ia bertanya kepada saya apakah ia sedang mendengar bahasa Minang atau bukan karena ia sama-sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang tadi.
Namun, menurut saya, jika anda paham bahasa Indonesia, maka anda tidak butuh waktu yang lama jika anda tinggal di Padang atau kota-kota lain di Sumatera Barat untuk paham dengan bahasa Minang–dengan catatan itu yang standar, bebas dialek kampung.
Jan 25, 2012 @ 22:16:39
:: Rahmat
Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih atas komennya.
Jika anda memperhatikan komen-komen di atas anda, maka dapat ditemukan kenyataan bahwa banyak bahasa daerah di Indonesia yang bahasa tulisnya tidak berkembang.
Nah karena itu, dua penutur berbeda, berkomunikasi via tulisan jika tidak memperhatikan background dari lawan bicara maka ada kendala dalam memahami maksud dari kalimat yang disampaikan yang sebenarnya berlaku umum untuk semua jenis komunikasi. Ya kebetulan aja yang dikembangkan ditulisan post di atas bahasa minang.
jika anda tinggal di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu, dimanapun itu, secara alamiah sedikit banyak anda akan mulai dapat memahami bahasa yang dipakai di daerah itu.